Memaknai R.I.P

De mortuis nil nisi bonum dicendum est (“Of the dead nothing but good is to be said“)

RIP

Yayaya, saya tahu secara sosial saya tak boleh berbicara yang buruk-buruk tentang orang yang sudah meninggal. Memang secara nalar tak adil, karena kalau yang saya bicarakan itu tidak tepat atau tidak benar, orang yang sudah mati tak punya hak jawab dan hak membela diri lagi.

Tapi bagaimana kalau almarhum melakukan tindakan yang dipandang secara sosial sebagai buruk, bahkan merugikan masyarakat? Seseorang seperti Hitler atau Pol Pot misalnya, tidak bolehkah saya membicarakan keburukannya?

Halah, kok ndakik-ndakik sampai Hitler dan Pol Pot segala. Kalau mau merenungkan, coba teringatkah kamu tentang orang-orang yang ketika mati kamu tak merasakan emosi sedih dan kehilangan? Bahkan mungkin kamu merasa lega bahwa akhirnya ia mati.

Saya mengalami episode ini kemarin ketika salah satu paman saya meninggal karena sakit yang sudah lama. Begitu dikabari bahwa ia mati, reaksi saya dalam hati adalah “Ah, akhirnya ia mati. Akhirnya ia tak lagi merepotkan keluarga dan sanak saudara dengan kelakuannya yang sok memerintah, sok tahu, dan sok-sok lainnya.” Ketika datang ke rumah duka dan bertemu lalu berbicara dengan sanak saudara yang lain, pikiran saya semakin sebal saja karena setelah mati pun almarhum masih merepotkan yang masih hidup dengan wasiat segala rupa yang membuat upacara pemakaman jadi ruwet dan ribet, dengan alasan kebanggaan yada yada yada. Halah, wong sudah mati saja lho masih mikir kebanggaan!

Jahat sekali ya saya?

Alih-alih mengingat segala kebaikannya, saya masih teringat segala tindakan yang ia lakukan semasa hidup yang membuat saya (dan orang tua dan nenek saya) sakit hati. Ketimbang memberikan kata-kata penghiburan kepada bibi saya yang menangis di pelukan saya ketika saya mengucapkan bela sungkawa, saya cuma lempeng diam dan berpikir bahwa segala kecapekan dan kerepotannya mengurusi paman saya semasa hidupnya sekarang sudah berakhir. Bukannya saya membantu ini-itu di rumah duka, saya malah memilih melarikan diri ke sana ke mari dengan berbagai alasan agar saya tak perlu berlama-lama di rumah duka, lalu harus mendengar segala cerita tentangnya dan berbasa-basi menanggapi obrolan sepupu-sepupu dan paman bibi saya yang memang dari dulu saya tidak cocok (dan pasti akan ada pertanyaan-pertanyaan yang bisa bikin depresi macam ‘apa kabar anak satunya yang tinggal dengan mantan?’ atau yang nggak penting macam ‘kapan menikah lagi?’ atau pembicaraan membanding-bandingkan antar sepupu yang isinya sekarang kerja di mana, sudah mencapai ini itu, punya ini itu, cuih puih wek juh).

Ah, saya masih belum ikhlas dengan kepergiannya. Bukan. Ini bukan soal almarhum. Tapi soal saya yang masih punya ganjalan-ganjalan hati hasil bertahun-tahun memendam kesebalan atas kelakuannya. Bahkan ketika ustad memberikan khotbah tentang keikhlasan melepaskan kepergian almarhum, saya mendengarkan dengan separuh hati. How can I let him go with all the emotional and psychological baggage attached to his actions in the past?

Saya ingin mencaci-makinya. Saya ingin mengungkapkan kemarahan saya atas apa yang ia lakukan pada saya, orang tua saya, dan nenek saya. Saya ingin ia tahu bahwa apa yang ia lakukan telah menorehkan luka mendalam dalam keluarga kecil kami. Saya ingin dia menyadari kelakuannya, lalu meminta maaf kepada kami.

Tapi sambil menuliskan ini, saya lalu tersadar: apa yang ia lakukan, seburuk apa pun, telah membentuk saya seperti saya yang sekarang ini. Dan saya puas dengan diri saya yang sekarang ini. Apa pun tindakannya, semenyakitkan apa pun,  telah memicu kejadian-kejadian dalam hidup saya yang bisa dibilang sungguh baik bagi diri saya. Semua pendidikan yang saya tempuh, hingga berkelana ke negeri-negeri asing, yang membuat saya ditempatkan di pekerjaan yang saya sukai dan saya banggakan, itu semua terpicu oleh perlakuan dan tindakannya yang pada masa lampau menyakitkan, namun di masa kini baru saya sadari berbuah manis. Apa yang kini dimiliki oleh keluarga kami adalah tanggapan yang pada masa itu harus kami lakukan demi mengeluarkan diri kami dari situasi tidak menyenangkan yang telah ia ciptakan.

Oh wow, everything happened for a reason. It’s so freaking true.

Pada akhirnya saya cuma bisa bilang “Rest, but maybe not in peace, Pakdhe. Seburuk-buruknya kamu, saya berterima kasih atas segala yang telah kamu lakukan. Biar Yang Maha Menghakimi saja yang menimbang segala amal dan dosa yang kamu lakukan sepanjang masa hidupmu. Tugas saya cuma menyinyiri kamu di blog.

Pagi ini saya menyesap secangkir kopi pahit di meja saya sambil menuliskan ini, lalu berefleksi, ah, bukankah saya sendiri yang suka bilang, saya suka kopi pahit supaya selalu diingatkan dan dibiasakan dengan kenyataan hidup yang acapkali pahit? Tapi pada akhirnya bukankah kopi pahit pun pada galibnya juga nikmat dan bermanfaat?

Saya bersyukur atas secangkir kopi pahit, pagi yang cerah, dan berakhirnya masa hidup seorang manusia dengan segala dampak yang telah ia torehkan dalam hidup saya. Tuhan itu Maha Seru! Ya kan?

Advertisements

Author: Neny

not your typical mainstream individual. embracing all roles without being confined in one.

2 thoughts on “Memaknai R.I.P”

  1. coba teringatkah kamu tentang orang-orang yang ketika mati kamu tak merasakan emosi sedih dan kehilangan?

    Teringat duluan malah teman sekolah dulu yang pernah bikin masalah. Tewas kecelakaan saat kuliah, dan saya lega.

    Like

Share your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s