Komisi Etika Penelitian, Oh, Ribetnya!

Setelah setahun berjuang menulis proposal penelitian dan melalui proses Annual Review yang berdarah-darah oleh para pembimbing dan internal reviewer saya, akhirnya topik penelitian saya diterima bulan Agustus lalu. Yay!

Saya sudah tak sabar ingin segera melakukan penelitian lapangan. Separuh karena ingin segera masuk ke tahap berikutnya dari penelitian yaitu mengambil data. Separuh tentu karena ingin pulang kampung (sebenarnya ini alasan yang utama sih hahaha). Belum lagi karena topik saya adalah tentang praktik mengajar dan ‘mata kuliah’ ini hanya ditawarkan di semester ganjil (Agustus-Desember) di program studi sasaran penelitian saya, maka saya mau tak mau harus segera menjalani penelitian lapangan kalau tak mau kehilangan partisipan penelitian. 

Celakanya, di universitas-universitas negeri sono, sebelum melakukan penelitian lapangan, proposal saya harus lolos di Komisi Etika (di kampus saya namanya  University/School Research Ethics Committee/UREC atau School Ethics, di kampus saya di Amrik sono namanya Institutional Review Board/IRB), karena penelitian saya melibatkan manusia. Komisi Etika, yang terdiri dari para peneliti  ini tugasnya adalah mengkaji penelitian-penelitian yang melibatkan manusia untuk memastikan bahwa peneliti menghormati dan melindungi hak-hak dan kesejahteraan partisipan selama keterlibatannya dalam penelitian. Kalau katanya website Komisi Etika kampus saya, tugas komisi etika itu adalah memastikan bahwa penelitian dilakukan secara etis, yang mengikuti prinsip-prinsip Etika Penelitian, yang didefinisikan sebagai:

… is a world-wide set of principles governing the way any research involving interaction between the researcher and other humans or human tissue or data relating to humans, is designed, managed and conducted. In preparing a research project, the dignity, rights, safety and well-being of human participants must at all times be considered, respected and safeguarded. (… serangkaian prinsip-prinsip yang berlaku secara global yang mengatur bagaimana penelitian apa pun yang melibatkan interaksi antara peneliti dengan manusia-manusia lain atau dengan jaringan tubuh manusia atau dengan data yang berkenaan dengan manusia, dirancang, dikelola, dan dilakukan. Dalam mempersiapkan suatu proyek penelitian, martabat, hak-hak, keselamatan, dan kesejahteraan para partisipan manusia harus selalu dipertimbangkan, dihormati, dan dilindungi.)

Mulia sekali bukan?

Iya, mulia, dan separuhnya sebenarnya ya untuk mengantisipasi urusan tuntut-menuntut secara hukum. Maklum, di negara sono-sono warga negara sangat melek soal hak-hak mereka, sehingga sedikit saja hak ini dilanggar atau mereka merasa dirugikan, mereka akan dengan reaktif memprotes. Universitas tentunya tidak mau terlibat dalam urusan hukum yang bisa berlangsung lama dan menghabiskan sumber daya yang banyak.

Apakah prosesnya mudah? Oh, tentu tidak! Salah satu sumber sakit kepala dan kegemasan para peneliti di negara sono adalah proses mendapatkan persetujuan dari Komisi Etika kampus/negara. Ini urusan yang bukan main-main! Dan karena bukan main-main, prosesnya bisa lama dan sangat terinci, tergantung dari masing-masing lembaga Etika.

Sebagai gambaran saja di kampus saya, Ethics Research Management (ERM) memberikan perkiraan waktu kajian selama 4-8 minggu, tergantung dari tingkat resiko penelitian dan tentu saja jadwal rapat komisi yang anggotanya dipilih dari seluruh peneliti kampus/jurusan.

