Memaknai R.I.P

De mortuis nil nisi bonum dicendum est (“Of the dead nothing but good is to be said“)

RIP

Yayaya, saya tahu secara sosial saya tak boleh berbicara yang buruk-buruk tentang orang yang sudah meninggal. Memang secara nalar tak adil, karena kalau yang saya bicarakan itu tidak tepat atau tidak benar, orang yang sudah mati tak punya hak jawab dan hak membela diri lagi.

Tapi bagaimana kalau almarhum melakukan tindakan yang dipandang secara sosial sebagai buruk, bahkan merugikan masyarakat? Seseorang seperti Hitler atau Pol Pot misalnya, tidak bolehkah saya membicarakan keburukannya? Continue reading “Memaknai R.I.P”

Advertisements

Merayakan Kematian Saya

Don’t be afraid of death. Be afraid of an unlived life.

Ketika banyak orang sering berpikir soal bagaimana merayakan ulang tahun, saya malah berpikir bagaimana kematian saya akan dirayakan. Serius. Dari sekian banyak lamunan dan khayalan yang mampir di benak saya, saya sering sekali berpikir apa yang akan terjadi ketika saya mati. Bukan. Ini bukan soal apakah saya masuk surga atau neraka, atau apakah ada kehidupan selanjutnya setelah saya mati. Saya tak cukup berkompeten untuk membahas yang begituan, dan jujur saja, saya malah tak terlalu hirau. Yang saya bayangkan adalah bagaimana upacara pemakaman (atau pembakaran, atau apa pun itu) akan dilaksanakan.

Continue reading “Merayakan Kematian Saya”

Toleransi dari Kota Salatiga

Xmas-2017Kontroversi soal fatwa MUI yang mengharamkan umat Islam untuk mengucapkan selamat berhari natal kepada pemeluk agama kristiani di twitter cukup mengusik saya. Sejak lahir saya lebih banyak tinggal di Salatiga, kota kecil di Jawa Tengah, dan yang namanya saling mengucapkan selamat berhari raya itu sudah tradisi dari jaman jebot. Jadi cukup dilematis buat saya yang muslim, tapi pernah katolik, dan sekarang kerja di universitas kristen, apakah harus mengucapkan selamat hari natal atau tidak kepada keluarga dekat dan kolega di kantor. Kalau mengucapkan, nanti dianggap haram. Kalau tidak mengucapkan, saya tidak mau juga merenggangkan rasa kekeluargaan dan pertemanan di antara orang-orang terdekat.

Continue reading “Toleransi dari Kota Salatiga”

Sugeng Tindak, Mbah…

Dalam suasana berkabung meninggalnya Mbah Putri saya, ijinkan saya menuliskan post ini dalam bahasa Jawa krama, bahasa yang diajarkan oleh Mbah Putri saya dengan sangat bagusnya tetapi karena kebodohan saya maka saya tidak menguasai dengan sepenuhnya. Mudah-mudahan di esok hari saya berkesempatan menerjemahkan post ini dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Saya harap Anda bisa merasakan keindahan bahasa Jawa itu dan memahami betapa saya lebih memilih menggunakan bahasa ini dalam menuliskan posting ini karena hanya dalam bahasa itulah saya bisa mengungkapkan perasaan saya untuk Mbah Putri saya tercinta.

Mbah Kakung lan Mbah Putri
Mbah Kakung lan Mbah Putri

 

In the event of my grandma’s passing, allow me to write this post in Javanese Krama (high level), the language that my grandma had taught me well but due to my ignorance, I do not fully master it. Hopefully I will get the chance later to translate this post in Indonesian and English. I hope you can sense the beauty of the language and understand why I prefer using this language in writing this post because only in that language I can express my feeling to my beloved grandma.

Continue reading “Sugeng Tindak, Mbah…”