Saya Adalah Ibu yang Buruk

Saya bukan ibu yang baik. Daniel-LTC-farewell-01032013- 093

Setiap kali ada orang tua lain yang memposting di media sosial betapa hebatnya anak(-anak) mereka dalam pencapaian akademik atau ekstra kurikuler atau apalah-apalah™, saya akan diam-diam merasa rendah diri karena, jujur saja, anak saya ya begitu-begitu saja.

Dia tentu saja tidak sepenuhnya buruk. Sebagai ibunya saya tentu menolak kalau dibilang anak saya buruk. Prestasi akademik? Well, ya gimana ya? Dia sempat beberapa kali terancam tidak naik kelas. Tapi dalam hal-hal tertentu misalnya pengetahuan tentang alat-alat transportasi, dia bisa mengingat bahkan jenis bis tertentu hanya dari melihat bentuk lampu sorotnya. Kegiatan ekstrakurikuler? Ya saya tahu dia ikut les piano karena dia senang bermain piano. Ikut juga dalam ekskul rebana dan Seksi Kerohanian Islam (SKI) serta majalah dinding di sekolah. Tapi ya sebagai anggota biasa saja, tidak jadi ketua ini itu yang mewakili sekolah di mana-mana. Paling dia pernah mewakili sekolah di lomba-lomba bahasa Inggris dan itu wajar saja karena bahasa Inggris adalah bahasa komunikasi kami sehari-hari di rumah sejak dia TK dan dia pernah mengecap bangku sekolah di negara sono. Biasanya dia menang sih, tapi ya wajar saja karena itu bahasa yang dia pakai sehari-hari.

Terus terang seringkali saya frustrasi. Ibunya ini aktifis dari jaman SD, manggung ini itu di sana sini, mewakili sekolah di lomba pramuka, jadi ketua ini itu, dan dengan prestasi akademik yang lumayan bikin besar kepala. Tapi si anak biasa-biasa saja, bahkan cenderung tidak mau menonjol saking rendah dirinya. Pernah teman-temannya membujuk-bujuk dia untuk jadi pengurus SKI, tapi dia ogah. Pernah dia disuruh oleh sekolah untuk berpidato dalam bahasa Inggris di acara besar sekolah yang mengundang pembicara tingkat daerah, yang berakhir dengan dia hanya mengucapkan 2-3 kalimat.

Saya adalah ibu yang buruk, yang seringkali sibuk bekerja, sibuk berkegiatan, tidak pandai memotivasi dia untuk berkompetisi, sering memarahi dia kalau lupa kewajiban membersihkan kamar dan mencuci baju-bajunya sendiri, deg-degan setiap kali harus mengambil rapor di sekolah, menangis karena frustrasi melihat dia tak mau belajar, dan sebagainya dan seterusnya. Saya bahkan membuat keputusan besar untuk memisahkan dia dari ayah dan adiknya.

Saya memang ibu yang buruk. Saya tak pandai memasak, tak pintar memotivasi, tak mampu berbicara dari hati ke hati, tak terampil mendorong dia.

Dan yang paling buruk adalah, saya mulai membanding-bandingkan dia dengan anak-anak lain, padahal tidakkah saya selalu mampu melihat kebaikan di mahasiswa saya yang paling buruk pun?

Maafkan Ibuk, Le, karena melupakan bahwa kamu punya kelebihan-kelebihan dan pencapaian-pencapaian yang mungkin tak kasatmata tapi nyata terasa. Seperti kemampuanmu untuk mengucapkan “I love you, Mum” ketika Ibu merasa lelah lahir batin. Seperti kemampuanmu untuk berempati kepada banyak orang bahkan orang asing atau hewan sekali pun. Seperti semua pertanyaan kritismu yang menunjukkan kedalaman pemikiranmu.

Dan yang terpenting, semua pengertianmu atas Ibukmu yang buruk mengasuhmu. 

Terima kasih, Le!

 

 

 

 

Advertisements

3 comments

  1. It’s better to feel that you are an awful person but your son think you are a superhero and fabulous instead of trying to do all of the great things to ur son and he still thinks you’re awful..
    what is more beautiful in this world instead hearing your son says “i love you mum”
    semangaaaaattt bu nen..!!

    Devi
    Depthdreamie.blogspot.co.id

    Like

Share your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s