Menjadi Perempuan, Menjadi Bisu

wp-1478472540582.jpegSeorang teman baru mengeluh pada saya bahwa ia kehilangan ‘suara’-nya di kota ini. Tentu saja saya tak bisa menyarankan dia untuk mengunyah seruas kencur, seperti kebiasaan saya setiap kehilangan suara. Selain kencur tak ada dijual di kota ini, suara yang ia maksud bukan suara fisik yang kita pakai untuk berbicara atau bernyanyi.

Suara yang ia maksud adalah pendapat atau opini yang menyatakan posisi. Teman saya ini mengeluh bahwa ketika ia, seorang perempuan, berstatus sebagai pengikut (atau bahasa imigrasinya dependent) suami, tiba-tiba saja pendapatnya sebagai salah satu anggota komunitas masyarakat Indonesia di sini hilang begitu saja, diabaikan oleh majelis ‘bapak-bapak’, bahkan dalam urusan yang perempuan pun mengalami dampaknya.

Si teman sampai harus memperkuat identitasnya sebagai seseorang yang mempunyai kemampuan intelektual dan logika yang tidak main-main, dengan menyampaikan bahwa ia punya gelar akademis S2 yang didapatkannya dari Jerman dan sebelumnya ia bekerja di kedutaan negara tertentu di Jakarta. Satu-satunya ukuran ‘kehebatan’ seorang istri pengikut suami di kota ini tampaknya adalah kemampuannya untuk memasak makanan asli Indonesia tanpa bumbu instan dan mengurusi anak-anak dengan seringkali mengabaikan kebutuhan dirinya untuk juga menikmati kesenangan-kesenangan di negeri orang.

Jangankan teman ini yang statusnya pengikut, dalam beberapa forum kumpul-kumpul, saya pun dianggap makhluk aneh karena lebih suka mengobrol dengan kaum lelaki dalam isu-isu yang tak jauh-jauh dari sosial, politik, ekonomi, budaya dan apalah-apalah. Entah kenapa lingkaran diskusi kaum perempuan lebih banyak berbicara soal harga tempe terkini di WH Lung, bagaimana mengatasi batuk pilek berkepanjangan yang diderita anak-anak di musim gugur, atau di mana lokasi carboot barang-barang harga super miring di akhir pekan ini. Bukannya hal-hal itu tak penting, tapi saya ingin juga sekali-sekali mendengar pendapat mereka tentang dampak Brexit dalam kehidupan kaum pendatang di negara ini, atau apa pendapat mereka tentang pertarungan pilkada Jakarta yang memanaskan seluruh negeri.

Apakah penguatan identitas akademik dan profesional yang mengesankan sisi kualitas logika macam ini berhasil membuat suaranya didengar oleh kaum lelaki di sini? Ternyata tidak. Para lelaki terus saja berbicara dalam forum bapak-bapak, dan mengambil keputusan tanpa melibatkan suara para perempuan yang juga anggota dari komunitas dan yang tentu akan terpengaruh oleh keputusan itu. Kalau pun dalam forum diskusi kecil-kecil suara saya didengarkan, itu lebih karena saya keras kepala untuk tetap bersuara, tanpa perduli siapa lawan  bicara saya.

Soal suara ini bukan isu main-main. Bukan pula isu yang cukup ditanggapi dengan ‘Ah, segitu aja kok sensi. Dasar perempuan!’ Di komunitas kota ini sebagian besar lelakinya (mestinya) berpikiran modern dan punya kemampuan berpikir logis yang tidak dangkal karena sedang tercebur di dunia akademik, entah tengah studi S2 atau S3. Namun di alam bawah sadar, mereka kebanyakan masih mengusung gagasan bahwa perempuan, apalagi yang berstatus ‘ikut suami’, tak usahlah didengarkan pendapatnya. Cukuplah para perempuan ini menerima hasil keputusan. Kalau tidak sreg, ya sampaikan ketidaksetujuan melalui bisik-bisik cerita-cerita di ranjang setelah menidurkan anak-anak dengan sang suami. Atau dibawa dalam forum gosip ibu-ibu di WA yang lalu dibawa lewat jalur yang serupa di atas. Masalah sampai atau tidaknya ketidaksetujuan, atau bahkan dipertimbangkan atau tidak oleh forum para lelaki, itu wallahualam!

Ya, walaupun di tingkat politik nasional, ada ketentuan untuk melibatkan minimal 20% legislator perempuan di segala tingkat dan ada 9 menteri perempuan di sisi eksekutif, tampaknya di tingkat akar rumput, suara perempuan masih belum sepenuhnya dianggap suara yang perlu dipertimbangkan, walaupun si perempuan sudah ‘jualan’ latar belakang akademik dan profesional untuk mendapatkan status layak secara kemampuan logika.

Balik lagi ke situasi di aras pribadi, kalau pasangan kita sendiri saja (yang mestinya paling paham kemampuan kita dan sayang luar biasa ke kita) tak mempercayai suara kita sebagai suara yang layak didengarkan dan dipertimbangkan, lalu siapa lagi yang akan menganggap suara kita penting? Kalau kemudian kita terkena dampak dari apa pun yang dibicarakan tanpa melibatkan kita, mestikah kita bungkam tak bersuara ketika dampaknya tak bikin nyaman kita?

Ini miris. Sungguh.

Advertisements

2 comments

  1. saya pikir ini fenomena yang akan selalu terjadi di dunia yang patriarkis. Dunia yang menganggap “suara” perempuan sbg ancaman, bukan peluang untuk menambah nilai kehidupan..It’s such a decline in our world today.
    Semoga kita bisa lakukan sesuatu, minimal di keluarga sendiri dengan cara mengajarkan anak laki2 untuk menghargai perempuan sejak dini… Allahua’lam

    Like

Share your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s