Alangkah Diskriminatifnya Negeri Ini!

wpid-wp-1438200260436.jpeg

Orang Indonesia itu diskriminatif.

Begitu kesimpulan anak saya, Jalu, setelah tiga hari berkeliling beberapa tempat wisata bersama mas patjar,  sahabat saya yang orang Makedonia dan pacarnya yang orang Australia, di seputaran Salatiga dan Jogja.

Apa pasal? Di setiap tempat wisata, baik itu candi, museum, maupun keraton, teman saya dan pacarnya yang jelas-jelas kelihatan bule, akan dikenai ongkos masuk yang jauh lebih besar. Foto yang di sebelah itu (dari Museum Sono Budoyo) terhitung murah, karena perbedaan harga tiket masuk hanya beberapa ribu rupiah saja. Di keraton Sultan Hamengkubuwono, bedanya meningkat menjadi beberapa puluh ribu: kami cuma membayar Rp 5.000 per orang, teman saya harus membayar Rp 25.000. Yang paling fantastis adalah yang di candi; perbedaan harga antara wisatawan lokal dan wisatawan mancanegara mencapai beberapa ratus ribu! Di candi Borobudur misalnya, saya hanya perlu membayar Rp 30.000 sementara sahabat saya harus membayar Rp 250.000. Di candi Prambanan, kasusnya sami mawon! Kalau tidak percaya, silakan lihat di situs resmi candi-candi ini.

Kata pepatah Jawa, ana rega, ana rupa, alias ada harga, ada kualitas. Kalau kita membayar lebih mahal, logikanya kualitas yang kita dapat lebih baik. Sayangnya ini tidak berlaku di tempat-tempat wisata tersebut. Paling-paling cuma jalur masuknya yang berbeda. Untuk wisatawan mancanegara, jalurnya jauh lebih lega. Wajar saja karena jumlah wisatawan mancanegara jauh lebih sedikit daripada wisatawan lokal. Tapi soal layanan, hampir sama saja. Di keraton memang kami kecipratan status wisatawan mancanegara karena pihak keraton menyediakan pemandu untuk wisatawan mancanegara. Tapi di museum dan tiga candi yang kami kunjungi (plus candi Gedong Songo), sama sekali tidak ada pemandu yang mendampingi sahabat saya dan pacarnya. Lalu apa gunanya membayar lebih mahal kalau layanan sama saja dengan yang membayar harga yang lebih murah?

Saya tidak berkeberatan membayar mahal, disamakan dengan wisatawan mancanegara, jika layanannya lebih banyak atau lebih baik. Beberapa kali saya mengunjungi tempat-tempat wisata di Amerika Serikat, Australia, maupun di Singapura (museum, kebun binatang, taman nasional, dsb.) dan tidak ada perbedaan harga tiket masuk antara orang lokal dan pengunjung asing. Paling perbedaan yang diberlakukan adalah soal usia atau status. Para pelajar, difabel, manula, atau veteran biasanya membayar jauh lebih murah. Ini wajar saja karena memang mereka adalah kaum yang dinilai berpenghasilan lebih rendah (karena masih menumpang orang tua, perlu diperhatikan kebutuhannya, sudah pensiun, menerima tunjangan sosial dari negara, atau berjasa untuk negara). Kalau perlu layanan yang lebih, misalnya penyediaan pemandu (atau alat bantu pemandu) atau area pameran yang bersifat temporer, maka pengunjung harus membayar lebih mahal.

