Punya Blog Buat Apa?

photo_2016-10-28_08-55-27

@nenyish tanya kenapa?

Kamu punya blog? Berapa banyak? Buat apa? Masih rajin menulis atau blognya udah banyak sarang laba-labanya? Atau jangan-jangan kamu bahkan sudah lupa kata sandi untuk masuk blog kamu sendiri (ini pasti ada yang ngacung untuk kategori ini 🙂 )

Ada masa-masa di mana saya jarang sekali menulis di blog, karena sibuk menangani berbagai peran di dunia nyata. Seringkali apa yang saya tulis di blog itu sudah rangkuman dari “ngamuk-ngamuk” di dunia nyata, baik di kelas, di acara nongkrong, atau di media sosial, lalu bermuara di blog. Jadi kalau unek-unek saya sudah tersalur dengan melegakan ke mahasiswa saya di perkuliahan (iya, kalau ngasih kuliah saya suka melantur ke isu-isu sosial politik budaya keamanan internasional apalah-apalah) atau sudah ditanggapi di media sosial sehingga menjadi diskusi yang asyik, saya biasanya tidak melanjutkannya ke blog.

Tapi itu untuk isu-isu yang boleh dibilang tidak pribadi. Segaul-gaulnya saya (atau dalam istilah Kesayangan Saya, seberisik-berisiknya saya), saya ini orang yang tak gampang berkeluh-kesah soal hal-hal pribadi (sampai ada yang mengomentari, “kayaknya Neny itu senang terus ya? Gak pernah kelihatan ada masalah gitu.”). Sehingga, isu pribadi biasanya tidak mendapat penyaluran di mana-mana (baik di kelas, di tempat nongkrong, atau di media sosial). Kadang-kadang keluar di Twitter sih, tapi itu juga di jam-jam di mana keluhan saya paling-paling tenggelam di lini masa, atau dalam bahasa yang super samar-samar.

Kecuali di suatu blog.

Saya punya satu blog khusus yang isinya adalah karya kreatif saya, baik berupa puisi, cerita, foto, atau penyanyian lagu. Dan karya kreatif saya seringkali sangat pribadi walaupun bahasa atau konteks yang saya pakai seringkali cenderung cryptic (yak, siap-siap ada yang kepo di blog kreatif saya hahaha). Kalau sudah mengganggu hati, saya memilih menulis puisi atau bercerita atau menyanyi, walaupun dari ketiga kegiatan itu, saya paling sulit menulis cerita karena biasanya energi habis di tengah-tengah penceritaan.

Lucunya, saya hanya menjadi kreatif kalau sedang dalam keadaan ekstrim, misalnya, jatuh cinta parah, sakit hati parah, marah luar biasa, sedih luar biasa. Yang menarik, seburuk apa pun hasil karya itu menurut saya (misalnya, kata-kata yang dipakai lebay atau beberapa nada sumbang), karena menciptakannya saya sepenuhnya memakai perasaan, biasanya ada saja yang berkomentar bahwa mereka paham perasaan saya ketika mengapresiasinya atau ikut merasakan perasaan yang saya tuangkan dalam karya.

Blog saya yang itu adalah blog katarsis untuk menumpahkan apa yang terasa di hati. Blog saya yang ini adalah blog reflektif untuk mencurahkan apa yang terpikir di otak. Beda blog, mestinya beda fungsi supaya pembaca nggak bingung (etapi saya pernah baca ada blog yang isinya posting-posting yang serba menyampaikan perasaan patah hati karena ditolak cinta dan separuhnya jualan produk/acara/kegiatan ini-itu. Mungkin karena kasihan, terus pembacanya jadi beli barang/ikutan acara? Wallahualam…)

Kalau kamu, kamu pakai blog untuk tujuan apa saja?

 

Advertisements

4 comments

    1. Makasih komentarnya, Mbak Tam!

      Woh, asik! etapi konsep diri yang gimana, Mbak? Seringkali konsep diri yang dibangun di blog beda banget sama yang di dunia nyata 🙂

      Like

Share your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s