Demi Apa Merendahkan Diri?

16804068_10154152755697407_7618468420741715491_oProses studi doktoral adalah proses untuk menjadi rendah hati, atau bahkan menjadi rendah diri. Pokoknya diri direndahkan, serendah-rendahnya.

Betapa tidak? Selama enam bulan pertama dalam program PhD di universitas ini, para pembimbing saya hanya menyuruh saya untuk membaca, membaca, dan membaca. Mungkin karena saya harus memutakhirkan pengetahuan saya tentang bidang saya. Mungkin karena saya harus mencari celah di mana penelitian saya akan ditempatkan di bidang saya. Mungkin karena saya harus memasukkan kajian pustaka sebagai salah satu bagian dari laporan tengah tahun perkembangan studi.

Tapi sering kali, membaca berbagai buku dan artikel ilmiah membuat saya merasa luar biasa rendah diri. Semakin saya memahami suatu konsep, semakin saya merasa bahwa saya luar biasa bodoh. Dari satu bacaan ke bacaan lain, kepercayaan diri saya tak naik-naik karena kepemilikan pengetahuan baru. Yang ada adalah kesadaran baru bahwa apa yang saya ketahui ternyata masih sangat sedikit.

Proses yang lain adalah ketika berbicara dengan para pembimbing. Para pembimbing saya sungguh cerdas, hingga saya tergagap-gagap mengikuti segala curahan ide, saran, dan pertanyaan yang mereka ajukan. Seorang teman di program juga mengingatkan saya untuk siap-siap menerima kritikan dan membela gagasan-gagasan saya. Tapi saya tentu saja seringkali tak berdaya. Setiap kali satu jam bimbingan usai, muka saya akan tambah bingung dan cemas, tapi saya semakin bertekad untuk menyelesaikan proses ini.

Banyaknya yang harus dibaca membuat saya menilai setiap hal yang saya baca sehingga berharga untuk dibaca dan direnungkan. Sedikitnya pengetahuan membuat saya ingin mengetahui lebih banyak lagi tanpa merasa gampang puas atas apa yang telah saya tahu. Brutalnya kritik pembimbing membuat saya meneliti pikiran saya tanpa perasaan tersinggung tapi dengan kesadaran bahwa mungkin saya perlu belajar membangun nalar saya berdasarkan apa yang telah saya baca, saya ketahui, saya renungkan.

Lalu teringat dan bertanya-tanya, kalau pengalaman studi S3 itu sungguh membuat diri bersedia merendahkan diri sehingga jadi rendah hati, kenapa ada oknum-oknum yang justru meninggikan diri sedemikian rupa ketika gelar S3 telah diraih? Terlebih bila gelar tersebut didapat dari universitas di manca negara. Ada yang sok tahu, merendahkan mereka yang semata-mata bergantung pada pengalaman hidup yang seringkali mencerahkan. Ada yang degil tak mau mendengar pemikiran orang lain seberapa pun masuk akalnya pemikiran itu. Ada yang memakai perasaan dalam menakar pendapat orang lain sehingga tersinggung ketika bangunan nalarnya diserang karena lemah.

Tidakkah mereka mengingat jatuh bangun, sakit hati, putus asa, yang berkelindan dengan kerja keras, antusiasme, dan semangat di sepanjang perjalanan selama program? Demi apa mereka menghabiskan berjam-jam, berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, bertahun-tahun itu?

Mungkin demi secarik kertas, segepok insentif, dan seucap panggilan “Prof…”.

Advertisements

6 comments

    1. Ya demi bangsa dan negara yang entah kenapa mentalitasnya masih serba menghamba pada penghargaan kuantitatif 😦

      Mutu saya masih belum memadai jadi masih harus selalu berproses. Makasih sudah berkenan mampir 🙂

      Like

  1. Seneng saya membaca (pemikiran) hal ini, tak salah ntar kalo njenengan bakal jd dosen favorit (lagi) di kampus.

    Iya saya juga menemui bbrp org yg berubah perangai setelah lulus studi S3 nya, seakan tak bisa menerima pendapat org lain lagi, walau ya ada juga yg tetap rendah hati.

    Pertanyaan saya jg sama: knp kok ya lipa saat perjuangan berdarah2 saat sekolah?

    Smoga sukses studinya ya mb, & smoga suatu saat saya bisa sowan ke kampus njenengan suatu saat.

    Like

    1. Haha, dosen favorit itu ukurannya cair je, Om. Bisa berubah-ubah parameternya. Mungkin nanti kalau kembali malah parameter dan jaman sudah berubah. Wong satu-satunya yg tetap adalah perubahan.

      Nah, makanya ya orang-orang yang sudah doktor berubah juga. Kalau Om Warm berubah jadi gimana? Setelah ini mau postdoc di mana? 🙂

      Like

      1. Wah balesannya diplomatis sekali, tp tetep kentara rendah hatinya ehehehe

        Saya sepertinya masih belum berubah apa2, entahlah besok2, tp yg jelas ngerasa musti lebih banyak baca & belajar lg ki

        Dan blm ada rencana lanjut postdoc je, mau istirahat & kerja dulu aja lg, entahlah besok2 hehe

        Like

Share your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s