Daily Gratitude #5 Obrolan yang Menyenangkan dan Mencerahkan

Akhir pekan saya kok ndilalah padat betul, sehingga tak mampu menuliskan #DailyGratitude yang harusnya daily alias harian tapi kok jadinya dua kali seminggu paling pol. Tapi nggak apa-apa, saya akan mengampuni diri saya sendiri karena tak menulis sering-sering. Kan mengampuni diri itu juga bagian dari rasa syukur menyadari bahwa diri ini masih manusia yang punya salah, tapi juga punya kesempatan untuk memperbaiki kesalahan? #IniMahNgeles

Daftar syukur saya dimulai dari hari Jumat lalu. Begitu mata melek langsung mengecek twitter dan kok tergoda untuk menanggapi cuitannya Kimi yang lalu berujung menjadi pembicaraan panjang lebar yang mencerahkan dan menyenangkan, padahal ini kali pertama kami mengobrol dengar dan  bicara langsung. Makasih ya, Kim! Semoga nggak kapok ngobrol dengan saya tentang segala rupa.

Pembicaraan dengan Kimi bukan satu-satunya pembicaraan yang saya syukuri akhir pekan lalu. Sesi mengobrol sambil merayakan keberhasilan pentas di ASEAN Festival dengan tim tari Papua di restoran prasmanan TOPS juga menyenangkan. Selain relatif murah karena cuma bayar £8,5 tapi boleh nambah makanan Asia dan Barat berkali-kali sepuasnya, kami juga jadi saling mengenal satu sama lain dan bahkan punya kesempatan menggoda-goda menjodohkan Vania dan Rian (hahahaha, duh, hasrat saya jadi mak comblang ini susah amat dihilangkan ya. Kapan-kapan saya tulis soal portofolio saya menjodohkan orang sampai ke pelaminan ini).

Setelah dari TOPS, saya masih punya janjian nongkrong dengan Ilham, macam akhir pekan minggu lalu. Sebenarnya rencananya kami akan membicarakan PR yang saya berikan padanya, tapi ketika bertemu di kuburan dekat kost, ternyata Ilham mengajak Yogi dan Hugo untuk nongkrong bersama kami. Jadilah kami berempat, lalu berlima karena bergabungnya Alif di tengah-tengah nongkrong, mengobrol panjang lebar tentang hal-hal filosofis, dari soal politik, pendidikan seks, generasi sekarang dan berpikir kritis, sampai gerakan Arabisasi di negeri tercinta. Ternyata kami semua rindu pembicaraan warung kopi nan bergizi macam begini dan ternyata susah pula menemukan kelompok yang mau dan enak diajak ngobrol macam begini.

So, officially, the group that I dubbed OPen (the short version of the long name Onani Pengetahuan) was established. The philosophy is pretty simple: to talk OPenly and critically about social, economy, culture, religion, arts in Indonesia. Wah, kok jadi kayak IndoDiskussio yang saya gagas di Melbourne ya? Tampaknya di mana pun saya tinggal, saya harus punya kelompok yang beginian supaya tetap imbang 🙂

Jadi poin syukur saya akhir pekan ini adalah (lagi-lagi) pertemanan dan obrolan yang menyenangkan dan mencerahkan bersama teman-teman. Kalau kamu, siapa teman yang enak diajak ngobrol?

NB: Kali ini tak ada foto. Salah satu indikasi bahwa obrolan di sesi nongkrong sungguh menyenangkan!

Advertisements

Share your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s