Hilman Hariwijaya: Masa Remaja, Masa Jadi Diri Sendiri

[Bagian ketiga dari Serial Penulis Kesukaan Saya. Ditulis untuk Tantangan Tujuh Hari Sampul Buku Kesukaan]

kolomebook-lupus
gambar dari http://kolomebook.blogspot.co.uk/2014/12/lupus-seri-lengkap.html

Kalau sekarang lagi pada gandrung pada gaya Dilan, yang katanya 90-an dan aksi romantisnya keren (gitu ya? Saya belum baca bukunya apalagi nonton filmnya jadi maafkan kalau cuma dengar-dengar), saya akan ajukan gaya yang orisinal tahun 90-an: Lupus!

 

Lupus itu anak SMA, dengan gaya rambut meniru Simon Le Bon yang mana adalah vokalisnya Duran-Duran, suka mengunyah permen karet, dan pakai tas sekolah yang panjang talinya sampai hampir ke lantai, dan sekaligus jadi wartawan di majalah Hai. Itu semua mencerminkan budaya pop masa akhir 80-an dan 90-an. Band apa yang populer. Kebiasaan apa yang keren. Barang (dan sikap hidup) apa yang sedang kekinian. Dan profesi apa (dan sekaligus majalah apa) yang mengikuti tren anak muda.

Dan di balik kesuksesan serial Lupus yang sampai berjilid-jilid bahkan ada prekuelnya segala adalah Hilman Hariwijaya, sang pengarang. Kalau membaca profilnya di wikipedia, serial Lupus (dan prekuelnya, Lupus Kecil dan Lupus ABG, maupun kembangannya, Lulu) bukanlah satu-satunya karyanya. Saya juga sempat membaca serial Olga dan beberapa novel lepasnya seperti Dancing on the Valentine, Cafe Blue, dan Rasta dan Bella. Sementara serial dan buku lain yang terbit setelah tahun 1994 sudah tidak saya ikuti lagi, mungkin karena waktu itu saya sudah kuliah di tahun ketiga dan sudah terlalu sibuk pacaran (ya kalik ada pacar jaman itu) berkegiatan di lembaga kemahasiswaan. OK, abaikan.  Continue reading “Hilman Hariwijaya: Masa Remaja, Masa Jadi Diri Sendiri”

Advertisements

Tantangan Tujuh Hari Sampul Buku Kesukaan

Sore ini, ketika saya sedang segan-segan malas menyelesaikan film Korea berjudul Vanishing Time: A Boy Who Returned sambil menunggu waktunya untuk nongkrong dengan komunitas diskusi Onani Pengetahuan (OPen), telepon seluler saya mengabarkan bahwa saya disebut oleh seorang teman jaman SMP di Instagram.

Teman ini rupanya sedang menjalani Tantangan Tujuh Hari Tujuh Sampul Buku Kesukaan. Aturan mainnya setelah saya baca ternyata cukup sederhana: setiap hari mengeposkan sampul buku yang sangat disukai, tanpa memberikan ulasan sama sekali, sambil tak lupa menyebutkan siapa penantang dan siapa yang ditantang selanjutnya selama tujuh hari berturut-turut.

Saya adalah orang yang ia tantang di hari kelima.

Continue reading “Tantangan Tujuh Hari Sampul Buku Kesukaan”