Menyaksikan Orang Melahirkan itu Ajaib!

Saya pernah melahirkan. Dua kali. Tapi tentu saja tak bisa melihat anak saya keluar dari jalan lahirnya dong! Ketutupan perut buncit soalnya dan saya tentu lebih merasakan sakitnya kontraksi dan si bayi yang sudah tak sabar ingin melihat dunia.

Eh tapi Tuhan itu Maha Seru! Kemarin saya diberi kesempatan untuk melihat dengan mata kepala sendiri seorang bayi dilahirkan ke dunia ini! Ajaib!

Continue reading “Menyaksikan Orang Melahirkan itu Ajaib!”

Advertisements

Teknologi yang Memudahkan, dan Bukan yang Membodohkan

Terkadang saya iri dengan para wisatawan jaman now. Harus diakui, berpetualang di tempat baru atau melakukan perjalanan ke tempat asing di masa sekarang bisa jadi sangat mudah dengan adanya peta yang bisa diakses secara elektronik.

Continue reading “Teknologi yang Memudahkan, dan Bukan yang Membodohkan”

Komisi Etika Penelitian, Oh, Ribetnya!

nz212
from http://www.lab-initio.com/250dpi/nz212.jpg

Setelah setahun berjuang menulis proposal penelitian dan melalui proses Annual Review yang berdarah-darah oleh para pembimbing dan internal reviewer saya, akhirnya topik penelitian saya diterima bulan Agustus lalu. Yay!

Saya sudah tak sabar ingin segera melakukan penelitian lapangan. Separuh karena ingin segera masuk ke tahap berikutnya dari penelitian yaitu mengambil data. Separuh tentu karena ingin pulang kampung (sebenarnya ini alasan yang utama sih hahaha). Belum lagi karena topik saya adalah tentang praktik mengajar dan ‘mata kuliah’ ini hanya ditawarkan di semester ganjil (Agustus-Desember) di program studi sasaran penelitian saya, maka saya mau tak mau harus segera menjalani penelitian lapangan kalau tak mau kehilangan partisipan penelitian.  Continue reading “Komisi Etika Penelitian, Oh, Ribetnya!”

Wisuda: Perlu atau Tidak?

9511-034-033f
foto wisuda colongan 😀

              Ini curhat. Iya.

           Gara-gara dua minggu yang lalu kampus saya bikin acara wisuda sehari empat kali selama dua minggu (iya, seriusan, satu kali acara bisa ratusan orang yang wisuda), bikin saya dan Bee, sobat saya di program saya, berangan-angan soal wisuda kami 2 tahun lagi (amin!). Dari soal mau pakai baju apa di balik toga, isi acaranya kira-kira ngapain, dan berakhir dengan kendala ikut acara wisuda.
          Iya. Kendala. Kemungkinan saya nggak akan bisa ikut acara wisuda di kampus ungu ini. Kalau saya lulus Juni, saya nggak keburu ikut wisuda yang Juli, karena pasti saya harus revisi disertasi dulu. Tapi kalau mau ikut wisuda yang Desember, negara pasti tidak merestui pengeluaran saya selama di negeri ini selama beberapa bulan cuma untuk menunggu acara wisuda diadakan. Mau balik kampung dulu, lalu kembali ke sini untuk wisuda, anggarannya lumayan juga. Boro-boro mau ajak orangtua dan anak (dan mungkin pacar) untuk hadir, lha wong bayar tiket untuk diri sendiri aja harus berhitung sampai delapan digit.
           Jadi, perlu atau tidak ya hadir di acara wisuda? Lalu tradisi apa lagi yang terkait dengan wisuda yang perlu diikuti? Foto-foto studio dadakan? Syukuran makan-makan kelulusan dengan keluarga dan sahabat? (Oh, di kasus saya mungkin juga tradisi beberapa fakultas untuk memasang spanduk di kampus tempat saya kerja yang menyatakan selamat bahwa si anu, dosen di fakultas anu, sudah lulus S3 di universitas anu. Semacam promosi ke segala penjuru mata angin bahwa staf pengajar di universitas kami itu sungguh hueeeebat karena berhasil menyelesaikan program S3. Apalagi kalau universitas tempat studinya masuk 50 besar dunia kayak universitas saya ini.). Ya, saya paham dan mafhum sih kalau kampus tempat saya kerja ini memang butuh promosi macam begini. Namanya juga universitas swasta yang musti bersaing dalam mencari mahasiswa.