Alangkah sangat tidak adil jika hanya karena warna kulit atau suku, kemudian terjadi pembedaan. Ini sama saja dengan diskriminasi rasial. Kalau diskriminasi ini adalah diskriminasi positif atau affirmative discrimination, saya mendukung pemberlakuannya, karena tujuan dari diskriminasi semacam ini adalah agar kelompok masyarakat tertentu (biasanya kelompok minoritas) dapat menikmati layanan-layanan atau menerima hak-hak yang biasanya tidak/sulit mereka dapatkan. Pemberlakuan harga tiket masuk yang lebih murah  ke tempat-tempat wisata untuk kaum tertentu adalah suatu bentuk diskriminasi positif, karena jika mereka disuruh membayar harga yang sama dengan kaum mayoritas, mereka tidak akan mampu membayar sehingga mereka tidak dapat menikmati tempat-tempat wisata tersebut. Ini sama dengan kebijakan yang mengharuskan partai politik untuk mempunyai 20% anggota parlemen berjenis kelamin perempuan, karena kalau disuruh berkompetisi dengan anggota parlemen yang laki-laki, mereka seringkali akan terpinggirkan karena alasan-alasan rendahnya kesempatan pendidikan, kesempatan untuk berkarir di dunia politik, dan pandangan terhadap perempuan yang terjun ke dunia politik.

Kapan kira-kira Indonesia tak akan diskriminatif lagi terhadap kaum tertentu? Saya masih optimis bahwa suatu saat berbagai jenis diskriminasi itu akan dihapuskan dan lenyap dari negeri ini. Bagaimana menurut Anda?

Advertisements

10 comments

  1. Dalam kasus ini para wisman dinilai sebagai kaum yang berpenghasilan lebih karena mampu ke luar negeri (atau mata uangnya lebih besar atau apalah) sehingga patut diperas. 👿

    Nggak, diskriminasi gak akan hilang dari negeri ini. 😐

    Like

    1. Makasih sudah bertandang kemari, Mas Erick 🙂

      Celakanya ketika mengkritik negara sendiri atau sesama warga negara, saya malah dituduh nggak perduli dengan negeri ini #malahcurhat
      Mungkin memang kecenderungan orang tidak suka kalau dirinya dikritik kali yaaaa 🙂

      Like

  2. Soal deskriminasi atau tidak, ngg agak susah ya 🙂
    Tapi di luar negeri juga begitu mbak. Pengalamanku, misalnya untuk masuk ke Grand Palace, pengunjung asing kudu bayar 500 baht. Penduduk lokal? gratis.

    Masuk Taj Mahal bayar 750 rupee. Penduduk lokal? 10 rupe saja 😀

    Tapi aku setuju, harusnya semua tempat wisata memantaskan harga dan fasilitas yang ada. Misalnya, masa iya sudah bayar 250 ribu di Borobudur tapi (misalnya) masih banyak sampah atau pedagang liar. Nggak asyik.

    Like

    1. Ana rega, ana rupa, gitu ya kalau orang Jawa bilang. Tapi trus kalau di Asia kok kecenderungannya membeda-bedakan ya? Itu Grand Palace di Thailand, Taj Mahal di India, sami mawon dengan Borobudur yang membeda-bedakan. Sementara Amerika dan Australia sejauh ini belum nemu sih yang beginian, pembedaan hanya status manula atau mahasiswa saja, bukan kewarganegaraan.

      Like

  3. Hi Mbak, numpang kasih tanggepan juga hehe. Menurut saya jadinya memang beda tipis antara local policy dan diskriminasi. Pengalaman saya ke Bali, ke salah satu Pura, bahkan charge antara sesama Indonesia (Bali dan non bali) beda harga. Pengalaman suami waktu ke Jepang, charge hotel (berbintang) lebih mahal utk warga asing dibandingkan penduduk lokal. So, mungkin ini yg disebut nilai dari uangnya dianggap sebagai apa ya hehe…

    Like

    1. Waduh, di Bali gitu ya? Jepang juga ya? Ini ada yang komen di atas (omnduut) bilang kalau di Thailand dan India juga dibedakan gitu. Sementara di Amerika dan Australia enggak. Jangan-jangan ini mental Asia gitu? #eh

      Like

  4. Indonesians can be discriminative even towards their fellow-countrymen. Temen saya pernah ke Bromo terus dibilang ‘Cina,’ gitu, buat entrance apa, saya lupa. Terus dia bilang, “Saya orang Indonesia,” orangnya ngotot bilang kalo dia itu ‘Cina,’ sampe temen saya ngeluarin KTP-nya. Sigh… Such is the social distinction in the society. Very unfair. :-/

    Like

Share your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s