family

Memaknai R.I.P

RIPDe mortuis nil nisi bonum dicendum est (“Of the dead nothing but good is to be said“)

Yayaya, saya tahu secara sosial saya tak boleh berbicara yang buruk-buruk tentang orang yang sudah meninggal. Memang secara nalar tak adil, karena kalau yang saya bicarakan itu tidak tepat atau tidak benar, orang yang sudah mati tak punya hak jawab dan hak membela diri lagi.

Tapi bagaimana kalau almarhum melakukan tindakan yang dipandang secara sosial sebagai buruk, bahkan merugikan masyarakat? Seseorang seperti Hitler atau Pol Pot misalnya, tidak bolehkah saya membicarakan keburukannya? (more…)

Advertisements

Menyenangkan Orang Tua

Hal apa yang terakhir kamu lakukan untuk menyenangkan orang tuamu?

momdad

My parents: 43 seven years of marriage and going strong…

Banyak di antara kita yang mungkin ingin membahagiakan orang tua, tapi berpikir bahwa apa pun yang kita berikan tentu tidak setara dengan apa yang telah mereka lakukan buat kita. Apalagi kalau kita sekarang dalam posisi sebagai orang tua yang sudah mengalami bahwa membesarkan anak(-anak) itu perjuangannya segambreng walaupun tentu sedikit yang menyesali perjuangan semacam itu. Pokoknya punya anak itu serba menantang, tapi tidak bikin menyesal ketika melihat pencapaian-pencapaian anak. 

(more…)

Wisuda: Perlu atau Tidak?

9511-034-033f

foto wisuda colongan 😀

              Ini curhat. Iya.

           Gara-gara dua minggu yang lalu kampus saya bikin acara wisuda sehari empat kali selama dua minggu (iya, seriusan, satu kali acara bisa ratusan orang yang wisuda), bikin saya dan Bee, sobat saya di program saya, berangan-angan soal wisuda kami 2 tahun lagi (amin!). Dari soal mau pakai baju apa di balik toga, isi acaranya kira-kira ngapain, dan berakhir dengan kendala ikut acara wisuda.
          Iya. Kendala. Kemungkinan saya nggak akan bisa ikut acara wisuda di kampus ungu ini. Kalau saya lulus Juni, saya nggak keburu ikut wisuda yang Juli, karena pasti saya harus revisi disertasi dulu. Tapi kalau mau ikut wisuda yang Desember, negara pasti tidak merestui pengeluaran saya selama di negeri ini selama beberapa bulan cuma untuk menunggu acara wisuda diadakan. Mau balik kampung dulu, lalu kembali ke sini untuk wisuda, anggarannya lumayan juga. Boro-boro mau ajak orangtua dan anak (dan mungkin pacar) untuk hadir, lha wong bayar tiket untuk diri sendiri aja harus berhitung sampai delapan digit.
           Jadi, perlu atau tidak ya hadir di acara wisuda? Lalu tradisi apa lagi yang terkait dengan wisuda yang perlu diikuti? Foto-foto studio dadakan? Syukuran makan-makan kelulusan dengan keluarga dan sahabat? (Oh, di kasus saya mungkin juga tradisi beberapa fakultas untuk memasang spanduk di kampus tempat saya kerja yang menyatakan selamat bahwa si anu, dosen di fakultas anu, sudah lulus S3 di universitas anu. Semacam promosi ke segala penjuru mata angin bahwa staf pengajar di universitas kami itu sungguh hueeeebat karena berhasil menyelesaikan program S3. Apalagi kalau universitas tempat studinya masuk 50 besar dunia kayak universitas saya ini.). Ya, saya paham dan mafhum sih kalau kampus tempat saya kerja ini memang butuh promosi macam begini. Namanya juga universitas swasta yang musti bersaing dalam mencari mahasiswa.

Saya dan Pengaruh Musik Saya

Lagi-lagi tantangan musik 30 hari yang saya bilang asu kapan hari bikin saya berpikir tentang musik yang mempengaruhi selera musik saya. Pertanyaan yang memicu posting ini adalah “Sebutkan lagu dari band yang kamu harap masih main bareng”.

Kalau kamu bakal jawab apa untuk pertanyaan ini?

karimatapasti

Pilihan saya jatuh ke Karimata Band. Band ini didirikan tahun 1985, dan digawangi oleh Aminoto Kosin, Uce Haryono, Candra Darusman, Erwin Gutawa dan Denny TR. Selengkapnya soal band ini bisa dibaca di blog Denny Sakrie yang mengulas album pertama mereka yang bertajuk Pasti.

Yak, ini adalah salah satu album musik yang pertama-pertama saya dengarkan pas kelas satu SMP, ketika saya pertama kali ngeh soal musik dengan agak serius.

(more…)