Salatiga dan Baper: ek, ik, dan ok itu tidak sama, Jendral!

Kowe arep nengdi, ek?

IMG_20151221_073829

Kamu mau ke mana? Sapaan dalam bahasa Jawa itu mungkin akan Anda dapatkan jika bertemu dengan teman atau kenalan di jalan di sembarang daerah di Jawa Tengah. Tapi yang baru saya tulis di atas itu bukan dari sembarang daerah. Tahu dari daerah mana dan di mana letak bedanya dengan daerah lain?

Yak, betul! Itu sapaan yang khas dari kota Salatiga. Bedanya dari daerah lain adalah tambahan kata ek di bagian akhir kalimat (e-nya dibaca kayak kalau Anda manggil dedek-dedek gemes itu lho!). Istilah kerennya, ek itu adalah tag, yang menurut kamus Merriam-Webster adalah frasa singkat yang digunakan untuk menegaskan gaya berbicara atau mendapatkan efek kalimat (“a brief quotation used for rhetorical emphasis or sententious effect”)

Orang Salatiga memang paling suka menambahkan frasa ek di akhir semua kalimat, baik kalimat tanya, pernyataan, atau perintah. Jadi jangan heran kalau Anda berkunjung ke kota yang penuh prestasi ini (lah, nggak usah dibahas di sini bahwa Salatiga itu kota paling toleran, paling sehat, paling jujur, dan segala paling lainnya. Wong itu sudah jadi bahan sombong narsis orang-orang Salatiga), Anda bakal sering mendengar percakapan yang penuh bertaburan ek (macam di gambar saya yang lucu imut apalah di atas).

Tapi ek itu bukan satu-satunya tag yang kami pakai. Kami juga sering memakai ik dan ok juga (entah kenapa ak dan uk nggak ikut-ikutan dipakai. Kali lain mungkin saya akan merisetnya ah).

Nah loh! Apa bedanya ek, ik, dan ok coba?

Bedanya? Perasaan! Iya, orang Salatiga mainnya perasaan. Misalnya gini, ada yang bertanya ke Anda, mengapa Anda datang terlambat datang ke rapat di hari yang berhujan (Kowe telat teka rapat ngopo, ek?). Ada tiga variasi jawaban ala Salatiga yang bisa Anda sampaikan, macam berikut ini:

(1) Udan, ik.
(2) Udan, ek.
(3) Udan, ok.

Tingkat perasaan defensif dari tiga jawaban itu berbeda-beda lho menurut orang Salatiga. Tingkat pentingnya suatu alasan dan parahnya situasi/konteks kejadian juga berbeda-beda dari tiga jawaban di atas.

Kalau Anda memakai jawaban (1), itu artinya Anda nggak terganggu dengan pertanyaan mengapa terlambat datang itu dan hujannya mungkin rintik kecil-kecil yang tidak mengganggu Anda juga. Kemungkinan juga rapat yang harus dihadiri itu tidak penting-penting amat, sehingga nggak terlalu membawa pengaruh kalau Anda datang terlambat. Pokoknya, pemakaian ik itu mengesankan hal-hal yang tidak signifikan, tidak terlalu penting, dan bahkan di beberapa kasus itu untuk menunjukkan komentar  tentang kelucuan, keimutan dari suatu perkara/hal.

Jawaban (2) biasanya diberikan ketika perasaan rata-rata air. Penanya diharapkan maklum dengan alasan yang diberikan karena alasan yang diberikan biasanya logis. Ya wajar terlambat datang ke rapat karena situasinya sedang hujan. Gitu. Santai wae ra sah mbleyer. Ngono.

Jawaban (3) adalah jawaban yang paling baper alias bawa perasaan. Si penjawab biasanya akan memberikan jawaban (3) dengan nada naik minimal setengah oktaf. Pertanyaan yang begitu, ditanyakan dalam situasi hujan badai lebat luar biasa, tentu akan mengundang jawaban (3). Lha wong hujannya gila-gilaan macam gitu, masih pula ditanya kenapa terlambat. Masih mending kalau bisa datang rapat. Pertanyaan macam begini adalah pertanyaan yang meragukan komitmen dan integritas si penjawab (halah!), sehingga jawaban yang diberikan pasti dengan tag ok dan dengan nada meninggi. Ok itu intinya adalah untuk segala pemakaian yang memakai emosi tingkat tinggi. Baper super!

Jadi besok-besok kalau menanyai orang Salatiga, harap diperhatikan baik-baik tag di akhir kalimat jawaban. Dari situ Anda bakal tahu gimana suasana perasaan si penjawab dan bisa memberikan reaksi yang tidak membahayakan keamanan negara hubungan.

