ikhlas

It’s All About Perspective

samsung-duo_-pocket-net_

Foto dari TujuHarga.com

Seperti beginilah ilustrasi telepon seluler yang sedang saya pakai saat ini. Tentu kondisinya jauh lebih mengenaskan daripada yang ada di tangan mas (atau mbak?) ini. Goresan di sana sini, casing sebelah kanan entah kenapa sudah terpotong dan chargernya sudah diselotip karena longgar. Tapi masih fungsional dan masih kuat menjalankan operasi Android yang sederhana.

Seorang teman di sini (yang baru saya kenal kemarin) mengasihani saya dan situasi telepon seluler saya yang jadi ‘batu bata’ gara-gara masalah bootloop dan berbaik hati meminjamkan gawai ini karena kebetulan beliau tidak pakai (karena ini dipakai sebagai telepon cadangan) dan ukuran slot kartu sim-nya mikro, pas dengan kartu sim penyedia layanan seluler di kampung yang harus saya pertahankan untuk berbagai urusan (sms dari bank di kampung, akses recovery beberapa akun internet, dan tentu saja berkomunikasi dengan Sayang DiSayang — dan beberapa grup —  lewat nomor WhatsApp saya yang dari kampung). (more…)

Advertisements

Kebingungan Tuhan

Saya sedang terbingung-bingung pada Tuhan. Tidakkah Anda pernah merasakan apa yang saya alami sekarang? Satu saat Tuhan rasanya memberi rejeki, anugerah, bantuan, atau apalah namanya. Eh, beberapa saat kemudian kok rasanya saya diberi kemalangan yang bertubi-tubi.

Tapi, pikir punya pikir, saya dulu juga pernah mengalami bahwa rejeki itu belum tentu bermanfaat. Kadang yang namanya rejeki itu adalah ujian tersembunyi dari Tuhan. Dan kemalangan juga belum tentu adalah sesuatu yang buruk, karena kadang-kadang malah kemalangan itu justru berakhir menjadi keberuntungan!

Sehabis membaca The Alchemist karya Paulo Coelho, saya belajar bahwa saya perlu menjadi peka akan tanda-tanda yang disebarkan Tuhan di sekitar saya. Tampaknya saya masih tergagap-gagap dalam menafsirkan tanda-tanda Tuhan itu. Saya masih perlu belajar untuk berkontemplasi dan menajamkan mata hati saya terhadap tanda-tanda itu.

Satu lagi. Saya merasa malang luar biasa hari-hari ini. Saya mengalami beberapa kehilangan yang cukup parah karena kecerobohan saya. Saya mengalami kesulitan-kesulitan yang membuat hidup saya menjadi tak nyaman. Saya merasakan ketakutan yang amat sangat menghadapi hari-hari mendatang karena ada banyak hal yang saya mungkin tak bisa penuhi. Tapi…bukankah pelangi biasanya muncul setelah hujan yang maha lebat? Jadi ingat kata-kata ayah saya dulu setiap kali saya merasa bodoh luar biasa dalam belajar untuk menghadapi tes di esok hari, “Belum tentu tesnya sesulit yang kamu kira.” Dan anehnya, kalau saya merasa disulit-sulitkan begitu, biasanya hasilnya malah lebih cemerlang daripada kalau saya merasa nyaman dan tenang.

Yah, ini mungkin ujian, bukan kemalangan, atau kesenangan. It’s simply a test.

Moga-moga saya diberi keikhlasan untuk menjalani semua ujian dan lulus dengan predikat memuaskan. Amin.