Refleksi 45

img_20191004_164429124.jpg
Kartu ulang tahun dari teman-teman di Manchester. Makasih ya!

Ulang tahun buat saya bukanlah suatu hal yang publik. Saya tidak mencantumkan tanggal lahir saya sebagai informasi publik di media sosial sehingga pada hari ulang tahun saya biasanya hanya yang benar-benar mengingat atau mencatat yang mengucapkan selamat ulang tahun.

Tahun ini anak-anak saya lupa ulang tahun saya. Hahahaha. Sebabnya sederhana. Si sulung tertukar tanggal lahir saya dengan tanggal lahir adiknya yang cuma beda sehari tanggal lahir dari saya. Si bungsu karena enam tahun terakhir tidak tinggal dengan kami dan ayahnya memang jenis manusia yang tak peduli pada perayaan ulang tahun, maka ia tak ingat tanggal lahir ibunya. Continue reading “Refleksi 45”

Advertisements

Karena Kuda Tahu Perasaanmu, Nen!

IMG_20190902_115201651_HDRSaya tidak tahu bahwa konseling bisa dilakukan dengan bantuan binatang, sampai saya mengikuti program Equine Facilitated Learning (EFL)  sebagai relawan praktik. Equine Facilitated Learning kalau menurut situs https://www.equinelearning.org.uk adalah serangkaian aktivitas bersama kuda dan konselor yang tujuannya adalah untuk membangun rasa percaya diri dan harga diri peserta. 

Saya terlibat dalam program ini sebagai peserta dan secara sukarela mengajukan diri sebagai bahan praktik untuk konselor saya yang sedang mengikuti sertifikasi pendidikan EPL. Dia harus menyelesaikan praktik selama beberapa puluh jam dengan beberapa peserta, dan saya kebagian 3 sesi gratis. Pikir saya, lumayan juga saya bisa bermain bersama kuda sekaligus secara khusus mengenali masalah-masalah psikologis saya yang entah kenapa super drama dan mengganggu saya ketika tekanan program S3 luar biasa keras menghantam saya.

Continue reading “Karena Kuda Tahu Perasaanmu, Nen!”

Pramoedya Ananta Toer: Memberontak Melawan Zaman

[Bagian kelima dari Serial Penulis Kesukaan Saya. Ditulis untuk Tantangan Tujuh Hari Sampul Buku Kesukaan]

pramoedya
Pramoedya Ananta Toer

Siapa yang tak kenal Pramoedya Ananta Toer? Salah satu penulis Indonesia yang namanya digadang-gadang untuk dianugerahi penghargaan Nobel bidang sastra ini tentu saja kualitas tulisannya tak diragukan lagi.

Tapi perkenalan saya dengan Pramoedya lebih karena gairah untuk memberontak di masa kuliah. Di jaman Orde Baru, simbol-simbol perlawanan terhadap Soeharto dianggap sebagai sesuatu yang keren, terutama di lingkar pergaulan saya di kampus di Salatiga di masa 90-an. Di masa itu, Salatiga terkenal sebagai kota dengan gerakan perlawanan terhadap Order Baru yang kencang, lewat keberadaan Yayasan Gemi Nastiti (Geni) dan kegiatan-kegiatan diskusinya yang seringkali nyerempet-nyerempet bahaya. Continue reading “Pramoedya Ananta Toer: Memberontak Melawan Zaman”