Uncategorized

On 43

There is not much to say but being grateful of the opportunity to wake up and be 43 years old but feel as if I was still 21 years old.

Last year was full of brain work, being a PhD student, that I notice I have more gray hairs than ever. Still, I’m grateful of being able to study in a campus and with people who provide lots of support to complete the milestones of my PhD program. Plus, I also notice that I enjoy living in the city that is vibrant and friendly.

I’m also thankful for the constant love of my loved ones, though I have to admit that sometimes it can be really challenging to deal with me. I can be quite a drama sometimes!

For next year? I’m hoping to continue on with my research and pass milestone after milestone that are laid before me.

And yes, I love you. But you know it well right, Sayang?

Advertisements

Kesasar di Negeri Sendiri

12243329_10153138421017407_4863921953816262114_n

Petunjuk arah di Bandara Kaitak, Hong Kong

Di sono-sono nggak pernah kesasar, mau di bandara, stasiun, gedung publik, bisa ketemu. Lah ini di bandara negeri sendiri bisa nyasar terminal. Mungkin saya lelah :((

Begitu tulis saya di Facebook ketika tiba kembali ke Jakarta setelah bepergian ke Daejeon dan Seoul selama seminggu sembari singgah beberapa jam di bandara Kaitak, Hongkong. Di e-tiket maskapai singa jelas tertulis saya harus ke Terminal 1 di Bandara Soekarno-Hatta untuk meneruskan perjalanan saya ke Semarang, sehingga saya santai saja menghabiskan waktu di Terminal 2 tempat saya tiba, lalu menumpang bis antar terminal. Tapi di mana tempat bis antar terminal berhenti di terminal kedatangan? (more…)

Menghapuskan Sejarah, Menghapuskan Eksistensi Kemanusiaan

Saya baru saja menyelesaikan menonton film The Monuments Men (2014). Film yang diangkat dari kisah nyata ini bertutur tentang usaha sekelompok ahli benda seni yang tergabung dalam organisasi Monuments, Fine Arts and Archives (MFAA) bentukan tentara sekutu di perang dunia kedua untuk melindungi benda-benda seni Eropa dari kerusakan perang dan penjarahan tentara sendiri untuk dijadikan suvenir, serta dari keinginan Hitler untuk menguasai semua benda-benda tersebut demi nafsu megalomaniak-nya untuk membangun museum bagi dirinya sendiri.

Pertanyaan besar dari banyak orang pada waktu tim ini dikirimkan ke tengah berkecamuknya perang adalah apakah benda-benda mati ini layak diselamatkan sementara begitu banyak nyawa yang terampas akibat perang? Apakah lebih layak menyelamatkan lukisan Monalisa dibandingkan menyelamatkan nyawa jutaan orang Yahudi di kamp-kamp konsentrasi? Lagi pula, sangat sulit untuk melindungi patung Madonna karya Michelangelo yang dipajang di dalam sebuah gereja di kota Bruges, Belgia, yang mengalami bombardir oleh tentara sekutu. Bayangkan saja perjuangan mereka untuk berkompromi dengan pasukan yang hendak membombardir sebuah kota. Atau usaha mereka melacak ribuan artifak seni yang secara sistematis dirampas oleh tentara Nazi Jerman dan kemudian kehilangan beberapa ribu yang lain karena siasat bumi hangus Jerman. (more…)

Pembimbing, oh, Pembimbing!

Perjuangan menempuh PhD itu katanya sedikit banyak tergantung pada pembimbing. Begitu petuah dari beberapa teman dan tips dari lokakarya mahasiswa riset universitas saya. Beberapa kali saya mendengar teman yang sedang menempuh PhD berkeluh kesah tentang pembimbingnya yang tidak perduli atau pembimbing yang “sulit”, dan tentu saja ini berpengaruh pada kinerja mereka mengerjakan disertasi.

Saya termasuk beruntung mendapat pembimbing yang super baik. Yang saya maksud dengan super baik ini tidak cuma betapa beliau begitu kebapakan dan memahami masalah-masalah pribadi saya. Beliau juga mengerti ketika saya benar-benar menjadi mahasiswa PhD yang keterlaluan malasnya dan menunjukkan kinerja yang buruk. Beliau tidak pernah berhenti menyemangati saya, meskipun tentu saja dengan nada yang tentu saja agak keras dan bule. 

Selain pribadi beliau yang ngemong, beliau juga punya kapasitas yang bagus untuk membimbing. Ketika beberapa teman di sini tahu siapa pembimbing saya, mereka langsung berkomentar bahwa saya beruntung karena dibimbing beliau. Saya rasa bukan karena masalah kehandalan beliau dalam bidang yang saya teliti, tetapi lebih karena beliau dikenal sebagai penulis buku tentang bagaimana menulis thesis yang baik dan tentu apa yang beliau tulis itu diterapkan pada saya. Dan saya merasakan sendiri betapa beliau sungguh perduli pada mahasiswa bimbingannya dan memberikan saran-saran yang sangat membantu. Beliau bahkan tak cuma memberi saran, tapi turun tangan langsung memberikan ide-ide dan arahan tentang isi thesis saya, sampai ke taraf yang membuat saya merasa bodoh luar biasa karena hal-hal kecil pun beliau pikirkan dan beliau kerjakan untuk saya. 

Nah, ini sedikit tips dari saya untuk Anda yang dalam proses mencari pembimbing yang tepat untuk studi S3. Jangan cuma tergiur dengan kepakaran dari seorang pembimbing. Seorang pakar belum tentu bisa menjadi pembimbing yang baik. Saya punya seorang teman yang dibimbing oleh seorang pakar di bidang saya, tapi berapa kali saya mendengar dari dia betapa sang pembimbing kadang-kadang tidak memberikan arahan sama sekali dan membiarkan dia bingung dengan topiknya. 

Bagaimana caranya mengetahui apakah seorang pembimbing itu perhatian atau tidak? Saya beruntung punya teman yang dibimbing oleh pembimbing saya sehingga ketika saya mencari-cari calon pembimbing saya bisa mendapatkan masukan langsung dari yang merasakan. Cara lain adalah dengan melihat disertasi mahasiswa bimbingannya. Kalau di bagian acknowledgment nadanya hangat, saya bisa pastikan si mahasiswa mempunyai hubungan yang hangat juga dengan sang pembimbing. Cara yang lain lagi adalah melalui media sosial macam Facebook atau Twitter. Kalau sang pembimbing punya akun di sana dan bisa diakses, lihatlah bagaimana komentar orang, terutama mahasiswanya kepadanya. Atau bisa juga mencari teman-teman yang sedang studi S3 di bidang yang kita mau, lalu tanyakan siapa pembimbingnya dan bagaimana model sang pembimbing ketika membimbing si teman. 

Selamat mencari pembimbing idaman!