Menyaksikan Orang Melahirkan itu Ajaib!

Saya pernah melahirkan. Dua kali. Tapi tentu saja tak bisa melihat anak saya keluar dari jalan lahirnya dong! Ketutupan perut buncit soalnya dan saya tentu lebih merasakan sakitnya kontraksi dan si bayi yang sudah tak sabar ingin melihat dunia.

Eh tapi Tuhan itu Maha Seru! Kemarin saya diberi kesempatan untuk melihat dengan mata kepala sendiri seorang bayi dilahirkan ke dunia ini! Ajaib!

Jadi ceritanya begini. Selasa pagi saya ditelpon seorang teman Indonesia di sini, ditanya apakah sedang sibuk. Ya, kapan sih saya nggak (berlagak) sibuk biar dikira anak sekolah yang serius #halah

Karena tidak sibuk amat dan tidak punya urusan keluarga seperti beberapa teman di sini, ya saya jawab tidak sibuk. Ternyata saya diminta bantuan untuk menemani proses melahirkan seorang kenalan lain yang tinggalnya di belakang kompleks flat saya. Ini kelahiran anaknya yang pertama.

Ceritanya si ibu muda ini sedang kuliah di sini dan suaminya belum dapat visa sehingga tidak bisa menyusul. Untung ia tinggal serumah dengan beberapa teman Indonesia yang bersedia membantu selama proses kehamilan. Dua orang teman serumah ini masih lajang, tapi mereka punya pekerjaan dan sedang kuliah, sehingga tak bisa penuh waktu berjaga. Sementara teman yang satu lagi sudah menikah, mengikuti suami yang sedang kuliah di sini, tapi belum punya anak, jadi bisa menemani si ibu hamil penuh waktu.

Celakanya, mereka bertiga belum punya pengalaman melahirkan, sehingga gugup dan cemas menghadapi proses melahirkan si ibu. Belum lagi tentu saja tak mungkin hanya satu orang yang berjaga penuh waktu tanpa ada yang menggantikan. Teman yang Selasa pagi itu menelpon bisa membantu menjaga selama si ibu hamil di ruang tunggu pra-kelahiran dan pasca kelahiran, tapi karena punya anak balita dan bayi, sehingga harus kemana-mana mengajak dua krucil ini. Sementara di ruang bersalin tentu tak boleh ada anak-anak kecil yang masuk.

Walhasil, sayalah yang dimintai tolong karena profile saya yang paling tepat. Tetangga. Mahasiswa S3 yang tidak punya kelas yang harus dihadiri dan penelitian bukan di lab yang harus dipantau berjam-jam. Pernah melahirkan karena status ibu-ibu, tapi tidak punya tanggungan keluarga yang harus diurus di sini. Pas kan?

Seharian saya sudah siap kalau sewaktu-waktu diminta ke rumah sakit, tapi panggilan baru tiba pukul 11 malam. Karena masih bukaan 2, saya santai saja jalan kaki ke rumah sakit yang jaraknya sekitar 15 menit jalan kaki dari flat saya. Belum sempat makan malam juga, tapi saya tetapkan untuk ke rumah sakit saja, karena saya tak ada selera makan. Biasa, saya tengah stress memikirkan ujian tahunan yang tiba sebulan lagi sehingga tak nafsu makan.

Sampai di rumah sakit, saya langsung ke lantai dua di maternity triage alias ruang tindakan kehamilan. Tapi pintu masuk ke ruangan itu terkunci dan hanya bisa dibuka dari dalam. Mau telpon si teman yang berjaga di dalam, sinyal di lantai dua betul-betul busuk. Untungnya ada pasien yang keluar sehingga saya bisa menyelusup masuk (haha!) Setelah tanya-tanya ke perawat, ternyata si ibu hamil sedang di exam room.

Ketika masuk ruangan, dua teman yang berjaga langsung kelihatan lega. Kata salah satunya, mereka gugup karena tidak tahu harus bagaimana menghadapi si ibu yang kesakitan tiap kontraksi, dan tidak tahu harus memberi nasehat dan saran bagaimana supaya kontraksi lebih tertahankan. Ya maklum, belum pernah melahirkan kan ya?

