SH. Mintardja: Pendekar Kata-Kata

[Bagian pertama dari Serial Penulis Kesukaan Saya. Ditulis untuk Tantangan Tujuh Hari Sampul Buku Kesukaan]

ADBM
Foto dari blog http://serialshmintardja.wordpress.com/adbm/adbm-001/

S.H. Mintardja itu buat saya pendekar kata-kata, penulis pertama yang saya kenal yang membuat saya jatuh cinta pada kebudayaan Jawa dan seni bela dirinya. Kamu nggak tahu siapa dia? Nggak apa-apa, ada banyak yang tidak tahu kok! Orang-orang dari generasi saya (iya, ngaku, saya dari generasi tahun 80-an akhir) juga tidak banyak yang tahu siapa beliau.

 

Tapi jangan khawatir! Kalau kamu google, ada kok profil beliau di wikipedia. Tapi profil beliau di sana sungguh pendek. Cuma berisi riwayat hidup dua baris yang terdiri dari dua kalimat dan daftar karya sepanjang lima belas baris. Riwayat hidup yang ditulis cuma lahir di mana, wafat di mana, dan genre tulisan beliau tentang apa. Tapi daftar karyanya, wah, ternyata lumayan panjang!

Perkenalan pertama saya dengan karya-karya beliau tidak jauh-jauh dari rumah. Ayah saya punya koleksi buku-buku beliau, terutama seri Api di Bukit Menoreh yang beratus-ratus jilid itu (baru tahu dari wikipedia kalau seri ini terdiri dari 396 jilid dan hanya berakhir karena beliau wafat) dan seri Naga Sasra Sabuk Inten. Saya mulai membaca karya-karya beliau karena ketika SD saya mulai suka membaca tapi perpustakaan sekolah saya sungguh miskin koleksi (cuma dua rak  5 tingkat ukuran 1,75 x 1 m2) dan karena semua buku di koleksi itu sudah saya baca, saya mulai menjelajah koleksi buku ayah saya yang relatif lebih banyak dari koleksi perpustakaan sekolah.

Saking banyaknya buku tulisan beliau dan karena hanya diterbitkan dalam jumlah terbatas, ayah saya punya kebiasaan mencatat di selembar kertas kecil nomor-nomor jilid berapa saja di seri Api Di Bukit Menoreh yang beliau belum punya untuk diselipkan di dompet yang dibawa ayah ke mana saja, sehingga kalau ketemu pasar loak, ayah akan bisa mencari-cari kalau-kalau ada buku bekas tulisan S.H. Mintardja di daftar itu yang bisa diketemukannya.

S.H. Mintardja selalu mengambil setting di Jawa Tengah di masa kerajaan-kerajaan masih berkuasa, terutama era Demak, Pajang, dan Mataram. Tokoh-tokohnya jago bersilat dengan ajian dan senjata yang mematikan. Tapi bukan itu yang membuat S.H. Mintardja berbeda. Beliau juga menyisipkan pengetahuan-pengetahuan yang bersifat sejarah tapi dalam konteks kehidupan sehari-hari di masa lalu. Bukti bahwa beliau pasti melakukan penelitian yang mendalam sebelum menulis.

Misalnya saja, pengetahuan mengenai arsitektur rumah Jawa tradisional. Dari karya beliau, saya mengetahui yang namanya lokangan itu kandang kuda. Di dalam rumah ada ruang-ruang tidur bernama gandhok yang berada di samping-samping seketheng, atau ruang tengah yang bernama pringgitan yang biasanya untuk pertemuan yang sifatnya pribadi. Baru setelah mengikuti pelatihan untuk menjadi pemandu wisata di Pura Mangkunegaran semasa kuliah S1, saya melihat denah rumah tradisional Jawa itu seperti apa. Dan, iya, persis seperti gambaran di otak saya ketika membaca karya beliau ketika SD!

