UKSW

Wisuda: Perlu atau Tidak?

9511-034-033f

foto wisuda colongan ūüėÄ

              Ini curhat. Iya.

           Gara-gara dua minggu yang lalu kampus saya bikin acara wisuda sehari empat kali selama dua minggu (iya, seriusan, satu kali acara bisa ratusan orang yang wisuda), bikin saya dan Bee, sobat saya di program saya, berangan-angan soal wisuda kami 2 tahun lagi (amin!). Dari soal mau pakai baju apa di balik toga, isi acaranya kira-kira ngapain, dan berakhir dengan kendala ikut acara wisuda.
          Iya. Kendala. Kemungkinan saya nggak akan bisa ikut acara wisuda di kampus ungu ini. Kalau saya lulus Juni, saya nggak keburu ikut wisuda yang Juli, karena pasti saya harus revisi disertasi dulu. Tapi kalau mau ikut wisuda yang Desember, negara pasti tidak merestui pengeluaran saya selama di negeri ini selama beberapa bulan cuma untuk menunggu acara wisuda diadakan. Mau balik kampung dulu, lalu kembali ke sini untuk wisuda, anggarannya lumayan juga. Boro-boro mau ajak orangtua dan anak (dan mungkin pacar) untuk hadir, lha wong bayar tiket untuk diri sendiri aja harus berhitung sampai delapan digit.
           Jadi, perlu atau tidak ya hadir di acara wisuda? Lalu tradisi apa lagi yang terkait dengan wisuda yang perlu diikuti? Foto-foto studio dadakan? Syukuran makan-makan kelulusan dengan keluarga dan sahabat? (Oh, di kasus saya mungkin juga tradisi beberapa fakultas untuk memasang spanduk di kampus tempat saya kerja yang menyatakan selamat bahwa si anu, dosen di fakultas anu, sudah lulus S3 di universitas anu. Semacam promosi ke segala penjuru mata angin bahwa staf pengajar di universitas kami itu sungguh hueeeebat karena berhasil menyelesaikan program S3. Apalagi kalau universitas tempat studinya masuk 50 besar dunia kayak universitas saya ini.). Ya, saya paham dan mafhum sih kalau kampus tempat saya kerja ini memang butuh promosi macam begini. Namanya juga universitas swasta yang musti bersaing dalam mencari mahasiswa.
Advertisements

Kampus Berasa Kampung: Menggugat Mitos Menara Gading

Sudah dengar soal universitas yang diibaratkan sebagai Menara Gading saking ilmiahnya penelitian di lingkungan kampus sehingga terlepas sama sekali dari remeh temeh kehidupan sehari-hari orang kebanyakan? Ya, ya, saya cukup sering mendengar betapa penelitian-penelitian di kampus itu meski di atas kertas sungguh berguna bagi kemaslahatan umat manusia, tapi dalam realitas seringkali tak lantas diterapkan untuk mengatasi masalah-masalah di masyarakat, dan tertumpuk berdebu di rak atau tersimpan di perpustakaan digital.

Tentu ini berlaku juga buat penelitian yang saya bikin, yang memang kelihatan menjanjikan untuk diterapkan, tapi pada kenyataan paling-paling cuma akan jadi bahan nggambleh saya di seminar para akademisi atau lokakarya para guru bahasa Inggris. Apakah akan benar-benar diterapkan atau tidak, wallahuallam, terserah dari masing-masing pribadi. Saya bisa saja  berkilah bahwa setidaknya saya menerapkannya di kelas saya sendiri, tapi kelas saya toh masih di lingkungan menara gading kampus. Yang lebih parah lagi, ada lho akademisi yang melakukan penelitian hanya demi mendapatkan hibah berjuta-juta, proyek ratusan juta, atau ujung-ujungnya demi mendapatkan poin demi kenaikan jenjang fungsional akademik, tak peduli apakah hasil penelitian itu mengatasi problematika kehidupan rakyat sehari-hari atau menunjukkan keterlibatan kampus dalam keberadaannya sebagai entitas di dalam suatu ekosistem sosial kemasyarakatan.

Baca moto OMB 2016: Datang Untuk BEBAS dan Menang. Freedom is one important value in my campus!

Motto OMB 2016: Datang Untuk BEBAS dan Menang. Freedom is one important value in my campus!

OK, saya memang nyinyir, tapi begitulah sebagian kenyataan dunia kampus.

Tapi kemarin, saya semacam mendapatkan pencerahan kecil, di sela-sela menonton karnaval Orientasi Mahasiswa Baru (OMB) kampus saya di jalanan Salatiga. Karnaval ini sudah berlangsung beberapa tahun di setiap akhir OMB, berupa karnaval ribuan mahasiswa baru dan kelompok-kelompok kampung/komunitas  memainkan drumblek (semacam marching band, tapi  dengan alat musik berupa bambu, galon air minum mineral, drum plastik/logam) dan menampilkan busana ala-ala karnaval di Rio De Janeiro berkeliling di beberapa jalanan utama Salatiga yang tentunya ditonton oleh masyarakat Salatiga yang sering kali haus hiburan saking kecilnya kota berpenduduk cuma 181 ribu saja ini.

(more…)

Oh, Birokrasi Pemerintah…

Mungkin Anda akan bosan baca tulisan saya tentang topik ini. Atau mungkin Anda akan sama jengkel dan frustrasinya dengan saya. Atau Anda akan menyarankan agar saya bersabar dan mengikuti semua prosedur. Tapi kemungkinan besar Anda akan bersetuju dengan saya: birokrasi di negeri ini sungguh merepotkan dan tidak efisien.

Bagaimana tidak? Setiap kali berurusan dengan birokrasi¬†di negeri ini, saya harus ngamuk-ngamuk karena mereka yang ¬†berada di posisi¬†administrasi bisa dengan semena-mena mengharuskan ini itu dengan tenggat yang aduhai mepet, tapi ketika saatnya kita butuh dengan segera, mereka akan dengan santainya menunda, menahan tanpa kejelasan.¬† (more…)

Rahmat Dalam Seikat Ketupat

hantaranlebaran.jpgSejak pindah ke kompleks perumahan dosen dua tahun yang lalu, saya mempunyai kebiasaan baru setiap hari raya Idulfitri: mengantar ketupat, opor ayam, dan sambal goreng ke beberapa tetangga terdekat sepulang dari sholat Ied. (more…)