Indonesia

Marlina: Pahlawan Perempuan dalam Diam

[T]he birth of the reader must be at the cost of the death of the Author (Roland Barthes, 1977, p. 148)

Si Pengarang harus mati demi kelahiran seorang Pembaca, begitu tulis Barthes dalam esainya “The Death of The Author”. Jika ditarik dalam kerangka pandang yang lebih luas bahwa ‘teks’ itu tak melulu berbentuk tulisan tetapi sebagai karya dalam bentuk apa saja, esensi dari sebuah karya bukan hanya pada penciptaannya tetapi pada tujuannya. Sebuah karya menjadi utuh ketika makna karya itu tak hanya dari sudut pandang si pencipta tetapi juga dari sudut pandang penikmatnya.

OK, saya tampaknya kebanyakan mengurusi studi PhD sehingga tulisan saya ini mulai dengan teori yang ribet ya? Padahal saya mau menulis soal film yang baru saya tonton akhir pekan lalu, yaitu Marlina: The Murderer in Four Acts dan perenungan yang saya alami setelah menontonnya.  (more…)

Advertisements

The Right Person for the Best of You

Jadi minggu lalu, setelah menyelesaikan sesi latihan band untuk manggung di Indonesian Cultural Festival keesokan harinya, saya dan dua orang teman iseng-iseng ngejam lagunya Glenn Fredly, Kisah Romantis. Tanpa rencana, cuma berbekal feeling dan maunya mencari hiburan setelah capek persiapan kegiatan. Bagus, yang memainkan gitar melodi, memutuskan untuk memvideokan sesi jamming kami. Dan hasilnya seperti ini:

Yang namanya jamming ya ini sama sekali tanpa latihan, spontan mengalir begitu saja, memakai intuisi.

Yang menarik, keesokan harinya Bagus menyatakan kepada saya dan Hugo, yang memainkan gitar latar, bahwa ia tak menyangka bahwa ia bisa bermain seperti ini. Katanya, ia sampai lima kali memutar video ini, karena ia tak percaya bahwa ia bisa memainkan gitar dengan irama yang paling nge-soul. Ada beberapa teman yang mengamini bahwa ini adalah kolaborasi yang enak dinikmati.

Err, bukan. Saya bukan bermaksud menyombong. Saya tahu kok ada beberapa bagian di mana nyanyi saya fals. Tapi memang rasanya enak sekali malam itu menyanyi dan berimprovisasi bersama mereka. Selama jamming, kami cuma cukup berkomunikasi dengan tangga lagu, tatapan mata, atau dengan penanda (cue) kata yang minimal, untuk tahu di mana kami sebaiknya masuk, berimprovisasi atau mengakhiri. Sungguh nyaman bermusik bersama mereka.

Tampaknya masing-masing dari kami bisa saling memahami dengan tepat, sehingga bisa mengeluarkan kemampuan bermusik kami yang terbaik. Orang-orang yang tepat, yang bisa mengeluarkan sisi saya yang terbaik.

Dalam setiap tahap hidup, saya selalu menemukan orang-orang yang tepat yang membantu saya menjadi yang terbaik. Pembimbing saya yang sekarang misalnya. Guru Bahasa Inggris saya ketika kelas 3 SMA. Mahasiswa skripsi saya 2 angkatan yang lalu. Kekasih saya. Bersama-sama atau pun secara terpisah, mereka berkontribusi dalam diri saya yang sekarang ini.

Kalau kamu, siapa orang-orang yang membantumu mengeluarkan sisi terbaikmu?

Daily Gratitude #5 Obrolan yang Menyenangkan dan Mencerahkan

Akhir pekan saya kok ndilalah padat betul, sehingga tak mampu menuliskan #DailyGratitude yang harusnya daily alias harian tapi kok jadinya dua kali seminggu paling pol. Tapi nggak apa-apa, saya akan mengampuni diri saya sendiri karena tak menulis sering-sering. Kan mengampuni diri itu juga bagian dari rasa syukur menyadari bahwa diri ini masih manusia yang punya salah, tapi juga punya kesempatan untuk memperbaiki kesalahan? #IniMahNgeles

(more…)

Daily Gratitude #4 Menjadi Indonesia, Menjadi Warga Dunia

Terlepas dari kekhawatiran saya dianggap banci tampil dan narsis karena mengunggah segala foto dan video pementasan kemarin di ASEAN Festival ke segala kanal media sosial, saya lebih memaknainya sebagai berbagi rasa syukur menjadi orang Indonesia yang sekaligus menjadi warga dunia.

(more…)