friends

When God talks…

17758107_10209336847558383_1611766738_nGod talked to me tonight through an old friend, giving me assurance that any single good act will not be ignored.

For some personal reasons, these days I’ve been moping. Either I felt that my good acts toward particular persons were at the end futile because those persons cut me loose from their life, or I felt that some people came back to me realizing that I was the one who cared the most in their darkest episodes but it was way too late.  (more…)

Daily Gratitude #5 Obrolan yang Menyenangkan dan Mencerahkan

Akhir pekan saya kok ndilalah padat betul, sehingga tak mampu menuliskan #DailyGratitude yang harusnya daily alias harian tapi kok jadinya dua kali seminggu paling pol. Tapi nggak apa-apa, saya akan mengampuni diri saya sendiri karena tak menulis sering-sering. Kan mengampuni diri itu juga bagian dari rasa syukur menyadari bahwa diri ini masih manusia yang punya salah, tapi juga punya kesempatan untuk memperbaiki kesalahan? #IniMahNgeles

(more…)

Friends in Need are Friends Indeed

Friends in need are friends indeed.

I might have 3,000 something “friends” in my Facebook, but the number of friends who are indeed friends are no more than my fingers. This may come as surprising as people often see me as a very social person, and thus logically I should have many friends, but seriously I’m not the kind of person who likes to show my fragile, vulnerable side in public.

This of course created problems when I relocated to a new place, because I usually didn’t have anybody who could be my shoulder to cry on when I experienced challenges of adjusting to a new place. Also, being a PhD student is often cited as a lonely journey, because the only person whom a PhD student interacts are usually his/her supervisor and the supervisor of course cannot be regarded as a friend as the relationship is mostly very formal and impersonal. (more…)

Menjadi Perempuan, Menjadi Bisu

wp-1478472540582.jpegSeorang teman baru mengeluh pada saya bahwa ia kehilangan ‘suara’-nya di kota ini. Tentu saja saya tak bisa menyarankan dia untuk mengunyah seruas kencur, seperti kebiasaan saya setiap kehilangan suara. Selain kencur tak ada dijual di kota ini, suara yang ia maksud bukan suara fisik yang kita pakai untuk berbicara atau bernyanyi.

Suara yang ia maksud adalah pendapat atau opini yang menyatakan posisi. Teman saya ini mengeluh bahwa ketika ia, seorang perempuan, berstatus sebagai pengikut (atau bahasa imigrasinya dependent) suami, tiba-tiba saja pendapatnya sebagai salah satu anggota komunitas masyarakat Indonesia di sini hilang begitu saja, diabaikan oleh majelis ‘bapak-bapak’, bahkan dalam urusan yang perempuan pun mengalami dampaknya.

(more…)