It’s All About Perspective

samsung-duo_-pocket-net_

Foto dari TujuHarga.com

Seperti beginilah ilustrasi telepon seluler yang sedang saya pakai saat ini. Tentu kondisinya jauh lebih mengenaskan daripada yang ada di tangan mas (atau mbak?) ini. Goresan di sana sini, casing sebelah kanan entah kenapa sudah terpotong dan chargernya sudah diselotip karena longgar. Tapi masih fungsional dan masih kuat menjalankan operasi Android yang sederhana.

Seorang teman di sini (yang baru saya kenal kemarin) mengasihani saya dan situasi telepon seluler saya yang jadi ‘batu bata’ gara-gara masalah bootloop dan berbaik hati meminjamkan gawai ini karena kebetulan beliau tidak pakai (karena ini dipakai sebagai telepon cadangan) dan ukuran slot kartu sim-nya mikro, pas dengan kartu sim penyedia layanan seluler di kampung yang harus saya pertahankan untuk berbagai urusan (sms dari bank di kampung, akses recovery beberapa akun internet, dan tentu saja berkomunikasi dengan Sayang DiSayang — dan beberapa grup —  lewat nomor WhatsApp saya yang dari kampung).

Ini telepon genggam generasi android layar sentuh yang awal-awal. Diluncurkan di bulan April 2013, sebenarnya sih tidak tua-tua amat, tapi ya lompatan teknologi yang pesat membuatnya segera menjadi kuno dan ditinggalkan. Tambahan lagi, memang gawai ini ditujukan untuk pengguna remaja gaul yang paling-paling cuma butuh media sosial, jadi ya memang sederhana sekali fitur yang tersedia.

Namun, dengan keharusan memakai gawai ini saja selama beberapa hari, saya malah kembali belajar banyak hal.

Yang pertama, belajar sabar. Harus sabar menanti setiap proses respon apps, karena prosesor gawai ini kecepatannya cuma 850 MHz. Belum lagi layarnya cuma selebar 3 inci sehingga papan ketik jadi sungguh kecil bikin susah payah mengetik. Belum lagi kecenderungannya untuk hang, ketika saya terlalu bersemangat mengetuk-ngetuk ikon apa pun.

Yang kedua,  belajar mengutamakan apa yang diprioritaskan. Dari sekian puluh apps, akhirnya saya cuma memasang 4 apps saja. Whatsapp tentu lebih jadi prioritas ketimbang Facebook, karena WhatsApp itu lebih penting untuk komunikasi dengan Sayang Disayang (etapi dia kayaknya malahan senang karena nggak harus meladeni saya yang tiap hari posesif video call sih #ditimpukbantal ).

Yang ketiga, saya jadi bisa menahan diri untuk tidak dengan mudah berbagi situasi diri di media sosial, yang seringkali mengundang orang untuk berpikir bahwa saya sedang menyombongkan apalah-apalah di sini.  Selain karena apps jadi super terbatas jumlahnya (media sosial cuma Twitter yang jaraaaang saya buka karena lelet), saya juga tak mungkin sering-sering selfie najis karena tak ada kamera muka di gawai ini.

Ya, ya, ya. Apa sih musibah itu, selain kesempatan untuk belajar lagi? (dan kesempatan untuk punya gawai baru dengan spesifikasi yang lumayan bagus tapi dengan harga yang super miring, untuk menggantikan gawai lama yang sudah lelah melayani pemiliknya yang super abusif ini hahaha)

After all, it’s all about perspective, isn’t it?

Terima kasih untuk Galesh yang memandu saya mengobrak-abrik gawai lama supaya bisa hidup dan memberi saran untuk gawai yang baru. Terima kasih untuk Alif yang membantu mencarikan pinjaman gawai di grup WA PPI-GM. Terima kasih untuk Mas Bayu yang berkenan meminjamkan gawainya hingga batas waktu tak terhingga, sampai saya bisa ganti simcard. Upah kalian besar di Surga!

Advertisements

8 comments

  1. Saya pernah make hape seri itu, sempet bertahan cukup lama sampai akhirnya batas kesabarn saya sampai pd titik maksimal.

    Android sih seri apa aja kalo pake aplikasi facebook atau twitter emang lemot, saya lebih suka pake browser

    Ohiya feed blognya kok ndak diseting dull aja mb? Suwun

    Like

    1. Iya sih, akhirnya uninstall twitter di hape ini. Agak susah lepas dari twitter karena itu ‘koran’ saya. Ya mudah-mudahan hape yang baru segera datang, soalnya ya cukup repot juga tidak ada akses ke apps komunikasi segala rupa selama beberapa hari.

      Feed blog sudah saya bikin full, Om, supaya gampang bacanya 🙂

      Like

    1. Ada, tapi biayanya lebih mahal, bisa setara harga hape baru kalau kerusakan susah ditangani, karena biaya jasa orang itu di sini rata-rata per jam.

      Like

      1. iPhone OK regane hore. Mending nggo tuku Microsoft Surface 4.

        Plus secara ideologi, aku berseberangan dengan Apple. Eksklusif dan kapitalistik.

        Like

Share your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s