music

Saya dan Pengaruh Musik Saya

Lagi-lagi tantangan musik 30 hari yang saya bilang asu kapan hari bikin saya berpikir tentang musik yang mempengaruhi selera musik saya. Pertanyaan yang memicu posting ini adalah “Sebutkan lagu dari band yang kamu harap masih main bareng”.

Kalau kamu bakal jawab apa untuk pertanyaan ini?

karimatapasti

Pilihan saya jatuh ke Karimata Band. Band ini didirikan tahun 1985, dan digawangi oleh Aminoto Kosin, Uce Haryono, Candra Darusman, Erwin Gutawa dan Denny TR. Selengkapnya soal band ini bisa dibaca di blog Denny Sakrie yang mengulas album pertama mereka yang bertajuk Pasti.

Yak, ini adalah salah satu album musik yang pertama-pertama saya dengarkan pas kelas satu SMP, ketika saya pertama kali ngeh soal musik dengan agak serius.

(more…)

#DailyGratitude Menonton Konser itu Bikin Norak Bahagia

img_20170315_211339_652.jpgTerserah mau dibilang sombong, tapi saya bersyukur bahwa saya akan menonton 4 konser musik sepanjang April-Juli ini. Diawali dengan Craig David yang musiknya serba romantis elektropop dan setelah bertahun-tahun kok enaknya masih tetap sama sejak saya mendengar lagunya Don’t Love You No More di tahun 2005. Lalu Dream Theater yang tahun ini merayakan 25 tahun berdirinya band mereka. Saya harus berterima kasih pada Yierick, gitaris band saya di Ames dulu yang memperkenalkan saya pada band ini. Dan saya tak pernah kehilangan selera pada John Mayer, sehingga memutuskan untuk menonton dia lagi setelah 14 tahun berlalu sejak dia belum siapa-siapa. Diakhiri dengan Coldplay, yang saya nggak familiar dengan lagu-lagunya, kecuali lagu-lagu yang seringkali dinyanyikan Daniel Kristiyanto di sesi-sesi karaoke kami. Tapi kok ya setelah melihat pertunjukan mereka di youtube pas  sesi jeda Super Bowl 50 di tahun 2015, ternyata musik mereka enak juga (plus tentu saja bisa bergaya menonton konsernya yang berpotensi akan bikin banyak pihak ngiri hahaha).

(more…)

Tantangan Lagu 30 Hari itu Asu Sekali

Meskipun tidak secara khusus menuliskannya di status Facebook seperti Jensen di atas atau di blog macam Om Warm, saya memutuskan untuk mengikuti tantangan memilih satu lagu per hari sesuai tema selama 30 hari. Biar istiqomah, alias teguh mengikuti tantangan, saya memilih bergabung posting di statusnya Jensen,  supaya ada yang mengingatkan kalau saya belum posting dalam sehari.

Hari ke-1 sampai hari ke-10, saya tidak terlalu mengalami kesulitan. Mungkin di hari ke-4, ya agak-agak gimana rasanya. Yeah, right, kan tentang someone you would rather forget about, that’s where they should be: forgotten! Terus ngapain musti ada lagunya segala? Tapi pada akhirnya malah gampang buat saya, tinggal taruh lagu tema pesta nikahan yang dulu. Kelar. Gak bikin hati kenapa-kenapa juga lagi. Selama pikiran sedang penuh dengan segalah hal lain, yang gituan tak akan membuat saya bawa-bawa perasaan.

Sampailah ke tantangan hari ke-10, dan yak, saya macet!  (more…)

Kampus Berasa Kampung: Menggugat Mitos Menara Gading

Sudah dengar soal universitas yang diibaratkan sebagai Menara Gading saking ilmiahnya penelitian di lingkungan kampus sehingga terlepas sama sekali dari remeh temeh kehidupan sehari-hari orang kebanyakan? Ya, ya, saya cukup sering mendengar betapa penelitian-penelitian di kampus itu meski di atas kertas sungguh berguna bagi kemaslahatan umat manusia, tapi dalam realitas seringkali tak lantas diterapkan untuk mengatasi masalah-masalah di masyarakat, dan tertumpuk berdebu di rak atau tersimpan di perpustakaan digital.

Tentu ini berlaku juga buat penelitian yang saya bikin, yang memang kelihatan menjanjikan untuk diterapkan, tapi pada kenyataan paling-paling cuma akan jadi bahan nggambleh saya di seminar para akademisi atau lokakarya para guru bahasa Inggris. Apakah akan benar-benar diterapkan atau tidak, wallahuallam, terserah dari masing-masing pribadi. Saya bisa saja  berkilah bahwa setidaknya saya menerapkannya di kelas saya sendiri, tapi kelas saya toh masih di lingkungan menara gading kampus. Yang lebih parah lagi, ada lho akademisi yang melakukan penelitian hanya demi mendapatkan hibah berjuta-juta, proyek ratusan juta, atau ujung-ujungnya demi mendapatkan poin demi kenaikan jenjang fungsional akademik, tak peduli apakah hasil penelitian itu mengatasi problematika kehidupan rakyat sehari-hari atau menunjukkan keterlibatan kampus dalam keberadaannya sebagai entitas di dalam suatu ekosistem sosial kemasyarakatan.

Baca moto OMB 2016: Datang Untuk BEBAS dan Menang. Freedom is one important value in my campus!

Motto OMB 2016: Datang Untuk BEBAS dan Menang. Freedom is one important value in my campus!

OK, saya memang nyinyir, tapi begitulah sebagian kenyataan dunia kampus.

Tapi kemarin, saya semacam mendapatkan pencerahan kecil, di sela-sela menonton karnaval Orientasi Mahasiswa Baru (OMB) kampus saya di jalanan Salatiga. Karnaval ini sudah berlangsung beberapa tahun di setiap akhir OMB, berupa karnaval ribuan mahasiswa baru dan kelompok-kelompok kampung/komunitas  memainkan drumblek (semacam marching band, tapi  dengan alat musik berupa bambu, galon air minum mineral, drum plastik/logam) dan menampilkan busana ala-ala karnaval di Rio De Janeiro berkeliling di beberapa jalanan utama Salatiga yang tentunya ditonton oleh masyarakat Salatiga yang sering kali haus hiburan saking kecilnya kota berpenduduk cuma 181 ribu saja ini.

(more…)