Pemimpi Ulung itu Manusia Gila yang Beruntung

 

1200px-2018_fifa_world_cup-svg

Saya adalah pemimpi ulung.

Betapa tidak. Hampir semua hal yang saya capai adalah buah dari berkhayal di saat-saat yang suwung maupun reaksi terhadap suatu pengalaman. Misalnya ketika mencuci piring, BAB di WC, membaca buku, menonton film.

Khayalan saya bisa sangat gila, hingga di kegiatan mengkhayal paling ekstrim saya bisa membayangkan bahwa saya berada di situasi yang saya mimpikan, lalu ngomong sendiri menanggapi orang-orang yang ada di situasi yang saya mimpikan. Macam orang gila kan ya?

Selain ngomong sendiri, saya juga sering mengelilingi diri dengan mimpi itu, baik lewat rangsangan visual (buku, film, dsb.), auditory (musik, cerita orang, dll.), maupun kinestetik (memerankan diri dalam mimpi, cerita berapi-api soal mimpi). Pernah kan saya nulis tentang mengelilingi diri dengan mimpi di blog ini? Sudah kamu baca?

Di hari-hari awal tahun baru 2018 ini, saya sedang dalam proses memenuhi mimpi yang sudah berumur 35 dan 13 tahun. Semua gara-gara ajakan setengah permohonan untuk menemani seorang teman di sini untuk pergi berkunjung ke benua sebelah yang diajukan sejak tahun lalu. Dan tempat yang ia ajukan adalah Rusia. Wah… Continue reading “Pemimpi Ulung itu Manusia Gila yang Beruntung”

Advertisements

Memaknai R.I.P

De mortuis nil nisi bonum dicendum est (“Of the dead nothing but good is to be said“)

RIP

Yayaya, saya tahu secara sosial saya tak boleh berbicara yang buruk-buruk tentang orang yang sudah meninggal. Memang secara nalar tak adil, karena kalau yang saya bicarakan itu tidak tepat atau tidak benar, orang yang sudah mati tak punya hak jawab dan hak membela diri lagi.

Tapi bagaimana kalau almarhum melakukan tindakan yang dipandang secara sosial sebagai buruk, bahkan merugikan masyarakat? Seseorang seperti Hitler atau Pol Pot misalnya, tidak bolehkah saya membicarakan keburukannya? Continue reading “Memaknai R.I.P”

Annual Review dan Menangis

del-blogSaya rasa kamu akan setuju bahwa studi S3 itu tidak mudah. Bahkan sejak dari tahap paling awal mencari calon pembimbing, mendaftar, diterima, dan lalu menjalaninya. Semua yang pernah atau sedang menjalani studi S3, saya rasa pasti punya masa-masa yang membuat harus meneteskan air mata.

Selama hampir setahun sekolah di sini, saya sudah beberapa kali meneteskan airmata. Padahal hasil tahun pertama saya ‘hanya’ berupa proposal penelitian, sementara saya tahu dari beberapa teman bahwa ada yang ujian tahun pertamanya (atau ujian untuk dinyatakan sebagai kandidat PhD) bisa berupa beberapa ujian lisan, ujian tertulis, atau dokumen tergantung dari universitasnya, dan bahkan tiap departemen punya aturan masing-masing. Lebih jauh lagi, kadang-kadang tiap pembimbing dan penguji punya mau masing-masing.

Continue reading “Annual Review dan Menangis”

#DailyGratitude Menonton Konser itu Bikin Norak Bahagia

img_20170315_211339_652.jpgTerserah mau dibilang sombong, tapi saya bersyukur bahwa saya akan menonton 4 konser musik sepanjang April-Juli ini. Diawali dengan Craig David yang musiknya serba romantis elektropop dan setelah bertahun-tahun kok enaknya masih tetap sama sejak saya mendengar lagunya Don’t Love You No More di tahun 2005. Lalu Dream Theater yang tahun ini merayakan 25 tahun berdirinya band mereka. Saya harus berterima kasih pada Yierick, gitaris band saya di Ames dulu yang memperkenalkan saya pada band ini. Dan saya tak pernah kehilangan selera pada John Mayer, sehingga memutuskan untuk menonton dia lagi setelah 14 tahun berlalu sejak dia belum siapa-siapa. Diakhiri dengan Coldplay, yang saya nggak familiar dengan lagu-lagunya, kecuali lagu-lagu yang seringkali dinyanyikan Daniel Kristiyanto di sesi-sesi karaoke kami. Tapi kok ya setelah melihat pertunjukan mereka di youtube pas  sesi jeda Super Bowl 50 di tahun 2015, ternyata musik mereka enak juga (plus tentu saja bisa bergaya menonton konsernya yang berpotensi akan bikin banyak pihak ngiri hahaha).

Continue reading “#DailyGratitude Menonton Konser itu Bikin Norak Bahagia”