Pramoedya Ananta Toer: Memberontak Melawan Zaman

[Bagian kelima dari Serial Penulis Kesukaan Saya. Ditulis untuk Tantangan Tujuh Hari Sampul Buku Kesukaan]

pramoedya
Pramoedya Ananta Toer

Siapa yang tak kenal Pramoedya Ananta Toer? Salah satu penulis Indonesia yang namanya digadang-gadang untuk dianugerahi penghargaan Nobel bidang sastra ini tentu saja kualitas tulisannya tak diragukan lagi.

Tapi perkenalan saya dengan Pramoedya lebih karena gairah untuk memberontak di masa kuliah. Di jaman Orde Baru, simbol-simbol perlawanan terhadap Soeharto dianggap sebagai sesuatu yang keren, terutama di lingkar pergaulan saya di kampus di Salatiga di masa 90-an. Di masa itu, Salatiga terkenal sebagai kota dengan gerakan perlawanan terhadap Order Baru yang kencang, lewat keberadaan Yayasan Gemi Nastiti (Geni) dan kegiatan-kegiatan diskusinya yang seringkali nyerempet-nyerempet bahaya. Continue reading “Pramoedya Ananta Toer: Memberontak Melawan Zaman”

Advertisements

Because Ph.D. is Nasty

IMG-20180425-WA0003I seriously became a very bitter person during my #phdlife. I found so much negativity that I’ve been harboring for years, without realizing that they were buried deep down inside my happy-go-lucky-no-problem-I-am-strong-don’t-you-worry facade.

Like the fact that I always feel insecure about my being not pretty enough, not smart enough, not worthy enough, not important enough, that I conceal using my cynism of people showing off and my always trying to be humble. Well, it actually hurts me that people ignore my contribution and ideas but I hide behind my wise words that people who matter know how important I am.

Continue reading “Because Ph.D. is Nasty”

Spotlight

When you are good, the spotlight will spot you. When you’re still trying to get the spotlight, you’re not good enough yet for the spotlight to spot you.

black-and-white-cartoon-dark-3706
from Pexels.com

Spotlight, atau lampu sorot panggung, biasanya hanya akan menyorot aktor utama dalam sebuah pertunjukan. Aktor pembantu hanya akan mendapatkan sorotan lampu panggung ketika menyampaikan baris dialog bagiannya.

Dalam hidup saya menemukan bahwa ada lho orang-orang yang semangat sekali untuk mencari-cari “lampu sorot panggung” ini. Makanya ada istilah caper alias cari perhatian. Entah dengan memublikasikan pencapaian diri sendiri di semua kanal media sosial pribadi. Atau dengan menyelipkan pernyataan “kalau aku pernah…” dalam menanggapi curhatan/cerita teman.

Saya pernah menulis tentang bedanya “cock-a-hoop” (kesombongan atau penampakan kegembiraan yang berlebihan atas suatu pencapaian) dengan “humble brag” (pernyataan yang terkesan merendah atau merendahkan diri yang tujuan sebenarnya adalah menarik perhatian orang terhadap pencapaian diri) dan betapa sulit membedakan antara keduanya. Dan, iya, saya seringkali melihat keduanya di lini masa media sosial saya. 

Continue reading “Spotlight”