Sugeng Tanggap Warsa, Ib…

various-031

Circa 2010, Pura Tanah Lot, Bali. pic by Nana Manao.

Dua hari yang lalu ibu saya berulangtahun yang ke-63.

Dan saya belum mengucapkan selamat sama sekali. Dan saya berada 12 ribu sekian kilometer dari beliau. Dan saya baru menyadari, beliau umurnya ternyata sudah cukup lanjut.

Ada rasa bersalah menusuk-nusuk hati saya, karena untuk ukuran seseorang yang selalu merencanakan ucapan selamat dan perayaan ulang tahun orang-orang tersayang dengan penuh rincian dan dari jauh-jauh hari, tak mengucapkan selamat dan tak memberikan apa pun untuk seseorang yang menyebabkan saya ada di dunia ini, itu sungguh perbuatan yang tak terampunkan.

Sejauh yang saya ingat, ibu saya yang sejak saya remaja saya panggil ‘Ib’ atau ‘Nyo’, memang tak pernah merayakan atau dirayakan ulang tahunnya. Seringkali hari ulang tahunnya berlalu begitu saja. Beberapa kali setelah saya punya anak, saya beberapa kali mendorong anak-anak saya untuk mengucapkan selamat kepada mbah putrinya, tapi selalu dibalas oleh Ib dengan kata-kata “Halah. Apa ta?” alias “Apaan sih?”, mengabaikan pentingnya hari ulang tahunnya. Tak heran ulang tahun Ib acap kali terlewat. Masih mending ulang tahun Ayah saya yang entah kenapa saya lebih ingat. Mungkin karena tanggapan beliau atas ucapan selamat lebih positif.

Saya ingat pedihnya hati saya ketika mantan saya tak mau mengucapkan selamat ulang tahun kepada saya setiap tahunnya karena ia merasa tak perlu ada yang dirayakan pada hari di mana kematian setahun lebih dekat lagi. Ya, memang ada betulnya, tapi kok rasanya gimana ketika orang yang (harusnya) paling dekat dengan saya kok tidak mengingat hari ulang tahun saya, sampai saya harus sindir-sindir halus.

Bagaimana perasaan ibu saya ya, ketika anak tunggalnya pergi begitu jauh dari kampung tidak mengingat ulang tahunnya? Lebih parah lagi, apa yang dirasakannya ketika si anak belum sekali pun menelponnya semenjak sebulan yang lalu pergi?

Ah, Ib, Nyo-ku Sayang, memang kita tak pernah bertukar rasa, berbagi hati, mengobrol panjang lebar curhat pun anakmu ini dulu lebih memilih Mbah, tapi anakmu sangat tahu Ib sungguh jadi pilar kekuatan mental baja menghadapi hempasan badai kehidupan keluarga kita yang sungguh berupa. Tidakkah Ib yang tegar tanpa banyak bicara menjalankan hidup rumah kita secara normal ketika aku dan Ay serba melarikan diri serba depresi lemah dalam cobaan? Tiba-tiba ada sembilu meretas hati dan air mata mengalir mengingat masa-masa itu dan ib.

Semoga ketika pagi tiba, saya masih diberi kesempatan mengucapkan selamat kepada ib, “Sugeng tanggap warsa, Ib. Mugi-mugi tansah kaberkahan bagas waras saking Gusti Pangeran. Pengin ngaturke apa ngono kagem Ib, ning mesti Ib ra kersa. Ndolanke numpak pesawat sing sarwa kepenak wae Ib ra kersa. Duh, Ib, aku kangen…”

 

Advertisements

4 comments

  1. Selamat ulang tahun buat Ibu ya mbak. Lebih seringnya, walau biasanya jarang diperlihatkan, ibu menyimpan rasa sendiri saat mendapat perhatian dari anaknya. Mendiang ibuku menyimpan baju hadiahku dengan sangat baik di lemari baju2 khususnya. Padahal cuma baju biasa dan kemudian hari aku baru tau bukan warna kesukaannya pula. Beliau gak pernah bilang apa2 juga. Jadi kangen ibu hehe

    Like

    1. Hahahah, disimpen doang apa dipakai juga? Aku pernah bawain oleh-oleh buat ayah ibuku dan bertahun-tahun cuma disimpan dalam lemari. Pas aku tanya kenapa nggak dipakai, katanya sayang hahahaha. Kangen ya? Ayo minimal telpon 5 menit. Bisa lega banget walau pun ngobrolnya gak penting 🙂

      Like

Share your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s