Saya cuma bercanda-canda saja dengan mereka, dan cerita-cerita ringan yang lucu-lucu supaya tidak tegang. Si ibu hamil juga ikut senyum-senyum walau tiap sepuluh menit tentu mengaduh-aduh kesakitan dan meminta salah satu dari kami untuk memijat-mijat pinggulnya. Saya cuma punya tips sedikit saja walaupun pernah dua kali melahirkan. Lagipula proses melahirkan dua anak saya relatif lebih mudah daripada si ibu hamil ini. Si ibu hamil ini sudah dari siang jam 11 pecah ketuban dan kesakitan, sementara jam 11 malam itu masih juga belum lewat dari bukaan 2. Lha dulu saya melahirkan si sulung jam 8 pagi setelah cuma kesakitan kurang lebih 3 jam walaupun pecah ketuban pagi hari sehari sebelumnya. Sementara si bungsu lebih ekspres lagi, pecah ketuban jam 3 pagi, kesakitan mulai jam 5.15, melahirkan jam 6.10.

Tips yang pertama, menerima bahwa kesakitan ini bagian dari proses melahirkan, sehingga tidak mengeluh apalagi menyalahkan orang lain (suami sih biasanya yang kena) kalau kesakitan. Wajarlah orang melahirkan itu sakit. Kan sudah tiap bulan perempuan dilatih merasakan sakit melalui menstruasi. Rasa sakitnya serupa walaupun kadarnya tentu lebih besar daripada menstruasi.

Tips yang kedua, menyadari bahwa melahirkan normal adalah pengalaman yang langka dan istimewa! Nggak semua orang mengalami melahirkan, dan kalau pun diberi kesempatan, rata-rata ibu jaman sekarang paling melahirkan dua kali. Jadi, mari nikmati saja prosesnya, termasuk proses kesakitan tiap kali kontraksi.

Tips yang ketiga, istighfar (atau kalau yang Katholik bisa doa pendek Salam Maria, atau yang Budha/Hindu bisa membaca doa-doa mantra) secara dengan ritme teratur dengan napas. Ini istilahnya mengelola rasa sakit lewat mengatur napas ketika kontraksi, sekaligus mengalihkan fokus dari rasa sakit ke doa, dan memanjatkan doa kepada Yang Maha Kuasa. Dulu pas melahirkan anak kedua saya benar-benar berteriak-teriak histeria karena sakit luar biasa. Mungkin karena proses melahirkannya begitu cepat sehingga sakitnya berlipat-lipat daripada melahirkan anak pertama. Tapi lalu saya sadar, betapa berisiknya saya teriak-teriak dan terkesan seperti mengeluh teramat sangat. Akhirnya saya memutuskan untuk istighfar dan alhamdulillah saya jadi jauh lebih tenang dan bisa mengelola rasa sakit.

Tips yang keempat, ajak omong janin yang masih di dalam perut. Ceritakan betapa ibu dan ayahnya serta keluarga senang sekali karena akan segera bertemu dengan dia. Ceritakan tentang cuaca dan situasi di dunia saat ini (saya cerita soal betapa beruntungnya si janin akan lahir di musim panas di mana udara hangat dan alam cantik dengan bunga bermekaran). Selain bayinya merespon dengan detak jantung yang  lebih teratur, si ibu juga turut senang juga lho.

Syukurlah, setelah saya melakukan tips-tips ini, si ibu hamil jauh lebih tenang dan bisa mengelola rasa sakitnya.

stock-photo-woman-pregnant-checking-fetal-heart-beat-by-fetal-monitoring-expectant-mother-with-midwife-1037230828
Mesin monitor detak jantung bayinya mirip seperti ini. Itu kertas grafik yang menunjukkan tiap kali kontraksi si ibu dan lonjakan detak jantung bayi tiap kali kontraksi. Foto dari shutterstock.

Saya tidak tahu jam berapa si ibu hamil masuk ke exam room dari ruang pra-kelahiran. Si ibu ini dimasukkan ke ruang exam room karena ada flek darah di cairan ketuban yang pecah, sehingga bidan dan dokter perlu memonitornya. Ruang exam room berukuran 2×2 meter yang berisi mesin monitor detak jantung bayi (cardiotocograph/CTG) yang disambungkan dengan perut si ibu. Selain tempat tidur si ibu, ada 2 kursi untuk penunggu dan beberapa laci entah berisi apa. Ada pula wastafel, lengkap dengan sabun, antiseptik, tisu, sarung tangan, karena SOP di rumah sakit ini adalah setiap tenaga medis wajib cuci tangan tiap kali akan memeriksa pasien. Tiap sejam sekali, ada bidan dan dokter yang memeriksa mesin monitor.

