Tuhan itu Keren!

GodtimingIa (Tuhan) membuat segala sesuatu indah pada waktunya (Pengkhotbah 3:11)

Iya, ini ayat memang dari alkitab Kristen. Saya tak terlalu peduli kalau dituduh sebagai muslim yang murtad  karena mengutip dan mempercayai ayat ini. Tuduhan ini tidak akan mengubah pendapat saya bahwa ayat ini sungguhlah indah dan benar adanya, karena saya telah mengalaminya berulang-ulang kali. 

Misalnya, berbulan-bulan yang lalu sejak saya diterima sekolah di negeri Sang Ratu, salah satu hal paling mencemaskan yang saya pikirkan adalah bagaimana membayar biaya melamar visa dan jaminan kesehatan dengan menggunakan kartu kredit yang jumlahnya fantastis delapan digit. Dana untuk ini sebenarnya ada karena beasiswa saya syukurnya mencakup biaya ini, tapi penggunaan kartu kredit itu sungguh menyulitkan. Sebagai dosen universitas swasta yang jabatan fungsionalnya cuma lektor, tahulah gaji saya cuma berapa. Sehingga limit kartu kredit saya cuma 7 digit dengan angka pertama 3. Mustahil bisa untuk membayar biaya itu sekaligus. Dibayar memakai kartu debit tak mungkin. Dibayar tunai tak mungkin pula. Pokoknya lembaga visa negara itu cuma terima kartu kredit. Titik.

Di dalam soalan ini, saya mengalami bahwa ayat di atas berpadu dengan indahnya dengan ayat lain dalam Quran:

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyroh: 5).

Di titik-titik kesulitan, saya mengamini dengan sungguh bahwa apa pun kesulitan yang saya alami, akan ada kemudahan yang dijanjikan Tuhan untuk orang-orang yang bersabar dan bersandar pada-NYA.

Ada beberapa alternatif yang ditawarkan oleh beberapa teman dan sumber info. Pertama, pinjam kartu kredit siapalah yang limitnya memenuhi biaya visa dan jaminan kesehatan. Kedua, membayar kartu kredit dengan jumlah yang memenuhi biaya visa dan jaminan kesehatan.

Pilihan pertama sudah saya upayakan dengan bertanya ke kanan kiri siapa kira-kira yang punya kartu kredit dengan limit yang besar. Hasilnya? Kolega kantor yang punya kartu kredit dengan jumlah segitu barusan menutup kartu kreditnya karena kena penipuan kartu kredit. Saya pun enggan meminjam teman yang saya tidak dekat, karena kok kesannya sungguh merepotkan. Nggak dekat kok meminjam sebegitu besar?

Pilihan kedua tentu bisa saya lakukan, karena meskipun beasiswa saya yang suka PHP itu belum memberikan dana, tapi saya punya tabungan yang cukup untuk membayar kartu kredit melebihi limit walaupun pasti hanya akan tersisa saldo sedikit untuk hidup sehari-hari. Tapi, saya kok tidak terlalu yakin kalau cara ini akan berhasil. Resikonya cukup besar untuk setor dana dan kemudian tak yakin apakah dana itu akan masuk ke kartu kredit atau tidak. Kalau hilang, waduh, delapan digit!

265608_10150250774416655_4778898_o

First meeting with him in 2011. Gangsta in the house!

Dan Tuhan tak disangka-sangka memberikan kemudahan lewat seorang teman yang kenalnya pun lewat jaringan pertemanan yang rumit dan jarang-jarang nongol dalam hidup saya sehari-hari. Teman ini dikenalkan oleh teman lain lewat pertemuan di seminar internasional fakultas saya, tinggal di negara adidaya yang jauhnya beribu-ribu kilometer dari negeri ini. Ia pernah menginap di rumah saya beberapa malam tahun lalu dan lewat diskusi dengannya di malam-malam itu, saya tahu kami nyambung dan punya idealisme yang sama. Selebihnya, saya terhubung dengannya lewat media sosial. Akunnya saya jarang tengok, apalagi saya komentari. Saya dan dia pun jarang sekali bicara lewat kanal chat. Pokoknya dalam kriteria pertemanan, dia tidak  bisa dikategorikan teman dekat saya.

