Cara Mendapatkan Pembimbing S3 di Luar Negeri

Mbak Nen, gimana sih caranya bisa studi S3 di luar negeri?

How do I choose my supervisor

Not. Hahaha.

Saya seringkali mendapat pertanyaan macam begini. Di beberapa forum, saya juga pernah membagikan pengalaman dan tips untuk ini. Kalau di-google, ada banyak posting dan tautan tentang ini. Tapi tidak ada salahnya untuk saya membagikan pengalaman dan tips saya dalam hal ini, terutama dalam salah satu langkah yang cukup bikin repot dan susah dalam proses studi S3 di luar negeri yaitu mendapatkan pembimbing S3. 

Oh iya, sebelum mencari pembimbing, ada 2 langkah yang perlu dilakukan, yaitu mencari program studi S3 yang dimaui dan menyiapkan syarat-syarat melamar ke program studi tersebut. Tapi saya nggak akan membahas itu di posting ini karena sebenarnya 2 langkah ini relatif lebih mudah, asal mau melakukan penelitian dan meramban ke berbagai tautan universitas.

Mendapatkan pembimbing S3 itu susah-susah gampang, karena ada faktor keberuntungan di dalamnya. Mencarinya sih mudah, karena dengan Internet, hampir semua perguruan tinggi punya situs resmi yang biasanya mencantumkan daftar calon pembimbing dengan keahlian masing-masing beserta kontak mereka. Tapi menaklukkan hati calon pembimbing itu butuh trik-trik tertentu. Mari kita bahas langkahnya satu demi satu.

1/ Ketahui bidang/topik penelitian yang kamu maui

Ini adalah langkah yang saya rasa paling mendasar. Studi S3 itu bukan studi yang pendek dan gampang. Bisa jadi kamu akan menginvestasikan waktu selama 3-7 tahun untuk menjalaninya, dengan usaha yang konsisten dan sepenuh pikiran. Jadi jangan sampai salah pilih bidang/topik penelitian sehingga di tengah-tengah proses kamu jadi bosan atau malah mati gaya.

Caranya bisa berbagai rupa. Mungkin kamu pernah menulis tentang topik penelitian itu dan mau tahu lebih banyak tentang hal itu. Atau kamu  pernah membaca satu buku/artikel jurnal yang membuat kamu ingin meneliti lebih lanjut tentang topik itu. Bisa juga karena pernah menghadiri suatu sesi konferensi yang topiknya menarik minatmu. Atau, yang paling logis, karena kamu bekerja di bidang/topik itu (yang moga-moga topiknya adalah topik yang kamu suka, dan tidak sekedar karena terjebak di bidang itu yaaaa).

2/ Jangan malas mencari informasi

Setelah menentukan bidang/topik penelitian yang kamu maui, ini saatnya mencari informasi tentang program studi S3. Seperti saya bilang di atas, nggak sulit kok meramban Internet untuk menemukan situs resmi universitas yang mencantumkan program studi apa saja yang mereka tawarkan, plus daftar calon pembimbing beserta latar belakang penelitian mereka. Universitas dan jurusan saya misalnya, punya halaman khusus untuk calon mahasiswa S3 yang ingin menemukan calon pembimbing (narsis dikit ya sama pembimbing saya nan ganteng ini hihihi).

Cobalah melihat meneliti bidang minat dan daftar karya yang sudah mereka terbitkan. Apakah sama/mirip dengan bidang minat/topik penelitianmu? Kalau perlu, carilah buku/artikel yang sudah mereka tulis dan bacalah secara cepat agar kamu sedikit paham dengan apa yang tengah mereka teliti.

Cara lain untuk mendapatkan informasi tentang calon pembimbing adalah dengan menghadiri konferensi atau seminar di bidangmu. Dari daftar pembicara yang hadir, bisa dilihat kok apakah yang tengah mereka teliti itu serupa dengan yang kamu mau teliti. Jangan lupa bertanya ketika mereka tengah presentasi sehingga mereka mungkin bisa mengingatmu (apalagi kalau pertanyaanmu kritis dan menarik!). Kalau bisa, setelah sesi berakhir, ajaklah si calon pembimbing mengobrol. Syukur-syukur bisa bertanya apakah dia menerima mahasiswa bimbingan, lalu menyatakan niatmu, serta mendapatkan kontak dia lebih lanjut.

Tidak ada salahnya juga untuk ikut terlibat di bidangmu melalui perkumpulan peneliti. Terkadang bidang-bidang tertentu punya asosiasi, forum diskusi, pertemuan ilmiah secara rutin. Dengan terlibat dalam hal-hal ini, namamu bisa diingat oleh si calon pembimbing sehingga kontak yang nantinya terjalin akan lebih personal.

