Marlina: Pahlawan Perempuan dalam Diam

marlina_1508165313
Foto dari Beritagar (https://beritagar.id/artikel/seni-hiburan/marsha-timothy-menang-di-catalunya)

[T]he birth of the reader must be at the cost of the death of the Author (Roland Barthes, 1977, p. 148)

Si Pengarang harus mati demi kelahiran seorang Pembaca, begitu tulis Barthes dalam esainya “The Death of The Author”. Jika ditarik dalam kerangka pandang yang lebih luas bahwa ‘teks’ itu tak melulu berbentuk tulisan tetapi sebagai karya dalam bentuk apa saja, esensi dari sebuah karya bukan hanya pada penciptaannya tetapi pada tujuannya. Sebuah karya menjadi utuh ketika makna karya itu tak hanya dari sudut pandang si pencipta tetapi juga dari sudut pandang penikmatnya.

OK, saya tampaknya kebanyakan mengurusi studi PhD sehingga tulisan saya ini mulai dengan teori yang ribet ya? Padahal saya mau menulis soal film yang baru saya tonton akhir pekan lalu, yaitu Marlina: The Murderer in Four Acts dan perenungan yang saya alami setelah menontonnya.  Continue reading “Marlina: Pahlawan Perempuan dalam Diam”

Advertisements

Kenapa Saya Suka Menjadi Guru

Tiap kali ke kota ini, saya selalu diingatkan dan disegarkan kembali akan alasan utama kenapa saya suka sekali menjadi guru: membuat perubahan dalam masa depan seseorang.

Kota ini, SoE, adalah kota kecil di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Butuh perjalanan darat selama 3 jam dari kota Kupang untuk mencapai kota ini. Udaranya sejuk dengan langit yang luar biasa biru dan cantik. Tanahnya adalah tanah karang, keras berbungkul-bungkul dan bikin sakit di kaki kalau kita berjalan di atasnya. Tapi orang-orangnya punya keramahan yang sama sekali tidak keras, di balik kulit mereka yang tembaga. Continue reading “Kenapa Saya Suka Menjadi Guru”