Salatiga dan Lebay

stressinJavaneseSaya nggak mau mengklaim, tapi dalam berbahasa Jawa orang Salatiga itu lebay. Iya.

Gara-gara adik saya Ramdhan yang tak paham saya omong apa, saya jadi ingat seorang teman yang juga menegaskan ke-lebay-an berbahasa Jawa orang Salatiga.

Jadi begini pembicaraan saya lewat WhatsApp dengan Ramdhan beberapa hari yang lalu (bagian yang lebay dicetak miring dan tebal):

Saya (S) : sabetan gek akeh2e, ndilalah kampus yo akhir semester, njur urusan Mas Budi yo gek kebik. (Transl. kerjaan sampingan sedang banyak2nya, eh kampus ya akhir semester, lalu urusan Mas Budi ya sedang penuh)

Ramdhan (R): kebik?

R: ooh kebak

Alih-alih memanjangkan huruf hidup, misalnya dengan menuliskan kebaaaaaak, saya memakai kata kebik untuk menegaskan betapa penuh/padatnya jadwal saya. Jadi saya mengubah huruf hidup a menjadi i. Ramdhan ini walaupun berdarah Papua sono, tapi besar di Jogja, jadi sangat paham bahasa Jawa (bahkan kalau gak lihat muka, pasti dikira orang Jawa tulen!). Jadi saya sempat bingung ketika dia tidak paham kata kebik yang saya gunakan.

Kalau diingat-ingat, ada beberapa kata dalam bahasa Jawa yang diubah huruf hidupnya oleh orang Salatiga untuk menaikkan frekuensi atau keparahan atau apalah-apalahnya. Misalnya kata angil (bukan angel – sulit), akih (bukan akeh – banyak),  suwi (bukan suwe – lama), iju (bukan ijo – hijau), kandil (bukan kandel – tebal). Sering juga kata-kata ini ditambah tekanannya dengan pengucapan huruf hidup yang diperlama. Misalnya angiiiiil, akiiiihh, suwiiiii, ijuuuu, kandiiil. Sekilas tampaknya ini berlaku untuk kata sifat, dan bukan kata benda atau kata kerja. Tapi anehnya ada kata sifat yang tidak diubah huruf hidupnya untuk menekankan frekuensi, tapi ditambahi huruf hidup lain. Misalnya kata cilek (kecil) yang akan ditekan menjadi cuilik, bakoh (kokoh) menjadi buakoh, lara (sakit) menjadi luara. Saya masih memikirkan aturan perubahannya secara tata bahasa, tapi itu nantilah dibahas menjadi penelitian kecil-kecilan apalah gitu.

Setelah mencari-cari soal topik stress (penekanan) di bidang linguistik, biasanya di bahasa-bahasa lain stress ini diwujudkan dalam bentuk keras/lembut, naik/turun nada, atau perbedaan tempat atau cara artikulasi. Ada yang namanya lexical stress, alias penekanan pada suku kata tertentu (misalnya kata present dalam bahasa Inggris, kalau ditekan di suku kata pertama akan bermakna kata kerja, kalau di suku kata kedua akan bermakna kata benda. Jadi bisa saja mengucapkan “I present this present to you.” tapi kata present penekanannya di suku kata yang berbeda). Silakan dilihat di wikipedia soal pengetahuan ini. Tapi menariknya, di teori linguistik tentang stress ini sama sekali tidak ada ditulis pembahasan tentang  perubahan huruf hidup untuk menekankan ke-lebay-an bahasa Jawa orang Salatiga ini.

Wah, tampaknya ini bisa jadi topik disertasi atau penelitian nih. Ada yang mau meneliti? Kalau bahasa Jawa di daerahmu bagaimana?

Advertisements

2 comments

Share your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s