Oh, Birokrasi Pemerintah…

Mungkin Anda akan bosan baca tulisan saya tentang topik ini. Atau mungkin Anda akan sama jengkel dan frustrasinya dengan saya. Atau Anda akan menyarankan agar saya bersabar dan mengikuti semua prosedur. Tapi kemungkinan besar Anda akan bersetuju dengan saya: birokrasi di negeri ini sungguh merepotkan dan tidak efisien.

Bagaimana tidak? Setiap kali berurusan dengan birokrasi di negeri ini, saya harus ngamuk-ngamuk karena mereka yang  berada di posisi administrasi bisa dengan semena-mena mengharuskan ini itu dengan tenggat yang aduhai mepet, tapi ketika saatnya kita butuh dengan segera, mereka akan dengan santainya menunda, menahan tanpa kejelasan. 

Kali ini yang bikin saya meradang adalah urusan beasiswa dari pemerintah ini.

Dari awal mula memulai aplikasi, saya sudah harus direpoti dengan segala syarat administrasi yang bikin pusing. Dari mulai membuat tiga esai panjang-panjang (ada yang minimal 700 kata, ada yang maksimal 2000 kata!), mengurus surat-surat dari berbagai lembaga (untuk mendapat selembar surat ijin melamar beasiswa dari Kopertis, saya harus membuat surat pengantar dari program studi, fakultas, Pembantu Rektor 1, sampai Rektor; dengan melampirkan ijazah S2, SK dosen tetap, Letter of Acceptance dari universitas tujuan. Untung Kopertis saya cuma minta 3 syarat berkas dan kooperatif mengirimkan suratnya lewat email. Kopertis lain bisa minta lebih dari 3 dokumen. Untung pula saya cuma harus bolak-balik ke Semarang yang cuma 45 menit dari Salatiga. Kalau yang Kopertisnya antar pulau, bisa bikin kantong meringis.), tes kesehatan plus bebas narkoba dan bebas TBC dari rumah sakit daerah (bikinnya seharian sendiri), melampirkan berbagai rupa surat dari mulai surat perjanjian blah blah blah, ijazah, transkrip, hasil tes IELTS sampai segala proposal riset dan bukti komunikasi dengan calon pembimbing, dan mengisi formulir aplikasi yang berhalaman-halaman. Capek deh.

OK lah, saya pernah juga mengisi formulir untuk beasiswa dari pemerintah atau universitas sono-sono. Tapi formulirnya gak seribet dari pemerintah kita. Paling-paling 1-2 halaman saja. Dokumen yang diminta standar saja macam ijazah, transkrip, bukti kecakapan bahasa Inggris, dan wajar diminta karena mereka belum punya dokumen saya. Esai paling-paling cuma 2, dengan panjang yang masuk akal (500-1000 kata, bukan minimal, tapi maksimal, jadi harus pintar-pintar mengirit kata). Proposal penelitian diminta juga karena itu akan dinilai, tapi formatnya bebas, tidak harus begini begitu. Dan begitu semua dokumen saya masukkan ke sistem, besok-besok lagi saya cuma perlu menyebutkan nomor identifikasi saya di sistem, et voila, semua data saya rapi tercantum dan tak perlu lagi saya mengisi ulang formulir atau memasukkan dokumen apa pun.

Yang saya nggak sreg dengan dokumen yang diminta oleh pemerintah kita itu adalah karena mereka HARUSNYA sudah punya di pangkalan data mereka. Lha wong saya punya Nomor Induk Dosen Nasional (NIDN) dan untuk daftar beasiswa ini saya harus berstatus sebagai dosen. Kan sudah jelas seterang matahari di siang hari bolong, saya punya NIDN karena saya resmi dan jelas-jelas dosen.