Tingkat resiko penelitian ada tiga: low, medium atau high, tergantung dari siapa partisipan, alat pengambilan data, dan lokasi pengambilan data. Kalau tingkatannya low atau medium, cuma butuh kajian di tingkat School (setingkat jurusan di Indonesia). Kalau high, langsung masuk ke UREC (tingkat universitas). Penelitian saya masuk ke medium, karena melibatkan partisipan yang tidak termasuk partisipan beresiko (orang dewasa berusia di atas 16 tahun, bukan dari kelompok-kelompok resiko tinggi misalnya anak-anak, orang sakit fisik/psikologis, narapidana, semacamnya), dengan alat pengambilan data yang menghasilkan data audio dan teks, dan dilakukan di negara yang dikategorikan sebagai aman untuk dikunjungi oleh pemerintah Inggris  sehingga cuma butuh kajian di tingkat School saja (tapi tetap 4-6 minggu lamanya huhuhu)

Celakanya, para anggota komisi etika itu manusia juga, sehingga butuh liburan dan jalan-jalan juga. Di negara empat musim, sudah jamak liburan kampus dijatuhkan di musim panas (Juli-Agustus) karena hawanya enak buat jalan-jalan. Jadi meskipun saya maunya kelar Annual Review (bulan Juni) dan revisi proposal (Juli) langsung memasukkan lamaran ke Komisi Etika di bulan Agustus, saya tetap harus menunggu sampai mereka berapat di bulan September. Pantesan waktu menyampaikan jadwal pengambilan data di bulan Juli-Desember di awal program PhD bapak pembimbing ganteng menilai jadwal itu sebagai ‘ambisius’, lha wong memang tidak masuk di perhitungan waktu kajian dan rapat kajian etika kok. Baiklah, saya maafkan bapak pembimbing ganteng yang tidak segera menyetujui jadwal saya karena selain dia ganteng (halah!), alasannya juga masuk akal.

Untuk melamar ke Komisi Etika, kampus saya memakai sistem lamaran daring, jadi relatif lebih mudah dan bisa setiap saat dilihat statusnya. Namanya Ethical Review Management (ERM). Setiap peneliti (dosen maupun mahasiswa) mempunyai akun di situs itu. Semua informasi tentang Ethics Review lengkap disediakan di situ, walaupun setelah menggunakannya, saya boleh bilang bahwa navigasi situsnya plus informasinya cukup membingungkan karena tersebar di halaman mana-mana.

Selain harus menjawab banyak sekali pertanyaan tentang penelitian dalam bahasa yang harus dipahami orang awam, saya juga harus melampirkan beberapa dokumen penunjang. Di antaranya lembar informasi penelitian untuk partisipan, formulir surat persetujuan partisipan untuk terlibat dalam penelitian, daftar pertanyaan yang akan saya ajukan ke partisipan, jadwal pengambilan data, dan kajian tentang resiko dan keselamatan saya maupun partisipan selama pengambilan data.

Intinya, lamaran saya harus bisa dipahami para anggota Komisi Etika yang mungkin bukan ahli dalam topik penelitian saya dan menggunakan metode penelitian dan analisis yang sedapat mungkin tidak menyakiti partisipan. Itu saja sih. Tapi ya detilnya bisa sangat ruwet. Misalnya saja, seorang teman yang memakai vlog untuk partisipan yang murid-murid SMP/SMA sebagai alat pengambilan data mengalami kesulitan karena lamarannya dikembalikan dengan catatan bahwa dia harus menjelaskan secara rinci apa itu vlog dan apa saja yang dibutuhkan oleh para partisipan dalam membuat vlog. Padahal vlog itu kan sesuatu yang sudah wajar dibuat oleh kids jaman now. Tampaknya para anggota komisi itu kids jaman old hahahaha.

Setiap lamaran dari mahasiswa PhD harus disetujui oleh pembimbing. Ini mudah saja sih, karena saya tidak harus menyampaikan bukti fisik tanda tangan beliau lalu mengunggahnya ke ERM. Saya hanya wajib memasukkan nama pembimbing utama saya beserta emailnya, dan secara otomatis sistem memverifikasi dan menghubungkan lamaran saya dengan akun beliau (gak kayak di Indo yang semua-semua butuh bukti fisik tanda tangan, cap tiga jari, stempel nganu-nganu, unggah di sistem, walaupun mestinya informasi sudah ada di pangkalan data dan tinggal diverifikasi). Para pembimbing saya akan mendapatkan notifikasi lewat email bahwa saya sudah memasukkan dan menandatangani secara elektronik (centang saja di submission box) dan beliau-beliau tinggal masuk ke sistem, centang di approval box untuk persetujuan, dan, voila, saya tinggal memasukkan secara final lamaran saya lalu ongkang-ongkang kaki menunggu rapat komisi dan persetujuan.

