Daily Gratitude #4 Menjadi Indonesia, Menjadi Warga Dunia

Terlepas dari kekhawatiran saya dianggap banci tampil dan narsis karena mengunggah segala foto dan video pementasan kemarin di ASEAN Festival ke segala kanal media sosial, saya lebih memaknainya sebagai berbagi rasa syukur menjadi orang Indonesia yang sekaligus menjadi warga dunia.

Menjadi orang Indonesia di negeri orang seringkali akan dihubungkan dengan kuantitas, entah soal besarnya jumlah pemeluk agama Islam, soal luasnya wilayah  Indonesia, atau soal tingginya popularitas pulau Bali sebagai pulau impian wisatawan. Stereotip macam begini sudah kenyang jadi bahan diskursus sehari-hari ketika harus bicara soal Indonesia.

Tapi bahwa menjadi Indonesia itu berarti menjadi pemeluk agama Islam dengan orang tua/keluarga yang memeluk agama macam-macam, atau bahwa Indonesia itu punya ratusan bahasa dan dialek yang sungguh meriah kalau didengarkan, atau bahwa Indonesia itu bukan cuma Bali, kadang-kadang luput dari pembicaraan bersama teman-teman orang asing di sini.

16999184_10154172441177407_1939086661358493152_nMakanya ketika mendapat kepercayaan untuk menggarap koreografi tari Sajojo bersama Vania, merias para penari (Vania, Andien, Aya, Rian, dan Alif) dan menarikannya di ASEAN Festival, saya sangat antusias. Buat saya ini kesempatan untuk memperkenalkan bahwa Indonesia itu sungguh macam-macam, seru dan asyik. Bahwa ada lho, tarian tribal dengan kostum yang tentu tidak syariah arabiyah dari pulau di paling timur dengan iringan lagu berbahasa bukan Indonesia. Sayang tidak ada orang Papua berkulit hitam di kota ini, sehingga kami tidak bisa juga memberitahu khalayak bahwa orang Indonesia itu ada juga yang tak berkulit sawo matang. Tapi memilih menampilkan Tari Sajojo dari Papua adalah keputusan strategis yang diambil PPI-GM untuk menunjukkan apa artinya menjadi Indonesia. Ketika orang Batak-Sunda, Jawa, Palembang menikmati menari tarian dari Papua, itulah artinya menjadi Indonesia yang bangga menampilkan jati diri Indonesia yang tidak mainstream dalam perbincangan diskursus warga dunia.

Karenanya saya bersyukur untuk banyak hal. Kesempatan merasakan menari sebagai orang Papua yang Indonesia. Kesempatan berkontribusi dalam diskursus warga dunia. Dan kesempatan untuk merindukanmu dalam setiap prosesnya karena saya tahu kamu adalah rumah tempat saya ingin kembali.

Advertisements

2 comments

    1. Kebetulan riset soal diskursus, Om, jadi keracunan akut dan kena sampai blog personal 🙂

      PPI-GM ini memang keren nyodorin Papua sehingga saya bisa narsis, eh, Papua bisa jadi fokus baru tentang Indonesia.

      Like

Share your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s