Lebaran dan Kenangan

Ketupat ala Mbah

Ketupat ala Mbah

Lebaran itu urusan kenangan. Pun semua perayaan keagamaan di Indonesia.

Itu menurut saya sih. Buat saya lebaran (dan natalan, karena keluarga kami merayakannya juga), selalu mengingatkan kepada tradisi-tradisi keluarga kami, baik dari sisi ayah atau dari sisi ibu.

Di rumah mbah saya dari pihak ayah di bilangan Jalan Monginsidi, Salatiga, lebaran identik dengan berkumpulnya semua sepupu jauh dan dekat serta om-om kami yang masih lajang kala itu. Beramai-ramai menyusuri Jalan Monginsidi, belok ke arah pasar sepanjang Jalan Diponegoro, melihat-lihat toko-toko di ‘kota’, melintasi klenteng di Jalan Sukowati, mengitari lapangan Pancasila, lalu berduyun-duyun pulang melewati Jalan Kartini dan mengambil jalan pintas memasuki Asrama UKSW. Sepanjang jalan kami akan tertawa-tawa, mengomentari segala sesuatu yang kami temui di sepanjang perjalanan. Mulai jalan jam 7 malam, sampai rumah mbah jam 9. Sederhana, tapi berkesan. Entah kenapa meskipun para sepupu sering kali melemparkan wacana untuk mengulanginya dengan anak-anak kami plus sepupu-sepupu kami yang jauh lebih muda ketika berkumpul lagi bertahun-tahun kemudian, kami tak pernah mengulangi lagi tradisi itu.

Di rumah mbah saya dari pihak ibu di bilangan Kampung Renteng, Salatiga, malam lebaran hari pertama selalu diisi dengan makan ketupat  beramai-ramai dengan mbah putri, pakdhe, budhe, dan sepupu-pupu dari Malang, Jakarta, dan Salatiga. Para pakdhe dan budhe akan mengobrolkan segala rupa, dengan budhe pasar (begitu saya menyebut beliau karena beliau berjualan pecah belah di Pasar Salatiga) dan ayah saya akan melontarkan semua lelucon, mengolok-olok anggota keluarga yang lain, dan pakdhe budhe yang lain akan tertawa berderai-derai. Sementara kami para cucu duduk manis mendengarkan adu lawakan itu, tidak saling berbicara antar sepupu, dan tidak bicara ketika tidak ditanya yang lebih tua.

Saya, si tomboy pemberontak, tentu tidak menyukai sepupu-sepupu dari pihak ibu saya yang keterlaluan priyayinya dan tidak bisa diajak bermain yang serba bebas, lincah, kotor, tapi menyenangkan. Saya selalu mencuri-curi waktu untuk lebih banyak di rumah mbah dari pihak ayah, yang jaraknya cuma satu gang dari rumah mbah pihak ibu. Buat saya lebih asyik berjalan-jalan bebas mengelilingi kota Salatiga, dan di siang harinya mencari ketam di sepanjang selokan Jalan Kartini atau memanjat pohon-pohon kelengkeng di halaman SPG (sekarang SMA Negeri 3) bersama sepupu-sepupu saya dari pihak ayah. Mbah saya dari pihak ayah tidak pernah sekali pun marah ketika kami pulang berlepotan lumpur dan entah apa lagi, dan tanpa disuruh kami akan langsung beramai-ramai mandi di kamar mandi super besar gaya lama di rumah mbah yang untuk memenuhi baknya om saya harus menimba sebanyak minimal 150 timba dari sumur. Tanpa jengah, tanpa malu kami akan berjongkok serba telanjang berjajar-jajar 10 orang, sementara om saya akan menyiram kami dengan air bergiliran.

Tapi meskipun saya paling malas untuk duduk makan mengobrol di rumah mbah pihak ibu, ada satu kenangan yang tak pernah bisa saya lupakan. Ini tentang mbah putri saya dari pihak ibu dan persiapan beliau selama Ramadhan. Menonton TV sambil memangku setampah besar kacang tanah untuk dikuliti, satu demi satu. Membantu merapatkan minimal 100 selongsongan ketupat. Mengisi satu demi satu selongsongan ketupat itu dengan beras yang sudah direndam semalaman (“isi sampai setengah ketupat, lebihkan sedikit, jangan kurang!” lalu beliau akan memeriksa apakah takaran saya sudah benar). Memeriksa rebusan ketupat di dua panci super besar (harus direbus setidaknya 5 jam, tidak boleh kurang). Waktu-waktu mengupas kulit kacang dan mempersiapkan ketupat adalah waktu-waktu di mana saya bisa duduk berdua dengan mbah, mendengar berbagai cerita masa lalu beliau sejak jaman penjajahan Belanda, Jepang, PKI. Pokoknya saat-saat itu adalah salah satu waktu di mana mbah adalah milik saya sepenuhnya.

Sejak mbah putri saya itu meninggal, saya tak pernah lagi merasakan lebaran seperti yang selalu dulu kami jalankan. Pakdhe dan budhe tak lagi bertandang ke rumah keluarga besar mbah dari pihak ibu. Mereka merasa bahwa sebagai yang lebih tua, ayah dan ibu sayalah yang wajib berkunjung ke rumah mereka, dan tentu saja keluarga kecil saya tak luput dari kewajiban itu. Ketika rumah keluarga dijual dua tahun setelah mbah meninggal, semakin malas saya untuk berkumpul dengan mereka semua. Pembicaraan dengan mereka selalu tak lepas dari pencapaian material, di mana tempat kerja dan posisi di kantor/bisnis serta kepemilikan barang menjadi ukuran keberhasilan.

Lebaran tahun ini, saya memutuskan untuk tidak berkumpul dengan mereka sama sekali. Saya memilih untuk membuka rumah saya untuk teman-teman dan mahasiswa-mahasiswa saya, supaya kami bisa bercengkrama, makan ketupat dengan opor ayam dan sambal goreng, lalu mengobrol berjam-jam dengan riang dan leluasa.

Tapi karena lebaran adalah kenangan, saya memutuskan untuk membuat ketupat dengan gaya mbah putri saya: membeli selongsongan ketupat, merapatkannya satu per satu, mengisinya satu per satu, merebusnya di panci besar. Semua dengan cara yang diajarkan beliau hingga detil terkecil yang saya ingat. Sembari melakukan semua itu, saya, anak saya, dan Mas Patjar mengurai kenangan-kenangan tentang beliau, bahkan bercanda bahwa mungkin almarhumah Mbah Putri sedang berada bersama kami, mengawasi kami dengan senyum sabar dan welas asihnya yang saya rindukan itu.

Ketupat kami? Hasilnya persis seperti yang saya ingat dari kenangan saya di masa lalu: besar, padat, dan bertahan beberapa hari lebih lama daripada ketupat bikinan ibu saya setelah mbah putri meninggal. Saya anggap ini konfirmasi bahwa Mbah Putri sungguh hadir di antara kami lebaran ini.

Mbah, aku kangen!

Advertisements

Share your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s