Eh, nggak serta merta setelah dirapatkan langsung disetujui sih. Kalau segampang itu, ngapain saya menuliskan ini? Kebanyakan lamaran akan dikembalikan dengan catatan revisi, entah karena para komisi yang bodoh kritis mempertanyakan beberapa detil informasi penelitian, atau karena dinilai penelitian itu butuh skema penelitian yang lebih aman untuk para partisipan. Tinggal berharap saja apakah revisi ini mudah atau sulit dieksekusi. Seminggu setelah memasukkan lamaran, saya menerima email revisi dari komisi yang cukup mudah untuk dilakukan (saya salah memasukkan tanggal pengambilan data, yayaya, saya tidak teliti mengklik karena udah kebelet, dan ada prosedur pengambilan data yang kurang terinci). Tapi ada juga teman yang sampai beberapa minggu menunggu respon dari komisi lalu menghabiskan beberapa minggu merevisi.

Total waktu menunggu dan merevisi saya? Waktu tunggu sebulan, karena saya memasukkan minggu pertama Agustus dan komisi baru  berapat di bulan September. Waktu revisi saya cuma dua hari (Oh, saya merasa sangat jagoan ahahhahaa). Jadi totalnya adalah 5 minggu saja. Yes!

Untuk ukuran jurusan saya, saya termasuk orang-orang yang beruntung karena tak perlu berlama-lama mengurus persetujuan komisi etika. Kenapa bisa begitu? Ada beberapa tips untuk sukses mengurusnya.

Satu, saya memastikan bahwa semua informasi mengenai syarat-syarat lamaran sudah saya pahami dengan baik. Dalam soal ini, situs ERM sangat komplit menyediakan informasi. Bahkan sebelum mengisi lamaran, saya membuka semua tautan di ERM (ada 16 halaman tautan, Saudara-Saudara!). Pusing sih, tapi ini memudahkan saya dalam mempersiapkan isian dan dokumen penunjang lamaran.

Kedua, saya memastikan bahwa proposal saya sangat mendetil, terutama di bagian metodologi pengambilan data, bahkan sampai ke alat-alat yang mau dipakai. Sehingga ketika diminta menjelaskan di ERM, saya tinggal salin tempel saja dari proposal, dan mengunggah dokumen penunjang penelitian berupa lembar informasi partisipan, lembar persetujuan keterlibatan partisipan dalam penelitian, dan daftar pertanyaan wawancara.

Ketiga, perkirakan waktu proses lamaran dengan seksama, sehingga ada waktu yang cukup antara disetujuinya lamaran dengan tenggat-tenggat penelitian karena kalau meleset, saya harus mengajukan/merevisi lamaran lagi. Saya tentu nggak mau dong harus menghabiskan paling tidak 3-4 hari untuk mengulik situs ERM lagi. Kebayang ribetnya aja males.

Keempat, hubungan baik dengan pembimbing harus dijaga, karena beliau-beliau punya akses separuh dewa ke ERM sehingga bisa membantu kalau ada kesulitan mendapatkan persetujuan komisi. Salah satu teman satu pembimbing dengan saya misalnya, sangat dibantu oleh pembimbing untuk menanyakan lamarannya yang terkatung-katung di komisi. Dari mulai bolak-balik saling email untuk membantu proses revisi, hingga ‘memaksa’ komisi untuk menyetujui lamaran, pak boss sangat proaktif sehingga si teman bisa tepat waktu mengambil data di lapangan.

Daaaaan, akhirnya persetujuan komisi saya kantongi dan saya bisa pergi pulang kampung mengambil data di lapangan. Begitukah? Oh, tentu tidak! Jurusan mensyaratkan bahwa saya harus mendapatkan persetujuan untuk mengambil data di lapangan yang syarat-syaratnya tak kurang aduhai.

Tapi itu bahan cerita di lain posting. Singkatnya, sekarang saya sudah berada di kampung halaman yang menyenangkan makan-makannya tempat pengambilan data.

Ada yang mau kopdar dengan saya membantu saya ambil data?

Advertisements

3 comments

  1. Tak sanggup sekedar membayangkannya euy. Btw selamat ngambil data, smoga terus sukses sampe pengolahan data dan defense sampe balik kampung lg.

    Lalu. Saya sih pengen bantuin, tapi kan jauh ki pripun 😀

    Like

    1. Makasih, Om. Iya, bosen banget nunggu Ethics. Tapi ya selamat bisa cepat. Sekarang tinggal males transkripsi hasil wawancara hahaha. Maunya makan dan dolan melulu. Kalau jauh didekatkan dong (maunya…)

      Like

Share your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s