Marlina: Pahlawan Perempuan dalam Diam

marlina_1508165313
Foto dari Beritagar (https://beritagar.id/artikel/seni-hiburan/marsha-timothy-menang-di-catalunya)

[T]he birth of the reader must be at the cost of the death of the Author (Roland Barthes, 1977, p. 148)

Si Pengarang harus mati demi kelahiran seorang Pembaca, begitu tulis Barthes dalam esainya “The Death of The Author”. Jika ditarik dalam kerangka pandang yang lebih luas bahwa ‘teks’ itu tak melulu berbentuk tulisan tetapi sebagai karya dalam bentuk apa saja, esensi dari sebuah karya bukan hanya pada penciptaannya tetapi pada tujuannya. Sebuah karya menjadi utuh ketika makna karya itu tak hanya dari sudut pandang si pencipta tetapi juga dari sudut pandang penikmatnya.

OK, saya tampaknya kebanyakan mengurusi studi PhD sehingga tulisan saya ini mulai dengan teori yang ribet ya? Padahal saya mau menulis soal film yang baru saya tonton akhir pekan lalu, yaitu Marlina: The Murderer in Four Acts dan perenungan yang saya alami setelah menontonnya.  Continue reading “Marlina: Pahlawan Perempuan dalam Diam”

Advertisements

Menjadi Perempuan, Menjadi Bisu

Masihkah suara perempuan diabaikan? Blog post baru: Menjadi Perempuan, Menjadi Bisu

wp-1478472540582.jpegSeorang teman baru mengeluh pada saya bahwa ia kehilangan ‘suara’-nya di kota ini. Tentu saja saya tak bisa menyarankan dia untuk mengunyah seruas kencur, seperti kebiasaan saya setiap kehilangan suara. Selain kencur tak ada dijual di kota ini, suara yang ia maksud bukan suara fisik yang kita pakai untuk berbicara atau bernyanyi.

Suara yang ia maksud adalah pendapat atau opini yang menyatakan posisi. Teman saya ini mengeluh bahwa ketika ia, seorang perempuan, berstatus sebagai pengikut (atau bahasa imigrasinya dependent) suami, tiba-tiba saja pendapatnya sebagai salah satu anggota komunitas masyarakat Indonesia di sini hilang begitu saja, diabaikan oleh majelis ‘bapak-bapak’, bahkan dalam urusan yang perempuan pun mengalami dampaknya.

Continue reading “Menjadi Perempuan, Menjadi Bisu”

Alangkah Diskriminatifnya Negeri Ini!

Orang Indonesia itu diskriminatif.

Begitu kesimpulan anak saya, Jalu, setelah tiga hari berkeliling beberapa tempat wisata bersama mas patjar, sahabat saya yang orang Makedonia dan pacarnya yang orang Australia, di seputaran Salatiga dan Jogja.

Apa pasal? Di setiap tempat wisata, baik itu candi, museum, maupun keraton, teman saya dan pacarnya yang jelas-jelas kelihatan bule, akan dikenai ongkos masuk yang jauh lebih besar. Foto yang di sebelah itu (dari Museum Sono Budoyo) terhitung murah, karena perbedaan harga tiket masuk hanya beberapa ribu rupiah saja. Di keraton Sultan Hamengkubuwono, bedanya meningkat menjadi beberapa puluh ribu: kami cuma membayar Rp 5.000 per orang, teman saya harus membayar Rp 25.000. Yang paling fantastis adalah yang di candi; perbedaan harga antara wisatawan lokal dan wisatawan mancanegara mencapai beberapa ratus ribu! Di candi Borobudur misalnya, saya hanya perlu membayar Rp 30.000 sementara sahabat saya harus membayar Rp 250.000. Di candi Prambanan, kasusnya sami mawon! Kalau tidak percaya, silakan lihat di situs resmi candi-candi ini.

wpid-wp-1438200260436.jpeg

Orang Indonesia itu diskriminatif.

Begitu kesimpulan anak saya, Jalu, setelah tiga hari berkeliling beberapa tempat wisata bersama mas patjar,  sahabat saya yang orang Makedonia dan pacarnya yang orang Australia, di seputaran Salatiga dan Jogja.

Apa pasal? Di setiap tempat wisata, baik itu candi, museum, maupun keraton, teman saya dan pacarnya yang jelas-jelas kelihatan bule, akan dikenai ongkos masuk yang jauh lebih besar. Foto yang di sebelah itu (dari Museum Sono Budoyo) terhitung murah, karena perbedaan harga tiket masuk hanya beberapa ribu rupiah saja. Di keraton Sultan Hamengkubuwono, bedanya meningkat menjadi beberapa puluh ribu: kami cuma membayar Rp 5.000 per orang, teman saya harus membayar Rp 25.000. Yang paling fantastis adalah yang di candi; perbedaan harga antara wisatawan lokal dan wisatawan mancanegara mencapai beberapa ratus ribu! Di candi Borobudur misalnya, saya hanya perlu membayar Rp 30.000 sementara sahabat saya harus membayar Rp 250.000. Di candi Prambanan, kasusnya sami mawon! Kalau tidak percaya, silakan lihat di situs resmi candi-candi ini. Continue reading “Alangkah Diskriminatifnya Negeri Ini!”