Memaknai R.I.P

De mortuis nil nisi bonum dicendum est (“Of the dead nothing but good is to be said“)

RIP

Yayaya, saya tahu secara sosial saya tak boleh berbicara yang buruk-buruk tentang orang yang sudah meninggal. Memang secara nalar tak adil, karena kalau yang saya bicarakan itu tidak tepat atau tidak benar, orang yang sudah mati tak punya hak jawab dan hak membela diri lagi.

Tapi bagaimana kalau almarhum melakukan tindakan yang dipandang secara sosial sebagai buruk, bahkan merugikan masyarakat? Seseorang seperti Hitler atau Pol Pot misalnya, tidak bolehkah saya membicarakan keburukannya? Continue reading “Memaknai R.I.P”

Advertisements

Merayakan Kematian Saya

Don’t be afraid of death. Be afraid of an unlived life.

Ketika banyak orang sering berpikir soal bagaimana merayakan ulang tahun, saya malah berpikir bagaimana kematian saya akan dirayakan. Serius. Dari sekian banyak lamunan dan khayalan yang mampir di benak saya, saya sering sekali berpikir apa yang akan terjadi ketika saya mati. Bukan. Ini bukan soal apakah saya masuk surga atau neraka, atau apakah ada kehidupan selanjutnya setelah saya mati. Saya tak cukup berkompeten untuk membahas yang begituan, dan jujur saja, saya malah tak terlalu hirau. Yang saya bayangkan adalah bagaimana upacara pemakaman (atau pembakaran, atau apa pun itu) akan dilaksanakan.

Continue reading “Merayakan Kematian Saya”