Menyenangkan Orang Tua

Hal apa yang terakhir kamu lakukan untuk menyenangkan orang tuamu?

momdad

My parents: 43 seven years of marriage and going strong…

Banyak di antara kita yang mungkin ingin membahagiakan orang tua, tapi berpikir bahwa apa pun yang kita berikan tentu tidak setara dengan apa yang telah mereka lakukan buat kita. Apalagi kalau kita sekarang dalam posisi sebagai orang tua yang sudah mengalami bahwa membesarkan anak(-anak) itu perjuangannya segambreng walaupun tentu sedikit yang menyesali perjuangan semacam itu. Pokoknya punya anak itu serba menantang, tapi tidak bikin menyesal ketika melihat pencapaian-pencapaian anak. 

Ketika saya baru saja pulang untuk mengambil data penelitian 2-3 minggu yang lalu, orang tua saya berkunjung ke rumah sambil mengantarkan asupan kuliner Indonesia ala rumahan yang tentu saya rindukan betul-betul selama di rantau. Lalu kami semua (saya, anak saya, dan orang tua saya) duduk-duduk mengobrol ngalor-ngidul, melepas rindu setelah setahun ini saya tidak di rumah. Sebagai catatan, saya dan orang tua jaraaaaaaaang sekali bicara dari hati ke hati, kecuali di situasi-situasi kritis (misalnya ketika saya kena masalah berat banget yang butuh  bantuan/hukuman dari mereka, hahaha), makanya obrolan beberapa minggu yang lalu itu sungguh mewah.

Karena jarang ngobrol, saya sering tidak tahu apa pendapat orang tua saya soal saya. Apakah saya sudah cukup memenuhi harapan mereka misalnya. Atau apakah ada kepribadian saya yang mereka tidak sreg. Atau walaupun saya tentu punya pendapat atau kritik soal mereka, saya pun tak pernah berani bicara langsung soal itu ke mereka. Saya dan mereka tentu punya pandangan tentang berbagai isu, misalnya keberagaman, politik, hubungan sosial, dunia hiburan, olahraga, tapi semua itu kami dapatkan dari mengamati ketika saya atau mereka berinteraksi dengan orang lain (bukan dari media sosial, wong orang tua saya itu gaptek pakai banget), misalnya ketika masing-masing dari kami punya tamu yang lalu diskusi panjang lebar, lalu dari situ masing-masing kami mengamati isi diskusinya.

Jadi, dalam obrolan kami beberapa minggu yang lalu itu saya jadi tahu bahwa orang tua saya itu paling jarang bicara soal pencapaian saya di arena publik. Yang ngomong malah justru orang lain, dengan nada yang nyinyir ke orang-orang lain yang sibuk membangga-banggakan anaknya. Ayah saya cerita, beliau pernah diundang ke acara kebaktian syukur, lalu si empunya hajatan berdoa panjang lebar, bersyukur anaknya sudah selesai kuliah anu-anu, kerja di sini-sini, memenangi ini-itu, yang menurut beliau itu alibi banget untuk sebenarnya menunjukkan ke orang-orang betapa si anak ini sudah wah luar biasa yaaaaa. Lalu orang lain bisik-bisik, harusnya orang itu malu sama Pak Pasiyan (ini nama ayah saya), yang anaknya sudah kuliah di tingkat tertinggi di negara orang, pergi-pergi konferensi di mana-mana, sementara ayah saya menanggapi dengan senyum. Ayah ibu saya juga hanya bercerita soal saya kalau ditanya. Bahkan seringkali orang baru ngeh kalau saya dan orang tua saya itu punya hubungan keluarga, ketika orang tanya “Lah, Neny itu ternyata anakmu to?” atau “Loh, kamu itu anaknya Pak/Bu Pasiyan to?” Hahahahaha.

