Sedih dan Saya

Dark sky. Just like my mood. © nenyish

Ketika sedih sekali sejak kecil saya suka duduk di lantai di pojok ruangan di rumah. Saya suka membayangkan bahwa dunia yang saya miliki adalah hanya sekotak kecil di pojokan itu. Tempat yang tidak diperhatikan orang. Tempat di mana saya diabaikan. Tempat di mana saya dibiarkan dengan kesedihan saya.

Ketika agak besar, bila sedih saya suka memandangi langit. Jika siang hari, ada keluasan yang tak berbatas di mana tak ada apa-apa kecuali awan yang berarak-arak tertiup angin. Sesekali ada burung lewat, tapi selebihnya adalah keluasan yang membuat saya merasa sendiri. Jika langit malam yang terpampang, ada milyaran bintang yang berkelip jauh sekali dan saya merasa menjadi salah satu partikel bintang yang tak menonjol sama sekali.

Saat ini saya sedang memadukan dua situasi itu: duduk di lantai di pojokan balkon, memandang langit petang yang berawan gelap. Rasanya komplit: sedih, sendiri, sepi. Perasaan terabaikan membuat tiga perasaan itu mencapai nadir. 

Dalam 5 atau 10 atau 15 menit, saya akan kembali menjadi saya yang ceriwis, berisik, penuh keriangan. Jangan khawatir. The sun always exists, even behind the darkest cloud. Right?

Advertisements

Share your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s