Sekitar jam 1 pagi, dokter memutuskan untuk memindahkan si ibu ke consultant-led labor room (ruang persalinan khusus ber-konsultan) setelah melihat grafik kontraksi si ibu tak juga menjadi reguler. Ruang persalinan ini besar sekali! Ukurannya kira-kira 4,5×5 meter. Ada berbagai mesin di dalamnya: selain mesin monitor detak jantung bayi sama seperti di exam room, ada pula mesin monitor detak jantung ibu, semacam konsol komputer untuk melaporkan perkembangan si ibu (tiap bidan/dokter yang masuk memeriksa akan mengetikkan laporan mereka dan memverifikasi laporan memakai sidik jari, canggih ya?), dan mesin inkubator bayi, selain tentu saja segala laci dan meja baik yang permanen maupun yang bisa digeser-geser. Saya dan seorang teman bisa duduk di sofa satu orang dan kursi goyang selama menjaga. Kamar mandi standar kaum difabel (yang berarti lebar 2 x 2 meter dan toilet yang lebih rendah dengan pegangan untuk membantu duduk) ada pula di kamar ini, tapi hanya untuk pasien.

Saya berhasil memfoto ruang persalinan di atas. Kayak beginilah kamarnya. Dan itu cuma untuk satu pasien saja ya! Tidak ramai-ramai dengan pasien yang lain. Oh iya, selain ini untuk satu pasien saja, si ibu hamil juga dijaga oleh satu bidan yang terus-menerus ada di dalam ruang ini khusus untuk si ibu. Bidan kami namanya Andressa dan dia sangat suportif dengan nada penuh dukungan untuk si ibu. Setiap beberapa puluh menit ada bidan dan dokter yang memeriksa perkembangan si ibu hamil, jadi laporan di konsol dari beberapa bidan/dokter. Oh iya, setiap dokter/bidan/orang yang mau masuk ke ruangan selalu ketok pintu dulu lho. Di setiap pintu ruangan ada peringatan: ketok pintu dulu! tolong hormati privacy saya.

Menjelang jam 2 pagi, Andressa memeriksa bukaan si ibu hamil. Ternyata sudah bukaan 5! Yes! Serempak saya dan teman yang menjaga girang karena ini berarti sudah tahap kedua dari proses persalinan. Setelah itu, para bidan dan dokter memutuskan untuk memecahkan ketuban dan memacu persalinan dengan menggunakan hormon oxytocin karena kondisi flek dan detak jantung si bayi yang naik turun. Hormon ini diberikan memakai infus dan dosisnya dinaikkan setiap jam sampai 3x.

Setelah itu, Andrea juga memberikan pilihan kepada si ibu hamil, apakah mau memakai obat penahan rasa sakit. Kalau tidak salah ada 4 pilihan: pakai gas (entonox) yang bisa disedot oleh si ibu hamil selama kontraksi, disuntik diamorphine, diberi dosis remifentanil (disambung ke mesin yang melepaskan obat jika si ibu memencet tombol), atau disuntik epidural di tulang punggung. Teman saya memilih remifentanil. Informasinya komplit banget, sampai ada brosur dan video yotubenya segala (untuk dilihat si ibu sebelum proses bersalin). Ini video resmi dari rumah sakit soal pilihan penahan rasa sakit.

Selain soal penahan rasa sakit, semua tindakan medis yang akan dilakukan selalu diberitahukan dan ditanyakan kepada si ibu, sehingga semua sama-sama paham dan nyaman. Eh ada juga lho petugas yang datang untuk bertanya apakah si ibu mau menyumbangkan tali pusar dan ari-ari atau tidak. Buat apa? Buat membantu pasien penderita kanker darah yang membutuhkan transplantasi sel punca (stem cells) yang salah satu sumbernya adalah ari-ari dan tali pusar. Mulia sekali bukan kalau sambil melahirkan bisa juga membantu penderita lain? Semua pemberian info dan tanya jawab ini dilakukan di sela-sela kontraksi, jadi kalau teman saya sedang kontraksi, ya berhenti dulu omong-omongnya, lalu nanti dilanjutkan kalau kontraksi reda. Musti sabaaaar sekali, karena si ibu kontraksinya sudah tiap 1-2 menit!

