Menyenangkan Orang Tua

Hal apa yang terakhir kamu lakukan untuk menyenangkan orang tuamu?

momdad

My parents: 43 seven years of marriage and going strong…

Banyak di antara kita yang mungkin ingin membahagiakan orang tua, tapi berpikir bahwa apa pun yang kita berikan tentu tidak setara dengan apa yang telah mereka lakukan buat kita. Apalagi kalau kita sekarang dalam posisi sebagai orang tua yang sudah mengalami bahwa membesarkan anak(-anak) itu perjuangannya segambreng walaupun tentu sedikit yang menyesali perjuangan semacam itu. Pokoknya punya anak itu serba menantang, tapi tidak bikin menyesal ketika melihat pencapaian-pencapaian anak. 

(more…)

Advertisements

On 43

There is not much to say but being grateful of the opportunity to wake up and be 43 years old but feel as if I was still 21 years old.

Last year was full of brain work, being a PhD student, that I notice I have more gray hairs than ever. Still, I’m grateful of being able to study in a campus and with people who provide lots of support to complete the milestones of my PhD program. Plus, I also notice that I enjoy living in the city that is vibrant and friendly.

I’m also thankful for the constant love of my loved ones, though I have to admit that sometimes it can be really challenging to deal with me. I can be quite a drama sometimes!

For next year? I’m hoping to continue on with my research and pass milestone after milestone that are laid before me.

And yes, I love you. But you know it well right, Sayang?

Wisuda: Perlu atau Tidak?

9511-034-033f

foto wisuda colongan 😀

              Ini curhat. Iya.

           Gara-gara dua minggu yang lalu kampus saya bikin acara wisuda sehari empat kali selama dua minggu (iya, seriusan, satu kali acara bisa ratusan orang yang wisuda), bikin saya dan Bee, sobat saya di program saya, berangan-angan soal wisuda kami 2 tahun lagi (amin!). Dari soal mau pakai baju apa di balik toga, isi acaranya kira-kira ngapain, dan berakhir dengan kendala ikut acara wisuda.
          Iya. Kendala. Kemungkinan saya nggak akan bisa ikut acara wisuda di kampus ungu ini. Kalau saya lulus Juni, saya nggak keburu ikut wisuda yang Juli, karena pasti saya harus revisi disertasi dulu. Tapi kalau mau ikut wisuda yang Desember, negara pasti tidak merestui pengeluaran saya selama di negeri ini selama beberapa bulan cuma untuk menunggu acara wisuda diadakan. Mau balik kampung dulu, lalu kembali ke sini untuk wisuda, anggarannya lumayan juga. Boro-boro mau ajak orangtua dan anak (dan mungkin pacar) untuk hadir, lha wong bayar tiket untuk diri sendiri aja harus berhitung sampai delapan digit.
           Jadi, perlu atau tidak ya hadir di acara wisuda? Lalu tradisi apa lagi yang terkait dengan wisuda yang perlu diikuti? Foto-foto studio dadakan? Syukuran makan-makan kelulusan dengan keluarga dan sahabat? (Oh, di kasus saya mungkin juga tradisi beberapa fakultas untuk memasang spanduk di kampus tempat saya kerja yang menyatakan selamat bahwa si anu, dosen di fakultas anu, sudah lulus S3 di universitas anu. Semacam promosi ke segala penjuru mata angin bahwa staf pengajar di universitas kami itu sungguh hueeeebat karena berhasil menyelesaikan program S3. Apalagi kalau universitas tempat studinya masuk 50 besar dunia kayak universitas saya ini.). Ya, saya paham dan mafhum sih kalau kampus tempat saya kerja ini memang butuh promosi macam begini. Namanya juga universitas swasta yang musti bersaing dalam mencari mahasiswa.

Annual Review dan Menangis

del-blogSaya rasa kamu akan setuju bahwa studi S3 itu tidak mudah. Bahkan sejak dari tahap paling awal mencari calon pembimbing, mendaftar, diterima, dan lalu menjalaninya. Semua yang pernah atau sedang menjalani studi S3, saya rasa pasti punya masa-masa yang membuat harus meneteskan air mata.

Selama hampir setahun sekolah di sini, saya sudah beberapa kali meneteskan airmata. Padahal hasil tahun pertama saya ‘hanya’ berupa proposal penelitian, sementara saya tahu dari beberapa teman bahwa ada yang ujian tahun pertamanya (atau ujian untuk dinyatakan sebagai kandidat PhD) bisa berupa beberapa ujian lisan, ujian tertulis, atau dokumen tergantung dari universitasnya, dan bahkan tiap departemen punya aturan masing-masing. Lebih jauh lagi, kadang-kadang tiap pembimbing dan penguji punya mau masing-masing.

(more…)