Marlina: Pahlawan Perempuan dalam Diam

marlina_1508165313
Foto dari Beritagar (https://beritagar.id/artikel/seni-hiburan/marsha-timothy-menang-di-catalunya)

[T]he birth of the reader must be at the cost of the death of the Author (Roland Barthes, 1977, p. 148)

Si Pengarang harus mati demi kelahiran seorang Pembaca, begitu tulis Barthes dalam esainya “The Death of The Author”. Jika ditarik dalam kerangka pandang yang lebih luas bahwa ‘teks’ itu tak melulu berbentuk tulisan tetapi sebagai karya dalam bentuk apa saja, esensi dari sebuah karya bukan hanya pada penciptaannya tetapi pada tujuannya. Sebuah karya menjadi utuh ketika makna karya itu tak hanya dari sudut pandang si pencipta tetapi juga dari sudut pandang penikmatnya.

OK, saya tampaknya kebanyakan mengurusi studi PhD sehingga tulisan saya ini mulai dengan teori yang ribet ya? Padahal saya mau menulis soal film yang baru saya tonton akhir pekan lalu, yaitu Marlina: The Murderer in Four Acts dan perenungan yang saya alami setelah menontonnya. 

Ketika memutuskan untuk menonton film tersebut, kemauan saya cuma sederhana saja: susah sekali mendapatkan film Indonesia dengan cara mengunduh secara gratisan (hahaha, so typical yaaaaa) menonton film Indonesia yang genrenya saya suka (yaitu murder mystery berbau detektif model-model Agatha Christie yang novel-novelnya saya sukai). Selain itu, setting penceritaan film ini dengar-dengar di Sumba, Indonesia Timur, dan kalau kamu kenal saya kamu pasti tahu kenapa saya punya kedekatan emosional dengan Indonesia Timur. Terlebih lagi, dari beberapa cuitan di Twitter, tampaknya film ini mendapatkan tanggapan yang positif dari penonton, sehingga semakin menguatkan keinginan saya menonton sebelum film ini habis masa tayangnya di bioskop.

Saya pun lalu pergi menonton dengan pengetahuan yang hampir nol tentang info mendasar film ini. Saya tak tahu siapa sutradaranya, siapa pemainnya, dan tentu apa isi ceritanya karena saya pantang membaca spoiler. Saya cuma tahu sedikit bahwa setting penceritaannya di Sumba dan tentang seorang perempuan bernama Marlina, yang memainkan peran sebagai pembunuh.

Walaupun pengetahuan saya tentang film ini serba minimalis, tentu saja sebagai penikmat saya membawa pengetahuan-pengetahuan yang relevan dengan film ini ketika memasuki ruang teater, beserta ekspektasi-ekspektasi sebagai konsekuensi dari pengetahuan-pengetahuan itu. Persinggungan saya dengan Sumba dan NTT, baik lewat perjumpaan dengan orang-orang dari sana dan ketika tinggal di SoE misalnya, membuat saya sedikit banyak akrab dengan bahasa dan budaya daerah sana, sehingga saya cukup punya harapan bahwa bahasa dan budaya NTT akan terwartakan dengan kuat dalam film ini. Minat saya dalam genre murder mystery membuat saya cukup akrab pula dengan plot penceritaan  4 babak  gaya P.D. James yang biasanya dimulai dengan adanya pembangunan suasana dan pembunuhan, investigasi, penyingkapan, lalu  penjelasan atau penyelesaian. Pasti di film ini akan ada yang dibunuh, akan ada penyelidikan, penyingkapan, dan penjelasan.

Apakah pengetahuan dan ekspektasi saya terkonfirmasi dalam film ini? Sering saya mengalami bahwa ekspektasi saya berlawanan dengan apa yang ditawarkan dalam sebuah film, terutama ketika saya sudah membaca buku yang menjadi dasar dari film tersebut. Tentu kamu juga kadang mengalaminya, sehingga lumayan sering juga membaca review film yang beraneka ragam pendapatnya. Ada yang suka, ada yang tak suka, yang walaupun bisa dianggap personal dan emosional, tapi bisa pula terjadi karena secara logis pengetahuan dan harapan penikmat dengan pengetahuan dan ekspektasi si pencipta tidak sejalan dan sepaham.