Pendeknya, saya jadi tahu bahwa orang tua saya bangga pada saya. Duh, saya jadi terharu campur merasa bersalah, mengingat perjuangan mereka menyekolahkan saya sampai ngutang-ngutang, kesabaran mereka menghadapi kengeyelan saya berbuat ini-itu yang mereka sudah tebak bakalan jadi buruk, penerimaan mereka ketika saya gagal dalam beberapa episode hidup, dan keegoisan saya meminta mereka untuk berkorban finansial, pikiran, perasaan, dan waktu untuk menjaga anak saya ketika saya sibuk mengerjakan ini-itu, tanpa sekali pun menuntut saya memberi balik atas apa yang telah mereka perbuat untuk saya.

Orang tua saya itu tidak berpendidikan tinggi (ayah cuma lulusan SMA, ibu bahkan tidak lulus SMP, tidak tahu memakai bahasa Inggris sama sekali), tidak kaya (ya, relatif lah kalau sekarang, tapi dulu saya ingat setiap kali habis bayar uang kuliah S1, ibu selalu tanya kapan harus bayar lagi, karena ibu harus mengatur bagaimana menutup utang dan mencari utang baru), gaptek maksimal (berbulan-bulan ‘memaksa’ ayah pakai WhatsApp supaya bisa komunikasi murah dan belum berhasil juga, sementara ibu punya ratusan SMS yang belum dibuka karena lebih suka komunikasi suara, jadi jangan tanya apakah mereka melek Internet, ya jelas belum lah!), dengan penampilan yang menurut standar fashion sungguh udik (ayah saya gemar pakai kaos dan sepatu olahraga tak ber-merk dan ibu saya berblus motif yang menurut saya, aduh, noraknya!), Dan mereka hematnya luar biasa ke arah pelit (ibu saya saking pintarnya mengatur keuangan selalu beli di pasar karena beli di mal itu mihil! Kalau jalan-jalan luar kota ibu selalu bawa keranjang piknik isi makanan, minuman, dan cemilan komplit, karena makan di warung/resto itu mihil! Jarang naik pesawat atau sewa mobil kalau ke luar kota karena mahal (pernah saya pesankan mobil, tentu saya yang bayar, karena kasihan orang tua pengin ke Purwokerto naik motor berdua, 5 jam perjalanan padahal usia mereka sudah di atas 65, tapi ditolak halus dengan cara ibu saya menggagalkan rencana pergi).

Itu sebabnya saya jadi pengin melakukan sesuatu untuk menyenangkan mereka, atau setidaknya membuat mereka bisa menikmati hal-hal yang selama ini mereka tak pernah/jarang lakukan tanpa harus pakai pertimbangan segala rupa. Hal-hal yang kelihatannya sudah biasa untuk orang-orang, bahkan dilakukan sehari-hari, tapi buat mereka jarang dan bahkan mewah.

Saya ingin menghabiskan 24 jam bersama mereka, bersenang-senang tanpa khawatir soal uang dan bisa berbicara dari hati ke hati, mensyukuri keluarga kami yang berhasil menghadapi berbagai badai kehidupan selama 43 tahun terakhir ini.

Jadi saya membuka internet, memesan kamar suite di salah satu hotel di Solo yang letaknya di dalam mal, menanyakan kepada anak saya sepatu olahraga merk apa yang nyaman untuk dipakai ayah sehari-hari, memikirkan blus yang cocok dipakai ibu untuk pertemuan PKK mendatang, mencari judul film yang kira-kira bisa dinikmati ayah ibu (sudah bertahun-tahun mereka nggak nonton bioskop), meneliti tempat wisata yang kami bisa nikmati bersama, dan mempertimbangkan tempat makan yang kekinian yang enak untuk kami ngobrol-ngobrol.

Money is not a problem at all when you spend it for a good cause on the people that you love the most.  Apalagi hal yang lebih baik daripada menyenangkan orang tua sendiri?

Semoga mereka menikmati rencana saya untuk mereka di akhir pekan nanti. Amin.

 

Advertisements

Share your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s