Sukses vs. Gagal: Cerita Saya

Tulisan ini adalah esai yang saya masukkan untuk seleksi Beasiswa Unggulan Dosen Indonesia 2016. Semoga lolos! 🙂

Alih-alih menulis tentang kesuksesan, saya memilih untuk menulis tentang kegagalan, karena kesuksesan acap kali seiring sejalan dengan kegagalan. Sebagaimana Winston Churchill, perdana menteri Inggris, berucap “Success is not final; failure is not fatal: It is the courage to continue that counts.”, kesuksesan bukanlah sebuah akhir; kegagalan bukan sesuatu yang fatal; tapi keberanian untuk terus maju itu yang lebih berarti. Dalam hidup saya, seringkali kegagalan malah membuat saya untuk terus melangkah maju dan kemudian mengecap kesuksesan.

Salah satu kegagalan yang saya alami terjadi ketika saya lulus SMA di tahun 1992. Sebagaimana anak-anak SMA yang seringkali tak paham kemampuan diri dan menganggap bahwa kuliah di universitas negeri itu keren, saya mengikuti Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) dengan memilih jurusan teknik kelautan Undip dan kehutanan UGM, walaupun nilai Ebtanas untuk mata pelajaran Biologi hanya 5,56 dan Kimia hanya 6,50. Hasilnya adalah kegagalan. Saya tidak lolos. Karena keterbatasan ekonomi saya kemudian memilih kuliah di Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni (JPBS), Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI), Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, di kota saya sendiri, karena nilai Ebtanas saya untuk mata pelajaran bahasa Inggris adalah yang tertinggi di antara mata pelajaran yang lain yaitu 9,20.

Kegagalan akademik awal itu ternyata bukanlah hal yang fatal, bahkan membuahkan kesuksesan saya dalam berkuliah dan berkarir di bidang yang saya minati. Indeks Prestasi (IP) saya di semester pertama adalah 4,00 dan selanjutnya tidak pernah kurang dari 3,5. Saya lulus dengan IP 3,62 sebagai winisuda terbaik periode wisuda bulan Maret 1997.
Namun kesuksesan meraih IP bagus bukanlah suatu akhir. Saya masih mengalami kegagalan di bidang pekerjaan. Setelah lulus S1, saya bekerja sebagai Sekretaris di Business Center Sheraton Timika Hotel, Timika, Papua. Kesempatan untuk menjelajahi bagian lain dari Indonesia ini tentu tidak saya sia-siakan, meskipun saya sebenarnya tidak berminat menjadi sekretaris. Sayangnya, selama 3 tahun bekerja (1997-2000), saya gagal menjadi sekretaris yang baik karena di beberapa tugas administrasi saya tidak kompeten walaupun kemampuan bahasa Inggris saya sangat baik sehingga dipercaya untuk menjadi pembawa acara untuk beberapa acara internasional.

Saya kemudian memutuskan berganti pekerjaan dan bekerja sebagai dosen di PBI UKSW sejak tahun 2001 hingga sekarang. Saya menemukan bakat dan minat di bidang Computer-Assisted Language Learning (CALL) dan mendapatkan kesuksesan-kesuksesan di bidang ini, misalnya dengan terpilih menjadi salah satu dari 11 peneliti di bidang CALL dari seluruh dunia yang didanai oleh WorldCALL, organisasi untuk praktisi CALL di tingkat dunia, untuk menghadiri dan melakukan presentasi di konferensi internasional WorldCALL 2008 di Fukuoka, Jepang.

Karena saya merasa bahwa saya harus terus meningkatkan kompetensi saya sebagai dosen, saya ingin melanjutkan studi ke jenjang S2, di universitas dengan program CALL di negara yang berbahasa Inggris. Untuk mendanai studi S2, di tahun 2002 saya melamar beasiswa Australian Development Scholarship (ADS), Chevening Awards, dan Fulbright Master’s Degree Program. Namun saya mengalami kegagalan, karena saya tidak lolos beasiswa ADS dan Chevening. Dua kegagalan tersebut membuat saya lebih bersungguh-sungguh dalam melamar beasiswa Fulbright, dan di tahun 2003 saya sukses terpilih sebagai salah satu dari 25 orang penerima beasiswa Fulbright dari sekitar 5.000 orang pelamar dari seluruh Indonesia. Dengan beasiswa Fulbright, saya berhasil menyelesaikan studi S2 saya di Iowa State University of Science and Technology, Ames, Iowa, Amerika Serikat di tahun 2005 dengan IP kelulusan 4,00 dan thesis berjudul “Interaction Modifications in Internet Chatting” yang diterbitkan oleh IGI Global, Hershey, Pennsylvania, Amerika Serikat di tahun 2008 sebagai salah satu bab dalam Handbook of Research on E-Learning Methodologies for Language Acquisition.

Tentu saja saya juga mengalami kegagalan-kegagalan yang lain dalam hidup saya, tetapi dari pengalaman tersebut, saya belajar bahwa kegagalan bukanlah sesuatu yang fatal. Bahkan ketika sukses pun diraih, itu juga bukanlah suatu akhir, melainkan awal dari tantangan-tantangan selanjutnya. Saya percaya bahwa keberanian untuk terus maju adalah yang membedakan antara orang yang sukses dan yang gagal. Demi keberanian untuk terus maju itu, saya percaya bahwa walaupun saya mengalami kegagalan-kegagalan dalam proses saya menjalani program PhD di University of Manchester, Inggris nanti, saya akan terus-menerus mencoba dan melakukan segala upaya hingga saya sukses dalam meraih gelar PhD. Setelah gelar PhD sukses saya raih, itu juga bukanlah suatu akhir, melainkan awal dari perjuangan saya selanjutnya, terutama perjuangan untuk terus mempercayai potensi kesuksesan di setiap mahasiswa saya, sekali pun mereka mengalami kegagalan, dan perjuangan untuk mendorong mereka terus maju menuju kesuksesan.

Advertisements

4 comments

Share your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s