Kalau main pendekatan positivis yang secara zakelijk alias saklek di mana ada nilai yang benar dan salah, tentu ini salahnya penikmat yang tidak paham maunya pencipta, atau salah pencipta yang tidak benar menginterpretasikan buku ke film. Dalam pembahasaan Literary Theory, pendekatan macam begini ini memberlakukan teks sebagai sesuatu yang tertutup, yang boleh diinterpretasikan berupa-rupa tapi interpretasi itu berdiri sendiri-sendiri, boleh semaunya masing-masing tapi tak boleh dihubung-hubungkan. Kalau pencipta maunya A ya sudah A saja, penikmat tak boleh mengusik-usik maunya si pencipta. Atau seorang penikmat menginterpretasi secara B dan sama sekali boleh melompat jauh dari maunya pencipta, tanpa boleh dihubung-hubungkan apalagi dikritisi. Egois ya? Ya begitu deh…

Tapi kalau pakai pendekatan constructivist Barthes yang merunut ke pendekatannya Umberto Eco yang model open text, maka segala interpretasi bisa berupa-rupa tapi saling berhubungan dan melengkapi. Sebuah karya dilihat sebagai suatu teks yang belum lengkap, hingga kemudian berbagai penikmat melengkapinya dengan kesan dan interpretasi berupa-rupa, namun tak saling menafikan sehingga makna karya tersebut menjadi utuh seperti yang dibilang Barthes di atas. Jadi saya akan menawarkan pemaknaan film Marlina dalam upaya untuk membangun bersama makna tentang film Marlina ini bersama penciptanya dan para penikmat yang lain, tanpa  berusaha  menghakimi ini itunya si penciptanya.

Dari sudut pandang saya sebagai penikmat, dalam soal pewartaan alam, budaya, dan bahasa Sumba, saya boleh bilang film Marlina ini telah cukup mampu memenuhi harapan saya. Penuturan sinematografi yang menampilkan lanskap Sumba yang indah dalam cuaca serba panas dan perjuangan untuk mengolah tanah dan mengelola ternak serta keterpencilan antar rumah dan minimnya transportasi adalah gambaran yang nyata tentang situasi di sana. Kuping saya sedikit gagal paham ketika tokoh Markus bicara (bahkan saya harus membaca subtitle dalam bahasa Inggris agar bisa mengikuti apa yang disampaikannya) karena kok buat saya logatnya Indonesia Timur entah dari mana asal muasalnya, tapi usaha Timothy Marsha untuk menggunakan logat Timor saya apresiasi karena mengingatkan akan cara berbicara beberapa teman di SoE. Tokoh Novi sungguh bikin saya sesekali tertawa karena liukan nada bicara dan beberapa istilah yang dia pakai itu sungguh Indonesia Timur (Bodoh mati! Hahahaha). Saya bisa mengerti dalam soal detil-detil bahasa macam begini, biaya yang harus dikeluarkan untuk menampilkan secara akurat logat membutuhkan investasi waktu dan usaha si aktor yang cukup panjang yang mungkin dijadikan prioritas kesekian ketimbang penggambaran akurat lokasi yang relatif lebih mudah dicapai.

Dalam soal plot, tak ada misteri di dalam film ini. Sejak Act I: the Robbery, sudah tak ada lagi misteri siapa pembunuhnya. Bahkan dari judul saja sudah ketahuan, sehingga tak perlu mengharap bahwa film ini akan mengikuti plot klasik empat babak model P. D. James di atas. Sejak awal menonton saya pun tak terlalu fokus pada siapa yang membunuh, tapi lebih pada motif mengapa pembunuhan itu menjadi sesuatu yang logis untuk dilakukan, bagaimana pembunuhan dilakukan, dan apa yang kemudian dilakukan oleh si tokoh pembunuh dalam mengatasi konsekuensi-konsekuensi dari aksi yang dilakukannya.

Kalau saya boleh menawarkan pemaknaan atas film ini, saya mendapatkan kesan yang sangat kuat tentang aroma perempuan dalam film ini. Terlepas dari sutradara film ini yang memang  perempuan yang saya tidak tahu sama sekali sebelumnya (Halo, Mbak Mouly, you’re my new favorite director!), tokoh-tokoh yang berperan dalam memungkinkan bagaimana pembunuhan dilakukan dan diselesaikan adalah perempuan, dengan pilihan-pilihan atas konsekuensi yang menurut saya logis diambil oleh perempuan dengan segala tantangan dan kemampuannya. Dalam situasi di mana seorang perempuan sebatang kara, tanpa bantuan siapa pun, tinggal di rumah yang adoh lor, adoh kidul (istilah Jawa untuk jauh dari utara, jauh dari selatan, alias terpencil), lalu mengalami kekerasan fisik dan ekonomi, hanya ada sedikit pilihan yang bisa diambil dengan sumber daya yang ada, yaitu mengeliminasi si pelaku kekerasan dengan cara meracun (karena kalau dalam gaya Agatha Christie, senjata perempuan itu racun yang tidak butuh banyak aksi fisik) dengan menggunakan buah beracun yang memang secara alamiah ada di sekitar rumah. Bahkan ketika Marlina memenggal kepala pemerkosanya, tindakan itu adalah tindakan reaktif yang mungkin dilakukan karena kebetulan ada parang yang tergeletak di samping tubuh pemerkosanya.