Dan akhirnya setelah beberapa jam kontraksi, sekitar jam 6 pagi mulailah tahap akhir persalinan. Selain Andressa, ada 2 orang bidan lagi yang mendampingi si ibu, satu orang di sebelah Andressa menghadap jalan lahir, satu orang siap-siap untuk mengambilkan apa-apa yang diperlukan selama persalinan. Saya di sebelah kanan si ibu, dengan tangan kiri saya yang jadi obyek genggaman dan remasan si ibu sambil mengejan (sakit? iya? tapi nggak apa-apa, lebih sakit si ibunya dong!) dan tangan kanan saya menahan supaya badan saya nggak ikut tertarik gaya genggam si ibu. Satu teman di kiri si ibu, memegang telepon genggam saya, siap mengabadikan kelahiran si janin untuk dokumentasi bagi ayahnya di tanah air. Tapi kami semua beramai-ramai menyemangati si ibu. Dari mulai teriakan ‘take a deep breath’ lalu ‘push’ (atau ‘ambil napas’ lalu ‘dorong’ dari saya karena saya takut si teman dalam situasi genting nggak ingat lagi bahasa Inggris!) sampai pujian-pujian ‘You’re doing excellent’ atau ‘bagus’ dan ‘wah sudah kelihatan rambut bayinya!’.

Lima belas menit terakhir persalinan, ketika si ibu sudah terlalu lama mengejan tapi si janin tak kunjung keluar, Andressa memutuskan memanggil dokter untuk turun tangan. Dokter memutuskan untuk ‘menghisap’ si janin dengan memakai mangkuk penghisap yang ditempelkan di kepala janin (namanya ventouse). Tentu saja sebelumnya bidan sudah berusaha dengan memotong jalan lahir (membuat potongan dari vagina ke anus) agar janin lebih leluasa keluar, tapi masih belum bisa juga. Akhirnya setelah dipasang ventouse, barulah si janin bisa keluar, dan  begitu keluar kepalanya, eh si janin langsung dong mukanya menghadap kamera! Sadar kamera sekali dia hahahahaha. Setelah menunggu satu kontraksi, barulah seluruh badan janin keluar dan pukul 7.15 pagi, Nashita lahir dengan selamat.

Saya emosional sekali ketika Nashita lahir  ke bumi. Mata saya berkaca-kaca, hati saya dipenuhi rasa bahagia, lega, takjub, tak percaya, dan bersyukur luar biasa diberi kesempatan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa untuk menyaksikan salah satu peristiwa yang meski sering terjadi di bumi ini namun selalu istimewa. Saya merasa terhormat diberi bagian dalam kejadian yang mengharukan sekaligus membahagiakan ini.

Dan iya, Nashita menggemaskan banget. Tapi saya tak akan pajang fotonya di sini, karena belum minta izin pada ibunya. Tapi tentu foto dan video kelahirannya telah dikirimkan ke ayahnya, 12 ribu kilometer jauhnya dari tanah rantau ini.

Setelah persalinan, dokter masih melakukan tindakan penjahitan pada ibunya. Tindakannya agak lama, sekitar 1 jam, karena proses persalinan yang lama, ibunya banyak mengangkat pinggul sehingga jalan lahir robek banyak, dan rapuhnya jaringan jalan lahir, si dokter harus menjahit ekstra supaya bisa pulih dengan lebih baik. Selama itu, si bayi langsung diletakkan di dada si ibu dan belajar menyusu. Beberapa kali saya harus membantu si ibu dan bayi agar posisi mereka enak dan tepat untuk menyusu. Yah, namanya juga baru pertama kali. Si bayi dan si ibu harus belajar bekerja sama dalam menyusui. Setelah dipindahkan ke ruang pasca natal, saya juga masih membantu si ibu mandi dan menidurkan si bayi. Pokoknya ini paket bantuan komplit! Haha!

Saya baru bisa pulang sekitar pukul 1 siang, ketika bala bantuan datang menggantikan. Total saya terjaga 14 jam. Dengan mata mengantuk, badan lemas, dan lambung lapar tapi tak nafsu makan saya berjalan pulang. Namun hati saya penuh cinta, memikirkan betapa Tuhan memberi saya pengalaman luar biasa.

Selamat datang di dunia, Nashita! Semoga kamu menikmati kehidupanmu di dunia ini ya, Nduk!

NB: Eh tapi kalau disuruh nikah lagi biar bisa merasakan hamil dan melahirkan lagi, saya tetap ogah sih. Kalau cuma disuruh nikah lagi pun saya juga tetap ogah. Ha!

 

Advertisements

Author: Neny

not your typical mainstream individual. embracing all roles without being confined in one.

Share your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s