Spotlight

When you are good, the spotlight will spot you. When you’re still trying to get the spotlight, you’re not good enough yet for the spotlight to spot you.

black-and-white-cartoon-dark-3706
from Pexels.com

Spotlight, atau lampu sorot panggung, biasanya hanya akan menyorot aktor utama dalam sebuah pertunjukan. Aktor pembantu hanya akan mendapatkan sorotan lampu panggung ketika menyampaikan baris dialog bagiannya.

Dalam hidup saya menemukan bahwa ada lho orang-orang yang semangat sekali untuk mencari-cari “lampu sorot panggung” ini. Makanya ada istilah caper alias cari perhatian. Entah dengan memublikasikan pencapaian diri sendiri di semua kanal media sosial pribadi. Atau dengan menyelipkan pernyataan “kalau aku pernah…” dalam menanggapi curhatan/cerita teman.

Saya pernah menulis tentang bedanya “cock-a-hoop” (kesombongan atau penampakan kegembiraan yang berlebihan atas suatu pencapaian) dengan “humble brag” (pernyataan yang terkesan merendah atau merendahkan diri yang tujuan sebenarnya adalah menarik perhatian orang terhadap pencapaian diri) dan betapa sulit membedakan antara keduanya. Dan, iya, saya seringkali melihat keduanya di lini masa media sosial saya. 

Continue reading “Spotlight”

Advertisements

Agatha Christie: Misteri yang Tak Pernah Membosankan

[Bagian keempat dari Serial Penulis Kesukaan Saya. Ditulis untuk Tantangan Tujuh Hari Sampul Buku Kesukaan]

agathachristie
Agatha Christie

Lagi-lagi salahkan ayah saya karena menulari saya dengan virus membaca, terutama membaca karya-karya ratu cerita detektif: Agatha Christie. Tapi ya memang siapa yang tak kenal Agatha Christie Mallowan? Beliau adalah penulis dari Inggris yang sangat produktif dan sudah menulis 66 cerita detektif, 14 kumpulan cerita pendek serta 1 drama selama 85 tahun masa hidupnya.

Saya bahkan tak ingat lagi sejak kapan saya mulai membaca karya-karya beliau. Mungkin sekitar masa SMA, karena saat itu ayah saya dan saya menjadi anggota persewaan buku milik seorang teman SMA. Saya masih ingat bahwa hampir setiap akhir pekan saya dan ayah saya akan pergi ke persewaan buku itu dan meminjam setidaknya 3-5 buku untuk dibaca di akhir pekan. Karena saya tentu masih tak punya penghasilan, saya bergantung sepenuhnya kepada ayah untuk membayari ongkos sewa buku. Dari 3-5 buku yang kami sewa 1-2 di antaranya adalah pilihan saya, dan cuma 1-2 buku saja karena paling-paling saya bisa membaca buku-buku itu di akhir pekan. Ini juga sebabnya saya bisa membaca buku-buku fiksi dengan sangat cepat karena terbiasa dipaksa harus mengembalikan buku di hari Senin. Continue reading “Agatha Christie: Misteri yang Tak Pernah Membosankan”

Menyaksikan Orang Melahirkan itu Ajaib!

Saya pernah melahirkan. Dua kali. Tapi tentu saja tak bisa melihat anak saya keluar dari jalan lahirnya dong! Ketutupan perut buncit soalnya dan saya tentu lebih merasakan sakitnya kontraksi dan si bayi yang sudah tak sabar ingin melihat dunia.

Eh tapi Tuhan itu Maha Seru! Kemarin saya diberi kesempatan untuk melihat dengan mata kepala sendiri seorang bayi dilahirkan ke dunia ini! Ajaib!

Continue reading “Menyaksikan Orang Melahirkan itu Ajaib!”