Dan menariknya, semua tokoh yang membantu Marlina adalah perempuan dengan pemakluman atas tindakan Marlina membunuh pelaku kekerasan terhadap dirinya. Mereka bisa menerima mengapa Marlina terpaksa harus membunuh si pelaku. Novi dan si nenek, misalnya, tak ragu untuk menaiki truk bersama Marlina meskipun Marlina menenteng-nenteng kepala Markus, sedangkan seluruh isi truk (yang semuanya lelaki) tergopoh-gopoh keluar dari truk, tak berani mengambil resiko bermasalah dengan polisi. Bahkan si supir truk (yang kebetulan lelaki) harus diancam dulu dengan parang baru kemudian mau mengantarkan Marlina ke kantor polisi. Atau si gadis kecil Topan yang menawarkan keteduhan dalam bentuk makanan dan tumpangan serta pelukan di kala Marlina tak mendapatkan bantuan dari polisi ketika melaporkan kekerasan yang dialaminya, karena segala alasan keterbatasan waktu, alat, dan transportasi, padahal mereka punya segala waktu untuk bermain pingpong ketimbang segera memproses laporan Marlina.

Tokoh-tokoh pembantu perempuan dalam film ini menawarkan bantuan dalam bentuk yang menurut saya tipikal perempuan: pelukan Topan ketika Marlina menangis, Novi yang membujuk Marlina untuk bercerita soal tindakannya membunuh dan memberikan tanggapan yang menunjukkan empati dan persetujuan atas tindakannya, penerimaan si nenek tanpa banyak bertanya mengapa si supir harus segera mengantar Marlina ke kantor polisi. Sedangkan semua tokoh lelaki dalam film ini serba abai tak mau membantu, misalnya dengan para penumpang truk yang cuci tangan tak mau kena masalah, atau polisi yang kelihatannya membantu tapi pada akhirnya tak mau berbuat apa-apa dengan berbagai alasan klise. Atau alih-alih membantu, malah menanggapi dengan tindakan yang mengedepankan kekerasan baik secara verbal maupun fisik, misalnya tindakan Umbu yang mendengar cerita Novi yang mau membantu Marlina, tapi malah kemudian menamparnya dan meninggalkannya begitu saja di jalan (duh saya emosi sekali dengan lelaki satu itu!).

Ketika film berakhir dengan Marlina mengantar Novi pulang dengan mengendarai motor trail yang khas lelaki, saya mendapat kesan bahwa life goes on, hidup kembali pada irama seperti biasanya, seolah pembunuhan 5 orang yang serba berdarah dan perkosaan yang brutal itu berlalu begitu saja. Tak ada perubahan signifikan dalam hidup tokoh-tokohnya, semacam di film-film Hollywood atau sinetron-sinetron TV Indonesia. Buat penikmat yang cuma sekadar menikmati saja tanpa berpikir, akhir cerita film ini bisa jadi antiklimaks. Tak ada sorak-sorai tepuk tangan atas aksi Marlina dan penolong-penolongnya yang terbilang heroik. Padahal gila sekali lho itu cewek, luar biasa kuat mental dan fisiknya mengalami perampokan dan perkosaan dari 7 orang penjahat yang punya kekuatan fisik dan dukungan peralatan yang lebih superior tapi toh ia mampu mengalahkan telak para penyerangnya.

Ah, tapi bukankah perempuan itu begitu? Kaum yang sebenarnya super kuat dan perkasa tapi dalam kemasan yang terkesan lemah lembut dan tak kasatmata? Bagaimana menurutmu?

 

 

Advertisements

Author: Neny

not your typical mainstream individual. embracing all roles without being confined in one.

6 thoughts on “Marlina: Pahlawan Perempuan dalam Diam”

    1. Kalau pakai pikiran positif, biar sudah nanti polisi urus 2 hari kemudian pas olah perkara. Bantu kubur ka, bantu usut ternak yang hilang ka.

      Atau cara gampang, cari suami lagi! #eh

      Like

    1. wah, saya malah baru ngeh kalau nulis ulasan film macam begini itu namanya dekonstruksi padahal maunya konstruktivis loh, Om.

      Ya kalau yang terakhir itu tidak disetujui, bisa diamuk-amuk nyonyah di rumah, Om, hahahahha

      Like

      1. wah, justru lebih dalem lagi kalo ngarah ke konstruktivis, angkat tangan saja sayah haha

        dan soal paragraf terakhir, faktanya memang demikian, selain memang ya begitulah haha

        Like

      2. Keknya dalam soal istilah-istilah begini saya harus buka ensiklopedia lagi, Om. Kadang bingung-bingung mana yang apa (buat nulis ini saya musti buka buku lagi hahaha)

        Like

Share your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s