3/ Menulis proposal penelitian

Langkah ini bisa dilakukan sebelum atau sesudah membuat daftar calon pembimbing. Kalau sebelumnya, maka biasanya proposal penelitian ini sifatnya lebih condong ke arah apa yang kamu mau teliti. Kalau sesudahnya, proposal penelitian bisa dibuat sesuai dengan minat penelitian si calon pembimbing.

Mana pun jalur yang kamu pilih, pastikan bahwa topik yang kamu tulis di proposal itu kekinian, unik, tapi tidak selalu harus canggih (sampai ke taraf pengin mempengaruhi peradaban manusia dan berkontribusi pada kemanusiaan apalah apalah hahaha). Karena salah satu faktor dalam menerima atau menolak proposal penelitian adalah seberapa besar kemungkinan bahwa penelitian ini bisa diselesaikan dalam jangka waktu 3-7 tahun.

Kekinian berarti bahwa topikmu itu menyangkut hal-hal terkini yang sedang di teliti di bidangmu. Keunikan topik bisa jadi karena topik itu masih relatif lebih sedikit diteliti atau karena konteksnya berbeda dari penelitian yang sudah ada. Untuk mencapai dua hal ini, balik lagi ke langkah/trik 2: jangan malas mencari informasi. Kamu perlu membaca dengan lebih teliti apa-apa yang sedang diteliti di bidangmu. Misalnya saja, meskipun sudah banyak yang meneliti topik saya tentang ‘teacher identities’,  ‘technological pedagogical competence’, dan ’employability’ namun yang mengawinkan ketiga topik itu masih relatif sedikit sehingga topik penelitian saya menjadi kekinian. Apalagi karena saya memakai titik pijakan peraturan pemerintah Indonesia yang terbaru mengenai kurikulum perguruan tinggi dan konteks yang saya pakai sangat spesifik yaitu Indonesia, maka penelitian saya menjadi unik dan baru.

Soal format dan isi proposal, pada intinya proposal itu perlu dibuat singkat dan menjual. Proposal saya hanya terdiri dari 8 halaman (tidak termasuk daftar pustaka) karena saya pernah membaca bahwa ini adalah jumlah halaman maksimal untuk sebuah proposal. Di dalam proposal, saya masukkan a) judul, b) kata kunci penelitian, c) masalah/konteks penelitian, d) pertanyaan penelitian, e) penelitian-penelitian terdahulu tentang topik, f) metodologi penelitian, dan g) perkiraan waktu penyelesaian penelitian sesuai lamanya program studi. Usahakan bahwa bagian a-d itu bisa masuk di halaman pertama dan menarik (karena calon pembimbing kadang-kadang sibuk sekali dan malas membaca yang panjang-panjang). Jangan lupa sertakan kontakmu (nama dan alamat email) di setiap halaman supaya calon pembimbing bisa langsung menghubungimu bila tertarik.

Sempatkanlah membagikan proposalmu kepada beberapa orang yang kamu anggap layak untuk memberi kritik. Lalu berdasarkan kritik mereka, suntinglah proposalmu. Kalau perlu berkali-kali. Melakukan suntingan secara bahasa juga perlu karena kamu tentu ingin calon pembimbing yakin dengan kemampuanmu menulis disertasi dalam bahasa asing. Apalagi bidang-bidang penelitian tertentu punya gaya penulisan tertentu yang berbeda dari gaya penulisan populer. Tidak ada salahnya meminta bantuan ahli bahasa di bidangmu untuk memeriksa proposalmu.

4/ Mengirimkan proposal ke calon pembimbing

Setelah menyelesaikan proposal, saatnya mengirimkannya! Di tahap ini, siap-siaplah patah hati yaaaaa, tapi jangan patah semangat! Semakin ngetop calon pembimbing, semakin sibuk dan semakin larislah mereka, sehingga mereka bisa saja menerima puluhan bahkan ratusan email yang berisi pekerjaan maupun permohonan membimbing calon mahasiswa. Ada banyak cerita teman sesama mahasiswa PhD yang bahkan mengirimkan berpuluh-puluh email permohonan ke berpuluh-puluh calon pembimbing sebelum akhirnya diterima oleh satu atau beberapa calon pembimbing. Di kasus saya, saya tidak mengirim tidak sampai sepuluh sih, dan hampir semuanya positif menerima. Rahasianya? Karena saya biasanya mengirim email ke calon pembimbing yang sudah saya kenal/ mengenal saya (baik lewat ketemu/komunikasi di forum/urusan ilmiah atau lewat pembimbing saya yang sebelumnya).

