Kampus Berasa Kampung: Menggugat Mitos Menara Gading

Sudah dengar soal universitas yang diibaratkan sebagai Menara Gading saking ilmiahnya penelitian di lingkungan kampus sehingga terlepas sama sekali dari remeh temeh kehidupan sehari-hari orang kebanyakan? Ya, ya, saya cukup sering mendengar betapa penelitian-penelitian di kampus itu meski di atas kertas sungguh berguna bagi kemaslahatan umat manusia, tapi dalam realitas seringkali tak lantas diterapkan untuk mengatasi masalah-masalah di masyarakat, dan tertumpuk berdebu di rak atau tersimpan di perpustakaan digital.

Tentu ini berlaku juga buat penelitian yang saya bikin, yang memang kelihatan menjanjikan untuk diterapkan, tapi pada kenyataan paling-paling cuma akan jadi bahan nggambleh saya di seminar para akademisi atau lokakarya para guru bahasa Inggris. Apakah akan benar-benar diterapkan atau tidak, wallahuallam, terserah dari masing-masing pribadi. Saya bisa saja  berkilah bahwa setidaknya saya menerapkannya di kelas saya sendiri, tapi kelas saya toh masih di lingkungan menara gading kampus. Yang lebih parah lagi, ada lho akademisi yang melakukan penelitian hanya demi mendapatkan hibah berjuta-juta, proyek ratusan juta, atau ujung-ujungnya demi mendapatkan poin demi kenaikan jenjang fungsional akademik, tak peduli apakah hasil penelitian itu mengatasi problematika kehidupan rakyat sehari-hari atau menunjukkan keterlibatan kampus dalam keberadaannya sebagai entitas di dalam suatu ekosistem sosial kemasyarakatan.

Baca moto OMB 2016: Datang Untuk BEBAS dan Menang. Freedom is one important value in my campus!

Motto OMB 2016: Datang Untuk BEBAS dan Menang. Freedom is one important value in my campus!

OK, saya memang nyinyir, tapi begitulah sebagian kenyataan dunia kampus.

Tapi kemarin, saya semacam mendapatkan pencerahan kecil, di sela-sela menonton karnaval Orientasi Mahasiswa Baru (OMB) kampus saya di jalanan Salatiga. Karnaval ini sudah berlangsung beberapa tahun di setiap akhir OMB, berupa karnaval ribuan mahasiswa baru dan kelompok-kelompok kampung/komunitas  memainkan drumblek (semacam marching band, tapi  dengan alat musik berupa bambu, galon air minum mineral, drum plastik/logam) dan menampilkan busana ala-ala karnaval di Rio De Janeiro berkeliling di beberapa jalanan utama Salatiga yang tentunya ditonton oleh masyarakat Salatiga yang sering kali haus hiburan saking kecilnya kota berpenduduk cuma 181 ribu saja ini.

Setahu saya, marching band macam begini tak ada di kota-kota lain. Fakta ini saya dapatkan dari hasil mengobrol dengan Roni Azhar, salah satu pegiat marching band dari Pekanbaru, yang menyatakan bahwa ia sama sekali belum pernah mendengar ada marching band dengan alat-alat perkusi dari bambu, galon air mineral bekas dan drum plastik/logam bekas. Drumblek, diinisiasi oleh kelompok drumblek kampung Pancuran (bisa dilihat sejarahnya di youtube di bawah ini), dicoba untuk dimainkan oleh seribuan mahasiswa baru kampus saya untuk pertama kalinya beberapa tahun yang lalu. Bayangkan keseruan menonton alat perkusi dimainkan serempak oleh seribuan mahasiswa baru selama beberapa kilometer. Sungguh meriah dan menyenangkan!


Lalu, setelah beberapa tahun, mulailah tren di kampung-kampung di Salatiga untuk mempunyai kelompok drumblek kampung. Sudah jamak dan lazim melihat anak-anak kecil dan remaja di kampung-kampung di Salatiga berlatih drumblek dengan disaksikan oleh ibu-ibu dan bapak-bapak sambil nongkrong di malam minggu. Yang saya pernah saksikan sendiri adalah di bilangan kampung Kemiri dan di Margosari. Tapi ada banyak lagi kampung yang mulai menjalankan kegiatan latihan ini. Apalagi ketika dua tahun lalu mulai ada lomba drumblek antar kampung dan perkumpulan. Kegiatan ini menjadi semacam kegiatan sosial kampung dan komunitas, dan menjadi identitas yang dibanggakan di lingkungan masyarakat Salatiga. Sudah lazim melihat pertunjukan drumblek di Salatiga, di mana anak-anak, remaja, ibu-ibu, bapak-bapak all-out mendukung kelompok kampungnya. Mereka rela berkreasi dengan kostum warna-warni, atau mengikuti kelompoknya berjalan beberapa kilometer sambil membawa logistik minum untuk para pemain drumblek. 

Dalam soal menggunakan drumblek lewat kegiatan kampus yang kemudian berevolusi menjadi tren kegiatan kampung inilah, saya kira mitos kampus sebagai menara gading dinafikan. Drumblek adalah semacam hasil karya satu kelompok masyarakat yang dimasukkan dalam agenda kampus sehingga menjadi lebih masif dan kemudian ditularkan kepada masyarakat lewat karnaval OMB dan kemudian menjadi bola salju yang bergulir menjadi kegiatan kampung/komunitas, membesar menjadi lomba antar kelompok di tingkat kota (dan lalu menjadi ikon kota Salatiga) lalu kembali lagi ke kampus lewat dukungan kelompok-kelompok drumblek kampung/komunitas dalam kegiatan karnaval tahunan OMB. Kampus tak lagi menjadi menara gading, tetapi menjadi bagian nyata dari masyarakat, sebagai entitas yang diakui dan dirasakan secara nyata kehadirannya di ekosistem sosial kemasyarakatan kota.

Ah, saya nggambleh juga di tulisan ini. Tapi sungguh saya merasakan keriaan sebuah karnaval bak karnaval Rio de Janeiro  bersama ribuan masyarakat Salatiga, tak peduli itu mahasiswa baru pendatang, senior mahasiswa, satpam kampus, dosen gaul, pemain cilik perkusi, remaja punk, ibu rumah tangga, bapak yang menonton anaknya, atau turis musiman di Salatiga. Tak ada lagi jarak antara entitas dalam masyarakat Salatiga baik pendatang baru, pendatang lama, atau penghuni tetap kota. Semua tumplek blek, menjadi pelaku atau penonton, dan bergembira ria merayakan kebersamaan dan kedatangan para mahasiswa baru. Tanpa jarak. Tanpa sekat. Kampus yang berasa kampung. Kampung yang berasa kampus.

Sungguh, saya menggugat mitos menara gading itu!

Advertisements

Share your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s