Tapi saya percaya, setiap pertemuan dengan siapa pun akan ada maknanya, apa pun itu, dan kapan pun itu. Sehingga amatlah penting buat saya untuk menjadi teman yang selalu ringan membantu, dalam hal apa pun dan kapan pun, karena saya tak pernah tahu kapan dan apa bantuan yang akan saya terima lewat siapa pun yang saya temui entah kapan dan di mana. Bukankah manusia di dunia ini akan selalu akan saling membutuhkan dan dibutuhkan?

Dan makna pertemanan itu tiba dini hari ini. Dan pemenuhan janji Tuhan akan kemudahan di waktu yang tepat itu sekali lagi terbukti.

Beberapa minggu yang lalu teman ini mengontak saya, menanyakan apakah bisa menginap di rumah saya untuk beberapa  hari. Tentu saya jawab, bisa sekali, sambil meminta maaf atas segala keterbatasan fasilitas di rumah. Tiga hari yang lalu, dokumen untuk mengurus visa tiba dan saya panik karena waktu sudah mepet untuk mengurus visa sementara solusi soal kartu kredit belum ditemukan. Dua hari yang lalu, dia datang menginap dan seperti biasa kami mengobrol seru tentang segala sesuatu, dan salah satunya tentang masalah visa dan kartu kredit. Lalu, dia menawari saya untuk menggunakan kartu kreditnya. Ringan. Begitu saja. Bahkan setengah memaksa saya karena saya keras kepala menolak merepotkan dia.

Pagi ini, aplikasi visa saya selesai dengan lancar, termasuk pembayaran biaya pembuatan dan jaminan kesehatan, dalam waktu kurang dari 30 menit.

Tuhan memang Super Keren!

PS: Hey, Jonthon! You’re truly an amazing person! Matur nuwun sanget!

 

Advertisements

4 comments

  1. Uang itu seperti borgol. Dua minggu lalu, uangku sudah sedikit sekali saja, yang ada hanya Rp. 30.000 sampai aku makan sekali sehari selama hampir seminggu. Kalau kita nggak punya uang, hidupnya justru sulit, padahal kita bisa belajar bagaimana bisa berhidup secara sederhana dan rendah hati.

    Terus kemudian, dana akhirnya sampai di akun rekeningku, dan aku langsung jadi sadar bahwa ketika dana itu sampai, datang juga kesempatan2 untuk merubah cara hidupnya. Danah tersebut cukup banyak sampai aku bisa berhidup agak mewah kalau mau – tapi aku tidak mau, oleh sebab aku baru saja dapat ilmu dan ngelmu dari perjuanganku dan aku tetap sadar bahwa harta itu juga seperti borgol, tapi untuk otak dan hati kita. “Yo wes, nggak usah diakses – menyulitlah proses tarik tunainya,” kupikir, pas setelah aku tarik hanya sejuta rupiah saja. Dan dengan tarikan itu aku memutus untuk tidak tarik uang sekali lagi dalam jangka waktu dekat maupun jauh.

