Annual Review dan Menangis

del-blogSaya rasa kamu akan setuju bahwa studi S3 itu tidak mudah. Bahkan sejak dari tahap paling awal mencari calon pembimbing, mendaftar, diterima, dan lalu menjalaninya. Semua yang pernah atau sedang menjalani studi S3, saya rasa pasti punya masa-masa yang membuat harus meneteskan air mata.

Selama hampir setahun sekolah di sini, saya sudah beberapa kali meneteskan airmata. Padahal hasil tahun pertama saya ‘hanya’ berupa proposal penelitian, sementara saya tahu dari beberapa teman bahwa ada yang ujian tahun pertamanya (atau ujian untuk dinyatakan sebagai kandidat PhD) bisa berupa beberapa ujian lisan, ujian tertulis, atau dokumen tergantung dari universitasnya, dan bahkan tiap departemen punya aturan masing-masing. Lebih jauh lagi, kadang-kadang tiap pembimbing dan penguji punya mau masing-masing.

Di departemen saya, aturan dasarnya adalah mengikuti Annual Review (AR) yang dihadiri oleh dua pembimbing saya dan seorang penguji internal. Sebelum AR kami diwajibkan untuk memasukkan proposal penelitian ke sistem administrasi mahasiswa PhD yang dinamai eProg. Proposal yang diminta adalah sebanyak 8.000-20.000 kata dan presentasi yang terdiri 8 slide powerpoint. Tapi ini aturan dasar saja, karena tiap pembimbing punya mau yang beragam. Pembimbing saya tidak mematok berapa kata yang harus saya masukkan, dan penguji saya tidak meminta saya presentasi. AR saya hanya berupa semacam diskusi di mana saya ditanya-tanya selama sejam soal isi proposal saya. OK, sampai di sini saya lumayan tenang.

Tapi, proses diskusi inilah yang membuat saya jatuh…

Walaupun 10 hari sebelum AR saya sudah bertemu dengan pembimbing saya dengan hasil yang saya rasa cukup memuaskan karena saya hanya diminta menajamkan metodologi dan menyelesaikan pilot study, di AR saya ‘dibantai’ penguji. Beliau tak paham hubungan antara tiga tema penelitian saya, mempertanyakan fokus penelitian saya, bahkan tidak menemukan metode spesifik yang saya akan pakai di penelitian, walaupun saya yakin 100% saya sudah tuliskan di proposal.  Saya juga baru menyadari 5 menit sebelum AR bahwa saya belum memasukkan hasil pilot study!

Walhasil, pekerjaan saya dinilai masih belum selesai. Ini kategori kedua dari bawah dari empat kategori penilaian (Bagus, Memuaskan, Perlu Ditambah, Tidak Memuaskan). Saya diharuskan merevisi proposal, menyelesaikan pilot study, dan mengumpulkan ulang proposal yang direvisi. Mereka memberi saya waktu 22 hari untuk melakukannya. Ini bukan total hari kerja, tetapi semua hari yang ada dari tanggal AR ke tanggal pengumpulan ulang, karena saya tahu persis saya akan kerja di hari-hari libur dan akhir pekan untuk menyelesaikannya. Walaupun saya tak diharuskan mengulang AR, tapi tentu saja ini tetap kerja keras. Oh iya, ada 4 skenario lanjutan yang bisa diajukan oleh pembimbing dan penguji setelah AR: Lolos ke tahun berikutnya, Memasukkan ulang proposal dengan revisi, Memasukkan ulang proposal dengan revisi dan mengulang AR, atau Gagal melanjutkan ke tahun kedua. Saya kena di kategori kedua, tapi tetap saja saya gagal kalau dibandingkan dengan tiga teman yang mendapat kategori pertama.

Di dalam kantor pembimbing tempat AR dilaksanakan, saya yakin pasti para pembimbing dan penguji tak melihat saya panik, gugup, kecewa, atau emosi apa pun. Tampaknya saya sudah terbiasa untuk menekan emosi saya di depan publik. Tapi ketika berjalan kembali ke kantor saya, saya mulai merasakan kekecewaan dan kesedihan dan ketidakberdayaan merasuki diri, dan di kantor, saya langsung menelpon Sayang-Disayang dan hanya bisa tersedu-sedu selama mungkin 15 menit pertama telpon.

Saya merasa bodoh, karena merasa tak mampu menjawab sehingga panik dan terbata-bata menjawab pertanyaan penguji dan pak pembimbing harus membantu saya menjawab. Saya merasa malu karena isi proposal saya terdengar begitu buruk sehingga harus direvisi di (saya rasa) banyak bagian. Saya merasa bersalah, karena selama berbulan-bulan ada masa-masa di mana saya lebih memilih bermalas-malasan atau bersenang-senang.

Saya gagal. Dan saya harus menerimanya dengan getir.

Hari ini, sehari setelah AR, saya masih beberapa kali menangis, walaupun ada beberapa orang teman yang menyemangati saya bahwa ini bukan akhir segalanya dan saya pasti bisa melaluinya (lewat acara makan siang sesudah AR, lewat pesan WA/Telegram/telpon), bahwa saya bukan yang pertama kali mengalaminya (seorang teman tahun kedua bilang, tahun lalu dia juga mengalami hal yang sama dengan saya dan menangis juga; seorang teman seangkatan juga diharuskan menjalani hal yang sama dengan saya tahun ini), bahwa saya sudah maksimal bekerja dan tentu saja saya tidak bodoh dan malas. Tapi tetap, rasa sedih, kecewa, dan sakit hati tidak begitu saja bisa pupus.

Besok akhir pekan, dan saya sudah membuat rencana untuk jalan-jalan ke kota sebelah. Sebelum AR saya pikir ini akan jadi masa saya merayakan lolosnya saya dari AR, tetapi ternyata perjalanan akhir pekan besok itu lebih merupakan cara saya untuk menyembuhkan hati saya.

Semoga Senin dan 22 hari mendatang saya sudah siap untuk bekerja keras memperbaiki dan bahkan merombak total beberapa bagian dari proposal saya. Semoga Senin saya bisa mendisiplinkan diri dalam bekerja dan lebih rajin dalam merevisi proposal dan mengerjakan pilot study.

Semua doa dan upaya saya pasrahkan pada yang memberi saya hidup dan tenaga untuk melanjutkan hidup.

Terimakasih, Sayang, untuk semua cinta dan kata-kata penguat di saat saya tak mampu berkata-kata. Terimakasih para sahabat yang meyakinkan saya bahwa saya mampu menjalani ini semua lewat pertemuan, pelukan, makan siang, dan ucapan melalui kanal komunikasi. Dan terimakasih, Tuhan, untuk selalu menunjukkan pada saya bahwa hidup saya cukup berarti dijalani seberapa pun berat dan terjal dan berliku jalan yang harus saya tempuh di bumi-MU ini. 

Advertisements

4 comments

    1. Iya, alhamdulillah, Om, walaupun rasa pedihnya gak ilang-ilang di lidah. 20 hari ke depan insya Allah teteap istiqomah bekerja. Makasih, Om!

      Like

Share your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s