Kesasar di Negeri Sendiri

12243329_10153138421017407_4863921953816262114_n

Petunjuk arah di Bandara Kaitak, Hong Kong

Di sono-sono nggak pernah kesasar, mau di bandara, stasiun, gedung publik, bisa ketemu. Lah ini di bandara negeri sendiri bisa nyasar terminal. Mungkin saya lelah :((

Begitu tulis saya di Facebook ketika tiba kembali ke Jakarta setelah bepergian ke Daejeon dan Seoul selama seminggu sembari singgah beberapa jam di bandara Kaitak, Hongkong. Di e-tiket maskapai singa jelas tertulis saya harus ke Terminal 1 di Bandara Soekarno-Hatta untuk meneruskan perjalanan saya ke Semarang, sehingga saya santai saja menghabiskan waktu di Terminal 2 tempat saya tiba, lalu menumpang bis antar terminal. Tapi di mana tempat bis antar terminal berhenti di terminal kedatangan?

Saya sempat menunggu di satu tempat yang ada tulisan besar “Shuttle Bus” yang logikanya adalah tempat bis antar terminal menaik turunkan penumpang. Tunggu punya tunggu, 15 menit, 30 menit, dan tidak ada satu pun bis antar terminal yang lewat. Ternyata saya harus ke lantai 2 di Terminal 2 supaya bisa naik ke bis itu. Akhirnya satu setengah jam sebelum keberangkatan ke Semarang, saya berhasil juga ke terminal 1.

Tapi masalah belum usai. Setelah tiba di Terminal 1, penerbangan saya ke Semarang sama sekali tidak tercantum di monitor. Ketika dengan panik saya bertanya di bilik informasi, penerbangan ke Semarang sekarang dipindahkan ke Terminal 3! Lah, terus kenapa tidak dicantumkan di e-tiket?

Dengan panik saya kembali menumpang  bis antar terminal, berharap semoga perjalanan dari Terminal 1 ke Terminal 3 tidak berlambat-lambat sehingga saya tidak terlambat check-in dan ketinggalan pesawat. Untung saja, saya masih bisa check-in dan setelah menunggu 30 menit, plus delay 40 menit, akhirnya kami semua para penumpang diberangkatkan ke pesawat di landasan dengan menumpang bis.

Begitu saja? Tidak! Ternyata pesawat ada di dekat Terminal 1, Saudara-Saudara! Jadi bis yang kami tumpangi membawa kami dari Terminal 3 ke Terminal 1. Bedanya dengan bis antar terminal adalah kami melewati jalur di landasan. Yaelah! Ngapain juga penumpang harus check-in di Terminal 3 kalau ternyata pesawatnya di Terminal 1? Pemborosan energi, waktu, dan BBM!

Lucu tapi getir juga rasanya bahwa ketika bepergian dan menyinggahi beberapa pemberhentian moda transportasi (bandara, stasiun subway, stasiun kereta) dan tempat-tempat publik semacam taman kota, gedung mall, festival di tepi sungai di negara lain, saya tidak pernah kesasar. Walaupun aksara Hangul Korea dan Mandarin China saya nggak paham sama sekali, selalu ada petunjuk arah dalam aksara latin berbahasa Inggris yang ditempatkan di titik-titik yang potensial membingungkan, sehingga saya dengan mudah menemukan arah.

Tapi di bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, yang notabene tulisannya latin dalam bahasa Indonesia, saya malah menemukan banyak kebingungan. Entah apakah para perancang bandara dan fasilitasnya tidak memikirkan penempatan petunjuk supaya bisa mencerahkan ketimbang menyesatkan penumpang. Entah desain bandara yang tidak fungsional dan sudah salah dari awal mula (begitu teori sahabat saya Jensen Yermi ketika saya bercerita soal insiden ini padanya). Atau entah saya yang sudah terlalu lelah setelah menghabiskan hampir 20 jam di perjalanan.

Mungkin yang terakhir yang paling benar. Mana mau pihak bandara (dan pengelolanya) dipersalahkan? Ya kan? Ya kan?

Advertisements

Share your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s