Pemimpi Ulung itu Manusia Gila yang Beruntung

 

1200px-2018_fifa_world_cup-svg

Saya adalah pemimpi ulung.

Betapa tidak. Hampir semua hal yang saya capai adalah buah dari berkhayal di saat-saat yang suwung maupun reaksi terhadap suatu pengalaman. Misalnya ketika mencuci piring, BAB di WC, membaca buku, menonton film.

Khayalan saya bisa sangat gila, hingga di kegiatan mengkhayal paling ekstrim saya bisa membayangkan bahwa saya berada di situasi yang saya mimpikan, lalu ngomong sendiri menanggapi orang-orang yang ada di situasi yang saya mimpikan. Macam orang gila kan ya?

Selain ngomong sendiri, saya juga sering mengelilingi diri dengan mimpi itu, baik lewat rangsangan visual (buku, film, dsb.), auditory (musik, cerita orang, dll.), maupun kinestetik (memerankan diri dalam mimpi, cerita berapi-api soal mimpi). Pernah kan saya nulis tentang mengelilingi diri dengan mimpi di blog ini? Sudah kamu baca?

Di hari-hari awal tahun baru 2018 ini, saya sedang dalam proses memenuhi mimpi yang sudah berumur 35 dan 13 tahun. Semua gara-gara ajakan setengah permohonan untuk menemani seorang teman di sini untuk pergi berkunjung ke benua sebelah yang diajukan sejak tahun lalu. Dan tempat yang ia ajukan adalah Rusia. Wah…

Saya sebenarnya ragu-ragu untuk pergi. Satu, karena timing pergi itu di akhir bulan Juni, bulan yang menakutkan untuk semua mahasiswa PhD di kampus saya sini karena bertepatan dengan tenggat annual review yang bisa bikin nangis itu. Gimana kalau saya harus revisi laporan annual review hayo? Kedua, cek punya cek, harga perjalanan ke Rusia memang lebih mahal daripada pergi ke negara seberang kanal yang punya tiang terkenal ikonik itu. Kalau niatnya nyombong jalan-jalan, ya memang foto di depan tiang itu lebih instagrammable kan ya?

Tapi…ada mimpi saya yang sudah berumur 35 tahun dan 13 tahun loh. Tampaknya, kesempatannya sudah tiba untuk dijadikan sebagai kenyataan.

1200px-1982_fifa_world_cup-svgMimpi yang 35 tahun itu adalah tentang piala dunia. Ingatan pertama saya tentang piala dunia terjadi di tahun 1982 di mana Spanyol menjadi tuan rumah. Logo Espana 82 masih terekam kuat dalam ingatan. Ini semua gara-gara ayah saya yang suka sekali sepak bola. Beliau sampai bela-belain menggunting semua berita tentang tim-tim yang berlaga di piala dunia lalu membikin semacam guidebook tentang piala dunia dari guntingan berita-berita tersebut, lengkap dengan bagan kualifikasi hingga final beserta hasil tiap pertandingannya dalam tulisan tangan.

Jangan ditanya soal penguasaan TV selama musim piala dunia!  Tentu saja ayah saya adalah juaranya!

Beruntung jaman itu cuma ada satu kanal TV yaitu TVRI sehingga tak terjadi perebutan remote TV. Lagian jaman itu saya cuma paham Little House in the Prairie dan Si Unyil tiap hari Minggu 🙂  Tapi ingatan kuat akan betapa riuh rendahnya suasana stadion tempat piala dunia dilaksanakan dan serunya mengikuti pertandingan tiap empat tahun lewat TV tetap membekas dan membuat saya ingin merasakan langsung kegembiraan menonton pertandingan di stadion.

marinsky
Salin unduh dari situs Mariinsky. Indahnya kalau bisa menonton di sini.

Mimpi yang umurnya 13 tahun adalah buah dari bersahabat dengan orang Rusia. Jadi pas kuliah di Amrikiyah, saya punya sahabat yang berasal dari St Petersburg. Dia bangga sekali dengan kotanya, dan tahu bahwa saya suka museum dan seni, makanya dia promosi habis-habisan soal kota ini dan berjanji akan mengajak saya menonton Mariinsky Ballet. Walhasil saya pernah memasukkan St. Petersburg dalam bucket list perjalanan saya.

Hari-hari ini saya semakin pula dicekoki oleh apa-apa yang berbau sejarah kerajaan, termasuk tentang dinasti Romanov, dinasti terakhir di Rusia.  

Walhasil, saya lebih getol menonton mini seri Ekaterina ketimbang mengerjakan transkripsi wawancara (salahkan si tukang provokasi ini! huh!). Semakin kental-lah mimpi saya untuk benar-benar mengunjungi situs sejarah di sana.

Jadi, saya tetapkan diri, membuka situs FIFA, mendaftarkan nama saya untuk memenangkan undian pembelian tiket menonton piala dunia 2018 di St. Petersburg (antara pemenang grup F dan runner up grup E) dan menengok situs Google Flights untuk mencari tiket pesawat ke Rusia sambil menonton film artsy Russian Ark supaya familiar dengan interior the Winter Palace of the Hermitage di St. Petersburg.

Silakan bilang saya pemimpi ulung yang gila sampai mengelilingi diri saya dengan impian selama berpuluh tahun lamanya. Tapi dalam soal keberuntungan, saya merasa bersyukur karena saya juaranya 🙂

Apa mimpi tergilamu?

Advertisements

Author: Neny

not your typical mainstream individual. embracing all roles without being confined in one.

4 thoughts on “Pemimpi Ulung itu Manusia Gila yang Beruntung”

  1. Kata orang (entah siapa & entah baca dimana) hanya orang yg keren yg bisa bermimpi gila lalu berusaha mewujudkannya

    Eh jangan2 itu kalimat karangan saya sendiri ya ehehehe

    Mimpi tergila saya sudah lewat, ya nekat nerusin kuliah lg itu, dengan kemampuan yg seada2nya, tak tau diri emang 😀

    Daaan semoga itu sukses ke Rusia nya ya, tentu juga kalo bisa barengan sukses tesisnya juga

    Like

    1. Berarti saatnya membuat mimpi tergila baru dong, Om 🙂

      Makasih harapannya, Om, juga soal thesis itu. Deg-degan sebenarnya mau pergi, takut nggak keburu. Tapi kalau nggak nekat ya nggak sampai Rusia 🙂

      Like

Share your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s