    Bukan aku yang membantu kamu, Nen, tapi sebaliknya. Aku dapat diingatkan tentang privilejku dan pertanggungjawaban yang menyusulnya. Tentang persahabatan yang asli (walaupun jarang dirawat dengan chat dan sosmed 😛 ). Apalagi, aku sempat kagum sekali lagi ketika aku tiba di rumah. Neny waktu itu harus keluar kota tapi pintunya masih terbuka. Aku disambut (sebenarnya, dijemput!) oleh Pak Petani yang woke dan baik. Apa saja yang ada di rumahnya dibagikan dan ditawar tanpa batasan. Kami bagikan ilmu terus sampai siap tidur. Aku tidur di lantai dan tambah sehat walau yang bermalam di tempat tidur dia butuh dipijat. 😉 syukur alhamdulillah, aku bisa berjuang sedikit demi sedikit supaya tidak terlalu nyaman sampai aku lupa dengan perjuangan yang kita semua mengikuti. Aku juga berpikir tentang hubungannya di antara dua orang bijak ini yang tidak didasarkan atas konsep harta tapi di atas penghormatan, kepercayaan, dan keingintahuan. Katanya rumahnya nggak mewah padahal kusaksikan bahwa rumah itu penuh dengan ide2 yang berharga. Dan justru aku sudah ambil banyak-buuuuuanyak padahal tasku tidak ada tambahan satupun waktu aku berpisah.

    Tasmu akan disiapkan sebentar, lalu Nen akan berangkat ke tempat yang jauh. Yang jelas, akan kami semua rindu samamu. Aku layak disalahkan, sebenarnya, oleh karena aku membantu kamu jauhi diri dari komunitasmu yang membutuhkan perspektifmu dan tantangan filosof yang sering diberi oleh anak sholeh satu ini. 😉 Aku juga pantas disalahkan karena aku meratakan jalan dikit2 agar kamu bisa menyiksa diri sekeras-kerasnya dengan filsofat2 lain dan kata2 bersenjata yang ditulis di artikel2 akademik yang segara saja kamu akan terpaksa membacanya sampai matanya mau berdarah.

    So yeah. Sami-sami, but maybe thank me later? ;P

    Like

    1. Jonthon, I really didn’t know what to say when reading your comment. I was super touched!

      Aku senang berdiskusi denganmu karena begitu banyak hal yang bisa kita obrolkan dari pucuk ke pucuk. Dan aku belajar banyak sekali darimu. Tentu ini karena kamu sudah lolos ujian preliminary sementara aku memulai pun belum. Ya, ya, nanti aku akan terpaksa membaca semua filosofi dari berbagai mazhab sampai mataku berdarah dan otakku menolak mencerna karena muntah-muntah dengan segala gagasan yang aduhai tinggi luar biasa teoritis (dan kadang-kadang utopia-nya juga). Sering kali aku berpikir, buat apa semua omong kosong intelektual dalam buku teks itu ketika didaratkan di rawa-rawa kenyataan di lapangan? Aku lebih nyaman menjadi pragmatis dan menyelesaikan masalah-masalah di dunia nyata, jauh di bawah menara gading bernama universitas itu. Tapi tak ada salahnya untuk mencuri sedikit ilmu yang ada di otak para filsuf dan begawan ilmu pengetahuan itu supaya paling tidak kalau menyelesaikan persoalan di dunia nyata aku tidak asal berbuat, asal bertindak, lalu terjerembab dalam kenyataan bahwa solusi yang kutawarkan ternyata tidak sejalan dengan teori, padahal teori-teori yang ada didasarkan pada kasus-kasus yang serupa dengan yang ada di komunitasku.

      Well, ya sudah, apa boleh buat. Sudah terlanjur dijerembabkan (secara sukarela) ke dunia universitas di negara itu. Tentu aku tidak ingin gagal lagi seperti di benua selatan. Paling tidak, kalau aku tidak jadi bertambah ilmu (atau malah mungkin bertambah bodoh karena ternyata ada banyak yang tak kuketahui), aku boleh bilang pada diriku sendiri bahwa aku tahan menghadapi tantangan-tantangan dan jadi tahu seberapa batas kekuatanku.

      I’ll definitely will thank you later (perhaps, in the acknowledgement?). I’ll keep in touch via skype or social media (not too often, you knew my reading load). But even if I don’t, you should know that when things get rough and you need a thug-look-alike bodyguard to smooth things up, you just need to shout and I’ll do whatever in my capacity to be one. That’s a promise. Set in stone!

      Like

Share your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s