Kalau di daerahmu, bahasa khasnya apa ek?

 

Advertisements

82 comments

      1. Jian, nek wong luar kota dikandhani bab rolade, mikire mesti rolade daging, padahal mung godhong tela. Sing angel tenan ki nggolek rolade jembak. Kudu tekan Senjoyo gek entuk!

        Like

  1. bener iki. ket cilik aku yo ngomonge ngono ik. mesti akhire nganggo ek, ik, lan ok.
    wkwkwk 😀 meski sekarang sudah pindah ke papua.

    Like

  2. Keren nih risetnya 🙂 mungkin juga ik untuk ekspresi kejadian tiba tiba tak terduga. Misal baru mau keluar rumah bareng teman trus ujan.. ekspresinya “udan ik” . Betul gak sih? Hehehe ini pendapat saya sbg pendatang di Salatiga, mungkin salah 😀

    Like

  3. Lucu ya, ternyata selama ini ada kamsud dalam tingkatan situasi bicaranya.
    Aku malah engga’ memperhatikan selama ini walaupun juga memakai 3 atribut itu secara bergantian plus ditambah “je” karena terakhir 3 tahun terkontaminasi saat studi lanjut dikota tsb.
    Yg engga terbiasa dg logat ini mmg akan bingung ” lucu” nya dimana. Tapi yg mmg mengerti dan tahu, pasti tulisan ini sangat mengena di hati.
    Terima kasih penulis, salam new life.

    Like

    1. Terimakasih sudah membaca. Saya dari kemarin malah bingung di mana lucunya je #terJogja tapi setelah baca komentar Mbak Tere jadi agak-agak ngeh di mana letak lucunya 🙂

      Like

  4. Kalo di surabaya itu, banyak! Hahaha.. yang membedakan adalah intonasinya saja..

    Tapi kita identik dengan “tah”, “po”, “po’o”, “jeh”, “pek” dan yg pasti “cuk” :p membedakan orang itu baper ato nggak tergantung intonasinya. Nek mbleyer yo ngamuk pastine haha
    Btw salam kenal..

    Like

  5. Jane yo ga salatiga tok ok, kayane hampir kabeh Jowo, kecuali banyumasan. Kalo Tegalan ada sedikit modifikasi dengan hilangnya konsonan K. “pimen o, pan madang ngendi?”

    Ada juga penggunaan gek, kalau dipakai sebagai awalan mungkin sudah biasa “Gek kepiye”. Tapi ya ono juga sing dadi akhiran “ho’o gek.” Mungkin mirip2 dengan je’.

    Yang saya masih bingung itu “horok,” horok kepiye kui klasifikasi linguistik e, aku ra ngerti gek.

    Like

  6. Sebagai tambahan saja, sepagai pengguna Ik, Ek, dan Ok semenjak mbrojol, frasa “Ik” itu biasanya berlanjut ke kalimat selanjutnya yg bersifat tanya. Contoh: Wes mangan lek? “durung ik.. Pie? meh mbok tukoke?”, Wes krungu kabare Anu Lek? “durung ik, pie?”, Atau.. “wah malah udan ik lek.. pie?”, “Wuihhh.. apik ik, ya?”

    berbeda dengan “Ek” yang lebih cenderung sekedar pemaparan tanpa kelanjutan pembicaraan.. Ndak wes mangan? “Durung ek..”, THR mu ndak mudhun? “ora ek…”, Natal mulih kampung ora? “ora ek…”

    Sedangkan “Ok” biasanya digunakan untuk memaparkan alasan atau hubungan sebab akibat (maka terkesan baper): Ra mangan to Lek? “Ha ra kober ok..”, Kok ndengaren telat lek? “ha udan ok..”, Rasah nangis to lek, koyo cah cilik wae.. ” Ha lara ok mat*mu”

    Murni opini, boleh dikoreksi jika kurang tepat.. : )

    Like

  7. awalnya pas baca doang gagal paham, tapi kalo dicoba dibaca sama di kasih ekspresinnya jadi ketahuan situasinnya hehehe.. dari ek, ik, ok itu aja udah bisa mengungkapkan perasaan orang tersebut hehe

    Like

  8. aku wis limolas taun merantau, ik… ek… dan ok… tetep dipakai dan otomatis keluar ketika
    1. pulang kampung
    2. ngobrol dengan orang Solotigo

    Like

  9. Mbak neny seiki dadi rajin menulis ikh.. Sangar ekh seiki.. 😁😁 artikelnya banyak yg ngeshare, Lhaa baguuss okh mbak artikelmu ki…

    Like

Share your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s