Andai Saja…

blessings

pic taken from pinterest

Life can take a surprising turn and a series of blessing in disguise.

Hidup bisa mengambil arah yang tak terduga dengan serangkaian berkah yang tersembunyi. Pernahkah kamu merasa begitu? Semakin ke arah sini dalam hidup, saya mulai mengambil kesimpulan ini dan kejadian beberapa hari yang lalu membuat saya semakin yakin pada kesimpulan saya ini.

Jadi ceritanya, beberapa hari yang lalu, ketika saya sedang sibuk membantu lokakarya Bonita and the Hus BAND di kampus, saya bertemu dengan seorang teman semasa SMP-SMA. Kami tentu saja sudah cukup stabil dan mantap dalam profesi kami masing-masing. Dia sekarang bekerja di Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah kota saya, sesuai dengan pendidikan di bidang tehnik sipil. Sedangkan saya, sesuai dengan pendidikan di bidang bahasa, menjadi dosen di Fakultas Bahasa dan Sastra.

Yang aneh bin ajaib adalah ketika dia bertanya bidang saya, setelah bertanya saya mengajar di fakultas saya. Semula saya berpikir karena kami terhubung di Facebook sebagai teman, dia sudah mafhum di bidang apa saya bekerja. Setelah saya jawab bahwa saya dosen di Fakultas Bahasa dan Sastra, ia menampakkan raut muka terkejut. Apa pasal?

Ternyata selama ini ia mengira saya bekerja di bidang kehutanan. KEHUTANAN. Dan dia pikir, sungguh cocoklah bagi saya yang dia tahu tomboy, suka berpetualang ke alam bebas di ekstra kurikuler Pramuka, kalau akhirnya bekerja di bidang itu.

Tentu saja saya terkejut pula, dan bertanya padanya mengapa dia bisa mengira saya bekerja di bidang kehutanan. Apa yang dia katakan membuat saya terperanjat dan mungkin (sedikit) kecewa pada hidup. Dia bilang, bertahun-tahun yang lalu, setelah kami lulus dari SMA dan masing-masing mengikuti Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN), dia pernah melihat nama saya di koran lokal sebagai salah satu peserta ujian yang DITERIMA di Universitas Gajah Mada (UGM) di Fakultas Kehutanan.

Oh, no. Oh, shoot. Diterima di universitas negeri tertua dengan reputasi cemerlang di negeri ini, tentu saja adalah salah satu impian saya. Setidaknya dulu, ketika saya baru saja lulus SMA. Dan saya harus akui bahwa kehutanan adalah salah satu bidang impian saya dulu. Betapa tidak? saya suka alam bebas, saya peduli pada lingkungan. Dari dulu, hingga sekarang.

Terus terang saya sempat berandai-andai. Kalau saja saya keterima di bidang kehutanan, kemungkinan besar saya akan bekerja menggantikan ayah saya, yang bekerja di Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam, Departemen Kehutanan. Saya akan menjalani tugas-tugas beliau, menjelajahi hutan-hutan, memetakan hewan-hewan yang dilindungi, memastikan bahwa kepemilikan hewan-hewan tersebut sah, menindak yang melanggar aturan (termasuk yang melakukan pembalakan hutan, memburu hewan yang dilindungi), memberikan penyuluhan betapa pentingnya menjaga kelestarian hutan dan satwa. Atau saya akan bekerja di World Wild Fund atau Green Peace, mengadvokasi masyarakat akan isu-isu lingkungan hidup, berdemonstrasi menentang kebijakan pemerintah yang lebih berpihak pada perusahaan swasta dalam hal peruntukan hutan dan pertambangan. Indah, indah sekali khayalan saya.

Tapi…

Kalau saya diterima di Fakultas Kehutanan, nilai-nilai akademik saya pasti jeblok, karena saya tahu bahwa saya lemah dalam soal-soal ilmu pengetahuan alam. Lha wong menghapalkan nama-nama latin genus, family, dan entah apalah lagi saya betul-betul ogah. Saya memang tak pernah mengagung-agungkan pencapaian akademik, tapi kalau saya tidak menikmati belajar tentang apa yang saya pelajari, tentulah saya tak akan bahagia mempelajarinya.

Mungkin saja, saya terlewat ketika membaca pengumuman hasil UMPTN, sehingga akhirnya saya banting setir ke bidang bahasa di UKSW. Bidang yang saya tahu sejak SMA bahwa saya punya bakat di situ dan menikmati bidang itu. Kalau saya akhirnya bisa bekerja di bidang ini (dan dalam beberapa hal, menjadi cemerlang di bidang ini), itu adalah semacam arah yang tak terduga, tapi merupakan berkah yang tersembunyi. Dan saya tak menyesali arah yang tak terduga itu, bahkan sangat mensyukurinya. Toh saya masih tetap meneruskan kecintaan saya pada lingkungan dan alam bebas. Orang pun tahu saya sangat vokal dalam urusan perlindungan lingkungan hidup, setidaknya lewat kuliah yang saya berikan di kelas maupun di media sosial. Saya bahkan memutuskan untuk keluar dari pekerjaan saya yang kedua di sebuah perusahaan pertambangan walaupun gajinya sungguh berlipat dibandingkan jika menjadi dosen, karena saya tak mau menjadi alat perusahaan untuk menggerogoti gunung, hingga yang tersisa cuma lubang raksasa penuh air yang sama sekali tak bisa dimanfaatkan untuk apa pun.

Kalau kamu, apa berkah tersembunyi dalam hidupmu?

Advertisements

2 comments

  1. Ga kebayang kalo Bu Neny ga ada di FBS waktu masuk kuliah dulu.
    Bakal sebel bgt sama kelas speaking 1. Ga bakal se-enjoy sama Bu Neny deh..

    Like

Share your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s