Indonesia

Saya dan Pengaruh Musik Saya

Lagi-lagi tantangan musik 30 hari yang saya bilang asu kapan hari bikin saya berpikir tentang musik yang mempengaruhi selera musik saya. Pertanyaan yang memicu posting ini adalah “Sebutkan lagu dari band yang kamu harap masih main bareng”.

Kalau kamu bakal jawab apa untuk pertanyaan ini?

karimatapasti

Pilihan saya jatuh ke Karimata Band. Band ini didirikan tahun 1985, dan digawangi oleh Aminoto Kosin, Uce Haryono, Candra Darusman, Erwin Gutawa dan Denny TR. Selengkapnya soal band ini bisa dibaca di blog Denny Sakrie yang mengulas album pertama mereka yang bertajuk Pasti.

Yak, ini adalah salah satu album musik yang pertama-pertama saya dengarkan pas kelas satu SMP, ketika saya pertama kali ngeh soal musik dengan agak serius.

(more…)

Advertisements

Easy, Worry-Free Life with @GoodLifeBCA

photo_2016-09-05_08-48-09

#MyBCAexperience @GoodLifeBCA #InovasiBCA

Saya suka belanja online. Selain karena saya suka teknologi (makanya bidang penelitian saya adalah teknologi pendidikan), saya paling tidak bisa memilih (Libra orangnya memang gitu!) jadi kalau belanja apalagi yang elektronik gitu suka ragu dan galau menentukan pilihan. Walhasil saya suka sekali belanja online karena bisa riset dulu ke sana ke mari, baca review ini itu, sebelum akhirnya menentukan akan membeli merek dan tipe tertentu.

Selain faktor penyuka teknologi dan peragu, saya juga pemalas. Malas ribet muter-muter ke beberapa toko hanya untuk membanding-bandingkan. Males diikuti pelayan toko yang niatnya membantu pelanggan tapi berasa kayak dikuntit agen rahasia atau dianggap orang yang mau ngutil barang dagangan. Males keluar rumah, naik motor, jalan ke toko sana sini, lalu kontemplasi 30 menit sampai sejam, konsultasi temam belanja sampai hampir berantem, sebelum membayar lalu balik naik motor ke rumah dengan perasaan masih ragu-ragu dengan barang yang dibeli karena merasa riset kurang.

Iya. Belanja langsung tatap muka itu ribet.  (more…)

Tips to Learn English (and Some for Surviving Life…)

So the other day, in the midst of frustration and fatigue of end-of-semester grading, I decided to channel some of it in Facebook by creating a compilation of evilish thoughts that teachers of my department feel sometimes against students tips of surviving college education in my faculty (that is Faculty of Language and Literature, Satya Wacana Christian University, Salatiga, Indonesia, where my students learn to be an English teacher or any jobs related to English). It ended up being liked, shared, commented by alumni and students, and will maybe included in the material for new students orientation for the coming academic year. Wow, I’m flattered! Thanks so much to y’all!

Anyway, let’s cut the chase short. Here are the 24 tips (so far) that I wrote. They’re true for those who are familiar with my department/faculty, but it includes some tips that may be true for other walks of life. Will you share yours too?

1/ Google translate your sentences will not make them sound English. It is a machine, and machines are stupid. Use your brain to check the translation again. Brain is God’s greatest creation and it is not as stupid as the machine as long as you use it regularly. (more…)

Alangkah Diskriminatifnya Negeri Ini!

wpid-wp-1438200260436.jpeg

Orang Indonesia itu diskriminatif.

Begitu kesimpulan anak saya, Jalu, setelah tiga hari berkeliling beberapa tempat wisata bersama mas patjar,  sahabat saya yang orang Makedonia dan pacarnya yang orang Australia, di seputaran Salatiga dan Jogja.

Apa pasal? Di setiap tempat wisata, baik itu candi, museum, maupun keraton, teman saya dan pacarnya yang jelas-jelas kelihatan bule, akan dikenai ongkos masuk yang jauh lebih besar. Foto yang di sebelah itu (dari Museum Sono Budoyo) terhitung murah, karena perbedaan harga tiket masuk hanya beberapa ribu rupiah saja. Di keraton Sultan Hamengkubuwono, bedanya meningkat menjadi beberapa puluh ribu: kami cuma membayar Rp 5.000 per orang, teman saya harus membayar Rp 25.000. Yang paling fantastis adalah yang di candi; perbedaan harga antara wisatawan lokal dan wisatawan mancanegara mencapai beberapa ratus ribu! Di candi Borobudur misalnya, saya hanya perlu membayar Rp 30.000 sementara sahabat saya harus membayar Rp 250.000. Di candi Prambanan, kasusnya sami mawon! Kalau tidak percaya, silakan lihat di situs resmi candi-candi ini. (more…)