Dari daftar calon pembimbing yang sudah kamu susun, mulailah mengirimkan proposal ke alamat email mereka.  Jangan sekali-sekali memakai alamat email yang alay (misalnya: pinkygirl2015@blablabla.com). Pakai alamat email yang menunjukkan namamu dengan lengkap, supaya mereka mudah menghubungimu balik.

Tuliskan subyek email yang jelas dan singkat, misalnya ‘Possibility to Be Your PhD Student’. Dengan begitu si calon pembimbing bisa dengan cepat mensortir dari daftar email yang mereka terima.

Jangan sekedar melampirkan proposal tanpa babibu basa-basi. Email kosong tanpa isi itu haram hukumnya! Bukalah dengan ‘Dear Professor xxxx,’, tulis 1 paragraf berisi perkenalan (Let me introduce myself first. My name is Neny Isharyanti and currently I’m a lecturer at xxx. I was doing my Master at xxx in 20xx. My thesis was about xxx), lalu 1 paragraf tentang bagaimana kamu mendapatkan informasi tentang dia dan kesan-kesanmu tentang topik penelitian dia (I met you at xxx and I’m interested in your topic on xxx, because it is xxx).  Kalau perlu tambahkan bahwa kamu sudah pernah menulis tentang topik itu (I have published a paper on your topic in xxx entitled xxx). Lanjutkan dengan 1 paragraf berisi permohonan untuk menjadi mahasiswa bimbingan dia (I’m wondering if it is possible to work under your supervision.) Lalu nyatakan bahwa kamu melampirkan proposal penelitian di topik tersebut dalam emailmu (I’m attaching my research proposal for your consideration.). Tutuplah dengan pernyataan terimakasih dan memohon responnya (Thank you for your consideration and I’m looking forward to hearing from you.). Dan tentu saja, salam dan nama (Sincerely/Regards/Best, Neny).

Sebelum dikirim, periksa dulu ejaan isi email ya! Penting banget untuk menunjukkan bahwa kamu teliti. Nggak lucu kalau sudah dikirim lalu kamu baru sadar bahwa ada kesalahan ejaan yang serius di isi emailmu.

5/ Banyak-banyak berdoa dan berbuat baik sembari menunggu jawaban

Nggak perlu dibahas kenapa ini penting ya. Saya sih percaya hukum tabur tuai, siapa yang menaburkan kebaikan akan menuai kebaikan pula. Soal mendapatkan pembimbing itu saya percaya melibatkan Yang Maha Kuasa, jadi berbuat kebaikan untuk mendapatkan kebaikan itu manjur banget buat saya!

6/ Dibalas? Hore! Eh tapi isinya gimana?

Bersyukurlah kalau calon pembimbing membalas! Positif atau negatif balasannya, selalu ada hikmahnya kok.

Kalau dibalas dengan positif dan dia bersedia membimbing, jangan lupa balaslah emailnya dengan ucapan terima kasih. Kadang-kadang dia membalas dengan informasi mengenai apa yang perlu dilakukan setelah dia  bersedia. Biasanya tentang proses penerimaan mahasiswa baru di institusinya. Kalau tidak ada informasi ini, tanya dong sama dia!

Kalau dibalas dengan penolakan, tetap balaslah dengan ucapan terima kasih. Kalau mau, mohonlah agar dia berkenan memberitahu kekurangan proposalmu. Syukur-syukur dia mau memberikan kritik dan saran. Kalau tidak, ya nggak  apa-apa juga. Mari coba lagi!

Kalau mendapat lebih dari satu jawaban yang menerima? Wah, selamat! Pilihlah mana yang kamu rasa akan membantumu dalam menjalani proses studi S3 (kiatnya sudah pernah saya tulis di sini) dan kirimkan email penolakan yang halus kepada yang tidak kamu pilih dengan alasan yang masuk akal (bohong dikit nggak apa-apa, supaya bisa tetap menjalin hubungan baik, misalnya karena tidak dapat beasiswa untuk studi, menunda karena masih ada urusan yang lain, dsb.).

Semoga setelah membaca ini, kamu jadi semangat dalam mencari calon pembimbing studi S3 di luar negeri ya! Kalau ada pertanyaan, silakan tulis di kolom komentar. Saya janji akan membalas semua pertanyaan yang kamu sampaikan.

Fighting!

Advertisements

Share your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s