Ketika saya memasukkan NIDN ke sistem aplikasi beasiswa online untuk  boleh mendaftar, dari situ harusnya bisa kelihatan status saya. Kan berarti kalau dicari di pangkalan data, sudah kelihatan data-data saya dari mulai nama, alamat, tempat bekerja, kualifikasi pendidikan (lengkap dengan saya lulus dari universitas mana dan kapan dan gelar apa), jabatan fungsional akademik, pangkat, dan segala tetek bengek data saya itu. Kalau mereka bisa kasih keluar semua data itu secara online, mestinya kan ada dasarnya kenapa mereka bisa dapat informasi itu. Duluuuuu sekali kan pernah saya memasukkannya lengkap dengan dokumen pendukung. Beberapa dokumen pendukung itu yang keluarkan mereka juga (macam sertifikat pendidik, jabatan fungsional, penyetaraan ijazah luar negeri). Lha terus buat apa saya harus memasukkan lagi dokumen-dokumen itu secara online untuk melamar beasiswa yang ditujukan untuk dosen? Sebegitu sulitnyakah bagi pemerintah yang punya duit dan bisa merekrut sumber daya IT terhebat di negeri ini untuk menciptakan sistem online dengan pangkalan data yang saling terkoneksi?

Soal waktu juga. Entah kenapa pemerintah suka banget sama yang namanya waktu yang mepet-mepet. Kalau nggak mepet, mungkin gak asoy (Loe kate ame gebetan, Nen?). Yang kemarin ini saya dibikin deg-degan gara-gara pengumuman lolos ke wawancara diberikan hari Jumat malam, tapi sudah harus di Jakarta hari Senin malam untuk wawancara hari Selasa pagi-pagi. Ya untung ada fasilitas booking pesawat dan hotel online, jadi bisa cepat pesan segala rupa transportasi dan akomodasi. Tapi saya masih disuruh nambah dokumen lagi, yang kudu ke Rektor dulu. Untung Rektor saya baik hati dan tidak sombong sedang berada di Salatiga dan bisa mengeluarkan surat dalam jangka waktu 2 jam saja. Tapi tetap deg-degan dong baru dapat surat 1/2 jam sebelum berangkat ke Jakarta. Belum lagi jadwal saya yang jadi kacau-balau. Udah dengan riangnya ngomong ke mahasiswa, See you in class next Monday!, eh, batal bubar deh kelas karena saya harus ngibrit wawancara. Mepetnya pengumuman lolos mendapat beasiswa bukan berarti kegalauan mepetnya waktu selesai. Oh, tentu tidak! Saya butuh segala surat untuk melamar visa dan untuk itu harus menunggu setelah lokakarya pra keberangkatan. Kapankah lokakarya itu? Hanya orang-orang di Senayan sana yang tahu. Ditambah lagi butuh 20 hari setelah wawancara visa untuk visa rampung. Sementara itu menurut info, jadwal wawancara visa sudah penuh sampai akhir bulan Agustus. Yay! Hidup saya indah…

Untungnya saya punya orang-orang yang selalu mendukung saya untuk menjalani semua proses yang alamak gila ini. Dan entah kenapa, tangan Tuhan selalu bekerja di detik-detik menentukan dalam proses sehingga saya entah gimana bisa dapat surat ini itu, dapat tanda tangan ini itu, dapat jadwal yang pas ada, ketika kelihatan di atas kertas situasi sudah hampir-hampir tak masuk akal sehat lagi.

Terima kasih, Kamu, yang selalu di sisi saya dan memberikan pelukan (plus bonus cium dan nganu-nganu) di saat saya ngamuk-ngamuk atau drama gak beres gara-gara pemerintah kita yang posesif, PHP, bikin galau, kek gebetan kurang sajen. Semoga saya tetap sehat waras tak kurang apa pun dan bisa memulai proses yang lebih penting dan esensial daripada urusan birokrasi ini. Hei, Kampus Peringkat 33 di Dunia, saya pasti akan datang kepadamu September ini!  Cognitio, sapientia, humanitas!

Advertisements

2 comments

  1. Mbak Neny,

    Sukses ya untuk beasiswa yang akan diraihnya 🙂

    Persoalan administrasi memang bikin dongkol dan buang-buang waktu. Tarik nafas ya Mbak, sebagai anak muda yang peduli sama curhatan Mbak-Mbak saya akan jadikan ini masukan untuk memperbaiki sistem di Republik Indonesia ini.

    Sebagai anak muda harapan bangsa, saya akan memperbaiki kinerja Republik Indonesia ini agar pelayanan publik mudah diakses dan ramah.

    Salam,
    Anak muda \m/

    Like

Share your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s