Saya dan 42 dan Anak Lanang

wp-1476002529043.jpegSaya berumur 42 tahun semenjak 5 hari yang lalu. Kenapa? Kaget? 

Kalau kaget, kamu gak sendirian kok. Itu reaksi standar ketika orang tahu umur biologis saya. 2 minggu berada di kota ini selalu ada yang mengira saya sedang studi Master (yang berarti saya masih 30-an lah paling telat), ada yang terpana ketika saya bilang saya sudah punya 2 anak yang salah satunya sudah remaja, dan ada yang mati-matian menolak bahwa saya sudah berusia 42 tahun.

Iya, saya sudah berusia sebanyak itu.

Tahun ini ulang tahun saya sepi-sepi saja. Tak ada bunga di meja kerja saya beserta kopi di pagi hari sebagai ucapan selamat. Tak ada yang membawa kue ke rumah lalu rame-rame merayakannya. Tentu ada beberapa yang mengucapkan selamat di media sosial saya. Tak banyak, karena memang saya tidak secara formal mencantumkan ulang tahun saya di akun media sosial. Seharian saya hanya di kost, dan hanya bertemu dengan keluarga kost. Lalu ditelpon anak lanang serta kekasih hati. Cukup untuk menghangatkan hati di cuaca negeri ini yang sering hujan dan berangin.

Kalau mau berefleksi, pencapaian apa yang saya hasilkan hingga tahun ke-42 ini? Ada beberapa sih. Setelah gagal kuliah di negeri sono dan berjuang 2 tahunan dengan proposal dan beasiswa, akhirnya berhasil berangkat dan menjalani kuliah di negeri ini. Setelah beberapa tahun berada dalam ketidakpastian hubungan romansa, akhirnya lebih mantap tentang perasaan dan status. Tapi pencapaian terbesar adalah ketika diskusi dengan anak lanang, saya semakin melihat bahwa dia adalah anak yang mampu berpikir kritis dan percaya pada nilai-nilai kemanusiaan yang universal. Sebagai seorang ibu yang sering kali rendah diri akan kinerjanya sebagai orang tua (terutama kalau melihat orang lain posting tentang pencapaian anak-anaknya di media sosial), pencapaian anak lanang sebagai seorang manusia itu sungguh menghangatkan hati dan memberi konfirmasi akan beberapa metode yang saya cobakan sebagai orang tua. Ijinkan saya membagi diskusi kami ya…

discussionwithj

Discussion of Mom & Son

Setelah membaca diskusi kami, kamu bisa merasa, kan, kenapa saya menganggap ini adalah pencapaian saya yang terbesar tahun ini? Saya terpukau atas pemikiran kritis anak lanang, dan, ya, hal itu sangatlah cukup untuk memaknai ulang tahun saya kali ini, meski saya berada beribu-ribu kilometer jauhnya dari para kesayangan saya.

Happy birthday to happy me! Tidak ada yang saya harapkan dari tahun yang mendatang selain menjadi manusia yang selalu bahagia bersama para kesayangan saya!

 

Advertisements

Share your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s