Sayakah si Penyaru itu?

20170202_130357.jpgImpostor syndrome (also known as impostor phenomenon or fraud syndrome) is a concept describing high-achieving individuals who are marked by an inability to internalize their accomplishments and a persistent fear of being exposed as a “fraud” (Clance & Imes, 1978)

Sudah kurang lebih empat bulan saya kuliah di negeri ini dan akhir-akhir ini saya merasa kalau saya sedang menderita sindrom penyaru ini. Gawat!

Bagaimana tidak, sudah empat kali saya menjalani bimbingan dengan bapak pembimbing saya yang ganteng tatoan idealis (OK, abaikan fakta yang bikin tidak fokus ini) dan ibu pembimbing saya yang keibuan serba pengertian (tapi kadang-kadang tegas juga), dan beliau berdua selalu positif memberikan tanggapan pada hasil bacaan saya. Bahkan beliau selalu bilang dengan nada super serius bahwa penelitian saya itu punya banyak potensi bagus.

Harusnya saya senang. Harusnya saya yakin. Tapi kok saya malah merasa takut, karena saya tahu betul selama empat bulan ini bacaan saya sungguh sangat kurang. Saya cuma lolos dari pertanyaan-pertanyaan para pembimbing karena saya mampu bersilat lidah berbusa-busa menjual kata-kata dengan terminologi yang kedengarannya keren, yang saya cuplik dari artikel satu dua.

Selebihnya saya cuma menikmati koneksi Internet yang super cepat dengan menonton Youtube atau ngobrol-ngobrol dengan kekasih, keluarga, dan teman. Atau jalan-jalan ke beberapa obyek wisata di sini. Atau makan-makan dengan teman-teman seangkatan. Pokoknya pemalesan tingkat tinggi.

Iya, saya memang si high-achiever itu, iya saya ketakutan kalau ketahuan saya cuma si penyaru sok keren pintar itu, tapi apakah saya memang sudah mencapai beberapa kemajuan dalam penelitian saya? Entahlah.

Sejak 2 minggu ini saya super rajin bekerja di kantor. Berangkat jam 11 siang, pulang jam 7 atau 8 malam. Membaca artikel jurnal paling tidak satu setiap hari, dengan catatan yang ditulis tangan (rapi, kata teman saya) berlembar-lembar. Kedengarannya saya sudah mengatasi sindrom penyaru saya, tapi tetap saya ketakutan menghadapi bimbingan yang dijadwalkan seminggu dari hari ini. Mana saya belum menuliskan hasil bacaan sama sekali, dan kebingungan menuliskannya karena saya belum bisa memformulasikan benang merah antara bacaan-bacaan yang sudah saya baca.

Memang saya ke kantor tiap hari, membaca tiap hari, berjam-jam pula, tapi di antara durasi yang panjang itu saya tetap terdistraksi dengan media sosial, obrolan, dan ngopi di sela-selanya. Huh. Saya gemes pada diri sendiri. Dan ah, saya baru saja menghabiskan 1 jam menuliskan posting ini. Sungguh terlalu!

Mari balik kerja lagi yuk! Kamu pasti juga sudah buang-buang waktu membaca posting saya yang penuh keluhan ini kan? :p

Advertisements

5 comments

    1. Makasih, Om Warm! Makasih udah mampir di blog yg alakazam alakadarnya buka lapak sak sempatnya ini :))

      eh salam kenal juga! semoga gak menyesal kesasar ke mari :))

      Like

Share your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s