Filosofi Tukang Kebun

20161213_190718-01.jpegTukang kebun tahu bahwa tanaman perlu sesekali dipangkas supaya tumbuhnya bagus. Tapi pernah tidak berpikir bahwa seseorang pun perlu sesekali ‘dipangkas’ supaya pertumbuhan kepribadiannya jadi bagus?

Seperti pengamatan saya kepada mahasiswa-mahasiswa saya, yang dimanja melulu kepribadiannya akan tidak elok. Malas mencari jalan keluar ketika dihadapkan pada tantangan. Maunya serba instan dan mudah. Tapi mau dapat hasil sebesar-besarnya.

Teman saya Abi pernah mengeluh, salah satu mahasiswanya menuntut harus dapat nilai A dan tidak boleh sama sekali diberi nilai B, dengan alasan karena dia tidak pernah membolos dan selalu mengumpulkan tugas. Tentu tanpa dia menyadari bahwa tugas yang dia kumpulkan itu kualitasnya cuma cukup untuk mendapat nilai B.

Mungkin nanti ketika dia bekerja baru dia menyadari bahwa meskipun tak pernah absen dan selalu mengerjakan tugas dari klien, kalau klien menganggap bahwa kualitas tugasnya tidak memenuhi standar kualitas ya tetap saya penilaian HRD akan kinerjanya buruk. Tentu perlu lebih dari sekedar hadir selalu dan mengerjakan untuk mendapatkan penilaian yang bagus. Perlu kerja keras untuk menggarap tugas klien hingga menghasilkan kualitas yang prima.

Tantangan saya terbesar menjadi dosen adalah menciptakan tantangan-tantangan dalam perkuliahan supaya mahasiswa saya ‘dipangkas’, karena seringkali di rumah mereka tak mendapatkan tantangan menyelesaikan masalah. Hidup di jaman ini memang serba nyaman karena selalu ada Mbah Google untuk berbagai informasi, selalu ada mie instan dan gofood ketika lapar, dan berbagai jenis teknologi yang membuat kemalasan cenderung berbiak.

Jaman saya kuliah untuk mendapatkan informasi harus setengah mati ke perpustakaan, membaca buku dan artikel dengan teliti, barulah ketemu (kalau usahanya benar). Tak ada makanan di rumah? Saya harus menggoreng telur, bikin sambal kecap, dengan ketrampilan yang cukup, barulah standar cita rasa terpenuhi. Mencuci pakaian sendiri? Pakai tangan dong untuk mengucek, membilas, memeras, dan menjemur pakaian yang tak sepenuhnya kering karena tak pakai mesin pengering. Seberapa cepat kering tentu tergantung pada matahari dan seberapa kuat lengan memeras cucian hingga relatif kurang basah dan bisa cepat kering.

OK, kedengarannya tidak enak, tidak nyaman, tidak praktis. Tanaman yang dipangkas pun mengalami bahwa daunnya dipotong dan digunduli sedikit atau banyak. Pertama-tama akan terasa sayang, sudah tumbuh hijau kok dipotong. Tapi itu perlu. Tapi itu penting. Demi pertumbuhan yang lebih sehat. Sama seperti manusia yang perlu dibuat tidak nyaman, dipaksa bekerja keras, supaya menjadi lebih rendah hati dan punya daya juang untuk menyelesaikan masalah serta keluar menjadi pemenang yang sejati.

Di tataran lebih filosofis lagi, bukankah kegagalan, kesedihan, pengalaman buruk dalam hidup itu menjadikan manusia lebih baik? Tak ada keledai yang jatuh di lubang yang sama untuk kedua kalinya. What doesn’t kill you only makes you stronger. Pepatah-pepatah itu tentu tercipta bukan tanpa alasan dan pengamatan.

Sayangnya ada manusia-manusia yang entah kenapa selalu selamat dari ‘pemangkasan’ dalam hidupnya. Akibatnya? Coba amati manusia-manusia macam ini di sekitar Anda. Model manusia macam apakah mereka?

Miris ya? Iya!

Advertisements

4 comments

Share your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s