Agatha Christie: Misteri yang Tak Pernah Membosankan

[Bagian keempat dari Serial Penulis Kesukaan Saya. Ditulis untuk Tantangan Tujuh Hari Sampul Buku Kesukaan]

agathachristie
Agatha Christie

Lagi-lagi salahkan ayah saya karena menulari saya dengan virus membaca, terutama membaca karya-karya ratu cerita detektif: Agatha Christie. Tapi ya memang siapa yang tak kenal Agatha Christie Mallowan? Beliau adalah penulis dari Inggris yang sangat produktif dan sudah menulis 66 cerita detektif, 14 kumpulan cerita pendek serta 1 drama selama 85 tahun masa hidupnya.

Saya bahkan tak ingat lagi sejak kapan saya mulai membaca karya-karya beliau. Mungkin sekitar masa SMA, karena saat itu ayah saya dan saya menjadi anggota persewaan buku milik seorang teman SMA. Saya masih ingat bahwa hampir setiap akhir pekan saya dan ayah saya akan pergi ke persewaan buku itu dan meminjam setidaknya 3-5 buku untuk dibaca di akhir pekan. Karena saya tentu masih tak punya penghasilan, saya bergantung sepenuhnya kepada ayah untuk membayari ongkos sewa buku. Dari 3-5 buku yang kami sewa 1-2 di antaranya adalah pilihan saya, dan cuma 1-2 buku saja karena paling-paling saya bisa membaca buku-buku itu di akhir pekan. Ini juga sebabnya saya bisa membaca buku-buku fiksi dengan sangat cepat karena terbiasa dipaksa harus mengembalikan buku di hari Senin. Continue reading “Agatha Christie: Misteri yang Tak Pernah Membosankan”

Advertisements

Menyaksikan Orang Melahirkan itu Ajaib!

Saya pernah melahirkan. Dua kali. Tapi tentu saja tak bisa melihat anak saya keluar dari jalan lahirnya dong! Ketutupan perut buncit soalnya dan saya tentu lebih merasakan sakitnya kontraksi dan si bayi yang sudah tak sabar ingin melihat dunia.

Eh tapi Tuhan itu Maha Seru! Kemarin saya diberi kesempatan untuk melihat dengan mata kepala sendiri seorang bayi dilahirkan ke dunia ini! Ajaib!

Continue reading “Menyaksikan Orang Melahirkan itu Ajaib!”

Hilman Hariwijaya: Masa Remaja, Masa Jadi Diri Sendiri

[Bagian ketiga dari Serial Penulis Kesukaan Saya. Ditulis untuk Tantangan Tujuh Hari Sampul Buku Kesukaan]

kolomebook-lupus
gambar dari http://kolomebook.blogspot.co.uk/2014/12/lupus-seri-lengkap.html

Kalau sekarang lagi pada gandrung pada gaya Dilan, yang katanya 90-an dan aksi romantisnya keren (gitu ya? Saya belum baca bukunya apalagi nonton filmnya jadi maafkan kalau cuma dengar-dengar), saya akan ajukan gaya yang orisinal tahun 90-an: Lupus!

 

Lupus itu anak SMA, dengan gaya rambut meniru Simon Le Bon yang mana adalah vokalisnya Duran-Duran, suka mengunyah permen karet, dan pakai tas sekolah yang panjang talinya sampai hampir ke lantai, dan sekaligus jadi wartawan di majalah Hai. Itu semua mencerminkan budaya pop masa akhir 80-an dan 90-an. Band apa yang populer. Kebiasaan apa yang keren. Barang (dan sikap hidup) apa yang sedang kekinian. Dan profesi apa (dan sekaligus majalah apa) yang mengikuti tren anak muda.

Dan di balik kesuksesan serial Lupus yang sampai berjilid-jilid bahkan ada prekuelnya segala adalah Hilman Hariwijaya, sang pengarang. Kalau membaca profilnya di wikipedia, serial Lupus (dan prekuelnya, Lupus Kecil dan Lupus ABG, maupun kembangannya, Lulu) bukanlah satu-satunya karyanya. Saya juga sempat membaca serial Olga dan beberapa novel lepasnya seperti Dancing on the Valentine, Cafe Blue, dan Rasta dan Bella. Sementara serial dan buku lain yang terbit setelah tahun 1994 sudah tidak saya ikuti lagi, mungkin karena waktu itu saya sudah kuliah di tahun ketiga dan sudah terlalu sibuk pacaran (ya kalik ada pacar jaman itu) berkegiatan di lembaga kemahasiswaan. OK, abaikan.  Continue reading “Hilman Hariwijaya: Masa Remaja, Masa Jadi Diri Sendiri”