Karya-karya beliau itu juga semacam pelarian ke dunia khayal yang melegakan, yang memberikan saya penghiburan ketika mengalami kemalangan. Dimarahi guru karena berisik? Saya bayangkan saja saya punya kemampuan seperti Agung Sedayu yang bisa menyalurkan tenaga dalam untuk menyakiti lawan lewat sorot mata, sehingga saya tinggal menatap si guru dengan sorot mata dingin lalu keluar sorotan cahaya dari mata saya yang mengarah ke si guru dan tiba-tiba si guru meloncat kesakitan karena bajunya terbakar. Jahat ya? Hahahaha.

Mungkin untuk generasi sesudah saya, dua contoh di atas itu tidak bisa dibayangkan kemanfaatannya. Tapi generasi saya sedikit banyak bisa paham. Soal denah rumah Jawa tradisional, di zaman ini tentu akan gampang sekali dicari di Internet. Tapi di zaman itu, yang namanya pengetahuan macam begitu hanya ada di buku-buku dan harus mencarinya di perpustakaan. Sayangnya arsitektur itu, apalagi rumah tradisional, adalah topik yang sangat spesifik dan spesialis, sehingga tak mudah menemukan buku tentang hal itu, kecuali di perpustakaan universitas yang punya jurusan arsitektur. Pun Salatiga itu kota kecil yang (waktu itu) punya toko buku Gramedia yang sangat kecil (2 lantai sih, tapi ukurannya cuma mungkin 12 x 7 m2), sehingga hampir mustahil menemukan buku tentang topik itu. Membaca karya S.H. Mintardja ini cara yang menyenangkan untuk belajar pengetahuan-pengetahuan soal budaya dan sejarah Jawa sehari-hari, meskipun ya harus tetap tanya-tanya kepada yang ahli untuk keakuratan non-fiksinya.

Saya juga merasa membaca karya-karya beliau menumbuhkan imajinasi saya ke arah visual yang seru. Kalau generasi jaman kini mungkin sudah tak asing lagi melihat visualisasi sorotan cahaya yang membunuh karena pernah menonton karakter Cyclops di film-film X-Men yang punya kemampuan sakti semacam itu. Memang komik-komik X-Men sudah ada di tahun 80-an, tapi tentu sangat mahal, karena tak ada versi bahasa Indonesianya dan harus dibeli dari luar negeri (yang jelas mahal juga, karena kalau pun mau jastip alias jasa titip harus bayar biaya fiskal ke luar negeri. Ada yang tahu di sini biaya fiskal itu apa? Hehehe). Ketika membaca Api di Bukit Menoreh, di pikiran saya semacam menonton film di bioskop yang visualnya seru, penuh warna, dan tokoh-tokoh pahlawan yang bertempur perang tanding melawan para penjahat. Coba deh kamu baca versi daringnya di sini atau karya-karya beliau yang lain di sini, dan kamu rasakan sendiri bagaimana imajinasi visual bisa sangat liar di kepala!

Menulis ini saya jadi ingin pulang ke Salatiga, lalu mengobrak-abrik perpustakaan ayah saya dan mulai membaca lagi karya-karya S.H. Mintardja. Perasaan saya penuh nostalgia, tentang rumah besar mbah putri, jatuhnya cahaya matahari sore dari jendela ruang tengah yang luas, dan suara-suara siswa sekolah sebelah rumah yang sedang latihan pencak silat.

Ah, buku selalu bisa membawa kembali kenangan. Iya kan?

Advertisements

Author: Neny

not your typical mainstream individual. embracing all roles without being confined in one.

3 thoughts on “SH. Mintardja: Pendekar Kata-Kata”

  1. Imajinasi njenengan dulu saja sdh jauh melampaui jamannya. Tp memang baca buku bikin imajinasi liar, lebih liar dari sekedar nonton audiovisual..

    Gimanapun, pikiran pengen ngebakar guru galak itu keren, kebayang njenengan digitiin jg sama muridnya hehehe

    Like

    1. Hahaha, kalau mendengar cerita dari mahasiswa bahwa ada teman-temannya yang paling anti masuk ke mata kuliah yang saya ampu, tampaknya pun saya sudah disiksa habis di imajinasi mereka.

      Ya, gimana ya, Om, jaman itu kan memang bisanya main imajinasi. Lha wong mau main internet belum ada je 🙂

      Like

Share your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s