Ph.D.

Cara Mendapatkan Pembimbing S3 di Luar Negeri

Mbak Nen, gimana sih caranya bisa studi S3 di luar negeri?

How do I choose my supervisor

Not. Hahaha.

Saya seringkali mendapat pertanyaan macam begini. Di beberapa forum, saya juga pernah membagikan pengalaman dan tips untuk ini. Kalau di-google, ada banyak posting dan tautan tentang ini. Tapi tidak ada salahnya untuk saya membagikan pengalaman dan tips saya dalam hal ini, terutama dalam salah satu langkah yang cukup bikin repot dan susah dalam proses studi S3 di luar negeri yaitu mendapatkan pembimbing S3.  (more…)

Advertisements

Informasi = Aksi?

Ini oleh-oleh dari kunjungan di Cirebon kapan hari:

dilarang memancing

Indonesia banget gak sih??? Cuma di Indonesia yang begini ini. Sudah jelas-jelas dilarang, masih melakukan juga. Sudah dikasih informasi gede-gede, panjang lebar luas dalam, masih bertanya juga atau melakukan hal-hal yang tidak sesuai informasi.

Kayak mahasiswa saya aja, sudah saya kasih petunjuk dan informasi yang serba mendetil di silabus sepanjang 8 halaman, masih saja menanyakan hal yang ‘bodoh’, macam “Bu, deadline untuk ngumpulin tugas x kapan?”. Ini pertanyaan yang masih agak biasa. Kalau pertanyaan macam, “Alamat email Ibu apa?”. Hadohhhhhh, jawaban saya standarlah. “Lihat silabus!!!!!!”.

Kali lain,saya dilapori oleh bosnya yacapaca bahwa banyak mahasiswa saya yang ‘kesasar di sistem’ atau membuat hal-hal yang aneh-aneh di system (macam membikin pertanyaan kuis di deskripsi kuis. Haloooo??? Namanya aja deskripsi kuis! Isinya ya penjelasan tentang kuis, bukannya pertanyaan kuis.

Makanya, topik proposal penelitian saya untuk melamar program Ph.D. adalah ‘apa ada ya, pengaruh budaya tulis vs. oral dalam memilih suatu aksi dalam program/situs web?’ Gimana? Ada komentar? Atau ide? Saya mau nulis segera supaya tahun depan bisa mulai kuliah Ph.D. Kayaknya seru juga ya, kalau nama saya ada tambahan Ph.D. di belakang. Tapi secara bercanda beberapa teman yang sekarang sedang menjalani program Ph.D. bilang bahwa Ph.D. itu artinya bukan Doctor of Philosophy tapi Permanent Head Damage, karena memang studi Ph.D. itu benar-benar menguras energi, terutama energi otak. Salah-salah bisa kena Permanent Head Damage alias kerusakan kepala permanen. Ada-ada aja!

Herannya, udah dibilangin begitu, kok saya masih kekeuh pengin kuliah lagi ya?

Namanya juga mimpi, musti teteup kekeuh dikejar dong ya…