Manchester

Annual Review dan Menangis

del-blogSaya rasa kamu akan setuju bahwa studi S3 itu tidak mudah. Bahkan sejak dari tahap paling awal mencari calon pembimbing, mendaftar, diterima, dan lalu menjalaninya. Semua yang pernah atau sedang menjalani studi S3, saya rasa pasti punya masa-masa yang membuat harus meneteskan air mata.

Selama hampir setahun sekolah di sini, saya sudah beberapa kali meneteskan airmata. Padahal hasil tahun pertama saya ‘hanya’ berupa proposal penelitian, sementara saya tahu dari beberapa teman bahwa ada yang ujian tahun pertamanya (atau ujian untuk dinyatakan sebagai kandidat PhD) bisa berupa beberapa ujian lisan, ujian tertulis, atau dokumen tergantung dari universitasnya, dan bahkan tiap departemen punya aturan masing-masing. Lebih jauh lagi, kadang-kadang tiap pembimbing dan penguji punya mau masing-masing.

(more…)

It’s All About Perspective

samsung-duo_-pocket-net_

Foto dari TujuHarga.com

Seperti beginilah ilustrasi telepon seluler yang sedang saya pakai saat ini. Tentu kondisinya jauh lebih mengenaskan daripada yang ada di tangan mas (atau mbak?) ini. Goresan di sana sini, casing sebelah kanan entah kenapa sudah terpotong dan chargernya sudah diselotip karena longgar. Tapi masih fungsional dan masih kuat menjalankan operasi Android yang sederhana.

Seorang teman di sini (yang baru saya kenal kemarin) mengasihani saya dan situasi telepon seluler saya yang jadi ‘batu bata’ gara-gara masalah bootloop dan berbaik hati meminjamkan gawai ini karena kebetulan beliau tidak pakai (karena ini dipakai sebagai telepon cadangan) dan ukuran slot kartu sim-nya mikro, pas dengan kartu sim penyedia layanan seluler di kampung yang harus saya pertahankan untuk berbagai urusan (sms dari bank di kampung, akses recovery beberapa akun internet, dan tentu saja berkomunikasi dengan Sayang DiSayang — dan beberapa grup —  lewat nomor WhatsApp saya yang dari kampung). (more…)

The Right Person for the Best of You

Jadi minggu lalu, setelah menyelesaikan sesi latihan band untuk manggung di Indonesian Cultural Festival keesokan harinya, saya dan dua orang teman iseng-iseng ngejam lagunya Glenn Fredly, Kisah Romantis. Tanpa rencana, cuma berbekal feeling dan maunya mencari hiburan setelah capek persiapan kegiatan. Bagus, yang memainkan gitar melodi, memutuskan untuk memvideokan sesi jamming kami. Dan hasilnya seperti ini:

Yang namanya jamming ya ini sama sekali tanpa latihan, spontan mengalir begitu saja, memakai intuisi.

Yang menarik, keesokan harinya Bagus menyatakan kepada saya dan Hugo, yang memainkan gitar latar, bahwa ia tak menyangka bahwa ia bisa bermain seperti ini. Katanya, ia sampai lima kali memutar video ini, karena ia tak percaya bahwa ia bisa memainkan gitar dengan irama yang paling nge-soul. Ada beberapa teman yang mengamini bahwa ini adalah kolaborasi yang enak dinikmati.

Err, bukan. Saya bukan bermaksud menyombong. Saya tahu kok ada beberapa bagian di mana nyanyi saya fals. Tapi memang rasanya enak sekali malam itu menyanyi dan berimprovisasi bersama mereka. Selama jamming, kami cuma cukup berkomunikasi dengan tangga lagu, tatapan mata, atau dengan penanda (cue) kata yang minimal, untuk tahu di mana kami sebaiknya masuk, berimprovisasi atau mengakhiri. Sungguh nyaman bermusik bersama mereka.

Tampaknya masing-masing dari kami bisa saling memahami dengan tepat, sehingga bisa mengeluarkan kemampuan bermusik kami yang terbaik. Orang-orang yang tepat, yang bisa mengeluarkan sisi saya yang terbaik.

Dalam setiap tahap hidup, saya selalu menemukan orang-orang yang tepat yang membantu saya menjadi yang terbaik. Pembimbing saya yang sekarang misalnya. Guru Bahasa Inggris saya ketika kelas 3 SMA. Mahasiswa skripsi saya 2 angkatan yang lalu. Kekasih saya. Bersama-sama atau pun secara terpisah, mereka berkontribusi dalam diri saya yang sekarang ini.

Kalau kamu, siapa orang-orang yang membantumu mengeluarkan sisi terbaikmu?

#DailyGratitude Menonton Konser itu Bikin Norak Bahagia

img_20170315_211339_652.jpgTerserah mau dibilang sombong, tapi saya bersyukur bahwa saya akan menonton 4 konser musik sepanjang April-Juli ini. Diawali dengan Craig David yang musiknya serba romantis elektropop dan setelah bertahun-tahun kok enaknya masih tetap sama sejak saya mendengar lagunya Don’t Love You No More di tahun 2005. Lalu Dream Theater yang tahun ini merayakan 25 tahun berdirinya band mereka. Saya harus berterima kasih pada Yierick, gitaris band saya di Ames dulu yang memperkenalkan saya pada band ini. Dan saya tak pernah kehilangan selera pada John Mayer, sehingga memutuskan untuk menonton dia lagi setelah 14 tahun berlalu sejak dia belum siapa-siapa. Diakhiri dengan Coldplay, yang saya nggak familiar dengan lagu-lagunya, kecuali lagu-lagu yang seringkali dinyanyikan Daniel Kristiyanto di sesi-sesi karaoke kami. Tapi kok ya setelah melihat pertunjukan mereka di youtube pas  sesi jeda Super Bowl 50 di tahun 2015, ternyata musik mereka enak juga (plus tentu saja bisa bergaya menonton konsernya yang berpotensi akan bikin banyak pihak ngiri hahaha).

(more…)